Batas  Loyalitas Manusia

0
555

Oleh: P. Adriyanto

 

*Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat*

*Matius 24:13*

 

 

Loyalitas atau kesetiaan terhadap sesuatu bisa bermacam-macam kadarnya. Kadar loyalitas atau kesetiaan itu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di luar diri kita.

Ambil contoh, budaya kerja seumur hidup di perusahaan-perusahaan besar di Jepang  *life-time employment*atau yang dalam bahasa Jepang disebut *shuushin kohu*  telah menimbulkan loyalitas para karyawan yang tinggi terhadap perusahaan. Namun karena terjadi resesi ekonomi dan ada kesadaran dari para pemimpin perusahaan bahwa gaji para karyawan lama semakin tinggi sedangkan produktivitas mereka cenderung terus menurun seiring dengan bertambahnya usia mereka, maka sejak tahun 2003, budaya ini sudah  banyak ditinggalkan.

Ada banyak obyek kesetiaan lain seperti kesetiaan dalam percintaan, kesetiaan suami-istri, kesetiaan terhadap produk, merk dan lain-lain yang tidak bersifat abadi.

 

Bagaimana kesetiaan manusia terhadap Tuhan? Ternyata banyak yang patah di tengah jalan. Sebagai contoh, banyak orang Kristen yang menjadi murtad. Mereka menukar kesetiaan kepada Yesus yang selalu setia mengasihi mereka, dengan rasa yang lebih aman, cinta kepada seseorang, jabatan, jaminan kesejahteraan, promosi jabatan, dll. Padahal, bagi setiap orang yang dituntut adalah kesetiaan.

*”Sifat yang diinginkan pada seseorang adalah kesetiaannya.”*

*Amsal 19:22*

 

Kesetiaan kepada Tuhan akan timbul bila kita benar-benar mematuhi-Nya dengan segenap hati. Kita wajib mematuhi Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah-Nya.

*”TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang  pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut.”*

*Ulangan 13: 4*

 

Kita akan menerima berkat-berkat rohani karena kita patuh dan setia kepada Tuhan. Kita akan menjadi *harta kesayangan Tuhan* (Keluaran 19: 5), kita

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

akan *tinggal di dalam kasih-Nya* (Yohanes 15:10), dan kita akan *menjadi sahabat Kristus*(Yohanes 15:14).

Berkat-berkat non rohani antara lain:

 

• berumur panjang (Ulangan 32:46~47)

• hidup mujur dan senang

(Ayub 36:11). Dalam keadaan menderita, Ayub tidak mengutuk Allah seperti yang dilakukan istrinya. Ayub tetap mempunyai pengharapan yang kuat kepada Allah. Walaupun tubuhnya kembali menjadi debu, Ayub tetap memandang Allah yang hidup. Ia  percaya akan janji pemulihan dari Allah. Ayub adalah tokoh Perjanjian Lama yang dapat kita jadikan teladan, bagaimana seharusnya kita setia kepada Tuhan dalam keadaan susah dan senang.

 

• nyawa kita akan terpelihara (Yeremia 38:20)

 

Bila kita setia kepada Tuhan, kita harus berserah kepada-Nya dan membiarkan kehendak-Nya dalam segala aspek kehidupan termasuk segala rencana kita. Itulah sebabnya kita harus berkata *”Insya Allah”*yang artinya jika Tuhan menghendaki (Yakobus 4:15).

Jangan alergi dengan kata-kata bahasa Arab di atas, saya menaruh respect kepada sahabat-sahabat Muslim, yang selalu tidak lupa mengucap Insya Allah sebelum melakukan sesuatu.

Amin.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here