Pdt. Weinata Sairin: Mewujudkan Kepemimpinan yang Memimpin

0
393

 

“Leadership is an action, not a position”(Donald H. Mc Gannon)

 

Pemimpin, pimpinan, kepemimpinan adalah kata-kata yang amat dikenal dalam kehidupan masyarakat bahkan sudah sejak lama. Mengapa istilah itu amat populer? Ya karena pemimpin adalah figur yang memandu dan mengarahkan sekelompok orang dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan dari organisasi itu. Dirumah ada pemimpin, yaitu ayah ibu; di lingkungan ada pemimpin : Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun Warga, Lurah, Ketua Karang Taruna; di sekolah ada pemimpin : Ketua Kelas, Kepala Sekolah, di kantor ada pemimpin dengan beragam nama. Ada Kepala Seksi, Kepala Bagian, Kepala Sub Bagian, Direktur. Di mana-mana ada pemimpin ; nama dan pola rekrutmennya berbeda-beda.

 

Ya dikelompok atau institusi manapun baik kuno maupun modern selalu ada pemimpinnya, atau yang diangkat menjadi pemimpin, menyodorkan diri untuk menjadi pemimpin. Pemimpin di masing-masing level mempunyai kriteria sendiri dalam pengangkatannya. Ada yang menggunakan persyaratan kualifikasi pendidikan, umur, pengalaman, kompetensi tertentu dalam merekrut pemimpin.

 

Keragaman sistem rekrutmen, keberbagaian dalam persyaratan memang amat tergantung dari peraturan di setiap organisasi. Lembaga-lembaga berbasis keagamaan tentu saja  memberi persyararan yang besar pada bobot keagamaannya.

 

Nama-nama pimpinan yang beragam itu : Ketua, Kepala, Direktur, Direktur Jenderal, atau juga panglima, kesemuanya berdasarkan pada tradisi dan atau diatur dalam peraturan organisasi memiliki batas waktu tertentu. Tidak ada pemimpin yang tugasnya berlangsung seumur hidup, utamanya pada organisasi modern. Kecuali ada orang-orang tertentu yang dalam masa-masa kepemimpinannya mengutak-atik peraturan yang ada untuk memberi “dasar hukum” yang _legitim_ mengakomodasi syahwat kepemimpinannya yang seumur hidup.

 

Seorang pemimpin, apapun namanya, akan berusaha keras untuk menorehkan sejarahnya dan mengukir karya terbaiknya di masa kepemimpinannya. Benjamin Franklin pernah menuangkan gagasannya dalam buku “Poor Richard’s Almanac”. Ia katakan seorang yang banyak berbuat, banyak pula melakukan kesalahan. Namun ia tidak pernah melakukan kesalahan besar yaitu tidak melakukan apa-apa.

 

Pemimpin tidak boleh tidak melakukan apa-apa karena takut salah, pemimpin harus berbuat berdasar pada visi dan kalkulasi yang ia miliki. Pemimpin tidak boleh berdiam diri saja apalagi dalam waktu yang lama. Ia harus berkata, berbuat, berdasarkan hasil pemikiran dan kontemplasinya. Ia tak bisa apatis, abai, masa bodoh, pura-pura tidak tahu. Ia mendorong dan memotivasi umat yang ia pimpin; ia terus memonitor dan sewaktu-waktu cheking on the spot. Memang ada pembagian tugas sesuai dengan jobdesc tapi pemimpin tak bisa berkata ” wah saya tidak tahu itu bukan urusan saya. Itu urusan anak buah saya”. Pemimpin harus menjadi orang yang “maha tahu” walapun global; yang detil teknis anak buah yang memberi penjelasan.

 

Pemimpin juga mengapresiasi apa yang sudah dilakukan anak buah, menghargai kreativitasnya. Ada kisah yang menarik tentang seorang Ramon Magsaysay, presiden Philipina dalam memberi kejutan bagi anak buahnya. Suatu saat sang presiden melakukan inspeksi ke sebuah proyek baru di pulau Mindanao. Presiden agak kuatir dengan kelanjutan proyek itu sejak pasokan pompa air dari luar negeri tertunda pengirimannya. Pada saat ia sampai di proyek itu ternyata proyek masih tetap berjalan dengan baik sesuai dengan jadwal. Ia di informasikan bahwa beberapa truk diesel Amerika telah dibeli lalu dibongkar dan diubah untuk digunakan menggantikan pasokan pompa air yang belum datang. Presiden memanggil Kepala PU dan bertanya : “Apakah kau yang bertanggungjawab tentang hal ini?” katanya sambil menunjuk pompa air yang dibuat seadanya itu. “Ya pak !” Jawab insinyur itu agak was-was karena ia telah memberi truk tua dan melaksanakan proyek itu dengan caranya sendiri. “Angkat tangan kananmu!” perintah Presiden. Insinyur itu mengangkat tangannya. “Ulangi sumpah jabatan ini sesudah ku ucapkan!” kata Presiden dengan wajah berseri-seri. Sang Insinyur Kepala PU merasa surprise karena ia ternyata dilantik dan diambil sumpah sebagai Wakil Menteri PU.

 

Ramon Magsaysay telah memberikan sebuah peneladanan yang amat jelas bagaimana mewujudkan diri sebagai seorang pemimpin. Ia bertindak, ia tidak hanya duduk dibelakang meja, ia memonitor jalannya proses pembangunan, ia menghargai para pembantunya, ia berfikir dan berbuat. Ia bukan sekadar melaksanakan “janji janji kampanye” dan bangga dengan hal itu. Kepemimpinan adalah *action* bukan *position*. Janganlah pemimpin itu hanya mengejar-ngejar position, tetapj melaksanakan action, action bagi kesejahteraan masyarakat yang majemuk. Dan bukan untuk diri sendiri, kelompok pendukung dan orang-orang terdekat. Ajaran agama amat jelas memberi panduan bagi umat agar mereka yang menjadi pemimpin melakukannya dengan amanah; memberi kemaslahatan bagi orang banyak. Mari bergerak maju memberi yang terbaik bagi banyak orang. Jangan hanya duduk manis dibelakang meja. Ayo wujudkan kepemimpinan yang memimpin!

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here