Tuhan Mengawal dan Melindungi Umat-Nya

0
725

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Keluaran 14:1-14

(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: (2) “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut. (3) Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. (4) Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.” Lalu mereka berbuat demikian. (5) Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: “Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?” (6) Kemudian ia memasang keretanya dan membawa rakyatnya serta. (7) Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. (8) Demikianlah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang dinaikkan. (9) Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. (10) Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, (11) dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? (12) Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (13) Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. (14) TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

 

Umat Israel sudah dibebaskan dari Mesir. Harapan mereka akan datangnya masa-masa pembaruan begitu besar. Allah yang telah melepaskan mereka dari cengkeraman Firaun pastilah akan menolong mereka dalam ziarah mereka yang baru. Akan tetapi betapa kagetnya mereka, ketika tiba di Pi-Hahirot, mereka terancam binasa oleh tentara Firaun yang balik mengejar mereka. Mereka menyesal telah keluar dari Mesir dan menumpahkan keluhannya kepada Musa. Kehidupan di Mesir memang berat, sebagai budak mereka menderita. Tetapi itu jauh lebih “aman”, ketimbang di tempat pelarian di mana sebentar lagi tentara Firaun akan membunuh mereka. Kalau tahu begini, mereka tidak perlu keluar dari Mesir. Biar jadi budak tapi hidup lebih terjamin.

Terpojok oleh kejaran tentara, tidak ada jalan untuk melarikan diri, siapa yang tidak panik. Mereka benar-benar ketakutan, apalagi tidak ada persiapan perang sebelumnya. Senjata untuk mempertahankan diri mereka tidak punya. Tetapi Musa meyakinkan mereka bahwa Allah cukup bertanggung jawab dengan rencana penyelamatan-Nya. Itulah sebabnya Musa berseru, “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya” (ay. 13).

Ketakutan dan kegelisahan Israel banyak juga kita alami. Kita sudah dijamin dalam keselamatan Allah melalui Yesus Kristus, tetapi kondisi-kondisi tertentu membuat kita ragu dan kehilangan keyakinan. Kesulitan-kesulitan masa kini membuat kita rasanya ingin kembali ke masa lalu, yang dianggap penuh jaminan walau sesungguhnya hidup tanpa pembebasan Allah. Lebih enak seperti dulu, segala sesuatunya ada, dibanding sekarang, makin ikut Tuhan makin susah. Tak tahan rasanya menderita terus.

Itulah ironi kehidupan di dalam iman dan suka-duka berjalan bersama Yesus. Ingin hidup baru, tetapi harus siap menghadapi badai penderitaan. Akibatnya, ada orang ketika beban hidup makin menekan, kekuatiran makin menjadi-jadi, angkat tangan dan menyerah. Kondisi makin parah ketika satu sama lain saling menyalahkan.

Sesungguhnya, perjalanan Israel menuju Kanaan adalah cara Tuhan untuk membaharui hidup mereka. Israel dikeluarkan dari “status quo” menuju kehidupannya yang lebih dinamis. Jika kita pelajari, perjalanan dari Mesir menuju Kanaan bisa melalui negeri orang Filistin (Kel. 13:17). Di jalur ini, tidak perlu melewati laut. Tetapi mengapa Tuhan menghendaki mereka melalui jarak yang jauh, lagi sulit? Mengapa mereka dibawa ke laut yang sulit untuk diseberangi. Ya, karena Tuhan ingin membina mereka dengan pengalaman yang cukup. Tuhan mau agar mereka memahami betul arti penyertaan-Nya dalam hidup mereka sebelum sampai ke tanah yang dijanjikan. Tuhan selalu setia kepada umat-Nya, baik dalam susah maupun senang. Dia mengawal dan menuntun umat-Nya setiap saat. Inilah yang mau kita renungkan di Minggu Adven Pertama ini. Di dalam Yesus Allah menunjukkan kesetiaan-Nya yang penuh itu. Di dalam Yesus, Ia benar-benar datang menyertai kita. Jadi, majulah jangan takut menjalani hidup ini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here