Tuhan Allah Tetap Setia

0
709

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Bilangan 9:15-23

(15) Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, kemah hukum Allah; dan pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api. (16) Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api. (17) Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israel pun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. (18) Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah. (19) Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat. (20) Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat. (21) Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, mereka pun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, mereka pun berangkatlah. (22) Berapa lama pun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat. (23) Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

 

Dalam bacaan ini dikisahkan pengalaman umat Israel berjalan melalui padang gurun menuju negeri yang dijanjikan Allah kepada mereka. Mereka mendirikan Kemah Suci, yang merupakan simbol kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.

Pada waktu siang ada tiang awan di atas Kemah Suci, dan pada waktu malam tiang awan itu tampak seperti api yang menerangi keadaan mereka. Melalui tiang awan Allah memberikan isyarat apakah mereka harus melanjutkan perjalanan atau tetap tinggal. Demikian dikatakan dalam ayat 23: “Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.”

Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal yang harus kita yakini.

Pertama, Tuhan tetap menyertai umat-Nya siang maupun malam. Namun, jangan kita lupa, bahwa kita harus tetap beribadah kepada-Nya. Kita harus setia. Ibadah adalah bukti paling nyata di mana kita sungguh-sungguh memposisikan diri sebagai umat-Nya.

Kedua, orang-orang beriman harus maju. Mereka tidak boleh berpuas diri lalu diam dan tidak bergerak lagi. Kita bergerak mewujudkan tindakan-tindakan pelayanan kita yang baru. Tuhan menyuruh kita bukan untuk mundur tapi maju. Hidup beriman memang harus maju. Tiap pilihan dan komitmen yang kita ambil dalam rangka pelayanan dan ibadah harus dijalankan sebagai sesuatu yang ‘maju’ bukan mundur, berhenti apalagi minggat darinya. Tuhan tidak senang dengan sikap pesimis dan sikap selalu mundur. Di dalam Tuhan, kita tak usah ragu dan takut. Ia akan menopang kita untuk maju.

Ketiga, orang beriman juga harus sabar menunggu kesempatan yang baik dan tepat. Seringkali dalam merencanakan sesuatu kita ingin buru-buru mewujudkannya, pada hal situasinya belum tepat. Akibatnya kita malah tidak mendapatkan apa-apa. Sekarang banyak orang kehilangan rasa sabarnya. Apa yang diinginkan harus segera terlaksana. Maka itu jangan heran, kalau di dalam gereja pun ditemukan orang-orang yang suka memaksakan kehendak. Tentu saja sikap seperti ini tidak akan menolong gereja untuk berkembang dengan baik. Yang terjadi justru perpecahan.

Kesabaran dalam menunggu tetap penting. Dalam proses ‘menunggu’ kita dapat mensinergikan diri. Jika tiba saatnya untuk bertindak, kita dapat bergerak secara terpadu. Tidak berjalan sendiri-sendiri. Umat Israel kadang-kadang harus menunggu beberapa hari, satu bulan atau lebih lama lagi. Tuhan ingin mereka betul-betul siap, baru berjalan lagi. Adalah berbahaya kalau kita bertindak pada hal kita belum siap dalam banyak hal. Menunggu bukanlah hal yang salah. Juga bukanlah suatu kegagalan. Karena itu, jika sesuatu rencana belum dapat diwujudkan saat itu, dan karena itu kita harus menunggu, janganlah kita kehilangan iman. Kita harus tetap tekun dalam doa dan ibadah.

Jika kita merenungkan perjalanan kita selama ini, maka tampaklah bagaimana Allah tetap setia menyertai kita. Tampak pula kemajuan-kemajuan yang telah kita capai. Namun, ada juga hal-hal yang belum dapat kita wujudkan. Tidak apa-apa. Mungkin memang kita harus menunggu waktu yang tepat. Barangkali juga Tuhan belum menghendaki kita untuk mewujudkannya, karena ada hal lain yang lebih penting menurut pandangan-Nya. Walau demikian, janganlah kita merasa pesimis dan kehilangan iman. Tetaplah berdoa.

Ingatlah, Allah tetap setia. Ia akan tetap menyertai kita dalam semua keadaan kita. Ia pula yang akan menyertai kita menjalani masa hidup kita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here