Membangun Gereja Sebagai Tubuh Kristus

0
2857

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

Efesus 4:11-16
(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. (16) Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Di setiap warung atau restaurant ada koki dan pelayan mejanya. Tanpa koki dan pelayan meja kita tidak dapat memesan makanan apapun. Sama seperti warung atau restaurant, gereja pun membutuhkan pelayan-pelayan (Pendeta, Majelis, Pengurus Komisi, Guru-guru Sekolah Minggu, dan lain sebagainya). Tuhanlah yang menyediakan dan memberikan ‘hamba-hamba’-Nya itu. Ayat 11 berbunyi: “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”

Tapi ada perbedaan antara warung / restaurant dengan gereja. Tanpa koki dan pelayan meja, warung atau restaurant tidak bisa jalan. Terpaksa ditutup. Gereja tidak demikian. Gereja tidak boleh bergantung pada Pendeta, Majelis dan pelayan lainnya. Kenapa? Inilah alasannya: karena pelayan-pelayan gereja diberikan Tuhan “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (ayat 12). Ini berarti bahwa pelayan-pelayan gereja tidak boleh memonopoli pekerjaan pelayanan, sehingga kalau mereka tidak ada lantas pekerjaan pelayanan tidak berjalan.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

Kita mungkin berkata, “Enak dong punya pendeta atau majelis yang rajin berkunjung, melawat, mengetik bahan renungan, liturgy, dan lain-lain. Kita tinggal terima beres.” Tapi ternyata Alkitab tidak berbicara begitu. Alkitab memberitahukan bahwa tugas pokok pelayan gereja adalah: Memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan. Tugas paling penting dari para pelayan bukan melakukan semuanya, melainkan mendorong dan memampukan semakin banyak warga jemaat terlibat dalam pekerjaan pelayanan itu!
Ya, pendeta dan majelis tetap harus berkunjung dan melayani. Akan tetapi mereka tidak boleh memonopoli pekerjaan itu, seakan-akan hanya mereka saja bisa melaukannya. Justru di sinilah kegagalan para pelayan, jika mereka tidak pernah melibatkan dan melatih orang lain untuk melakukan pekerjaan pelayanan. Memang ada pekerjaan-pekerjaan pelayanan tertentu yang tidak dapat dilakukan oleh warga jemaat pada umumnya. Misalnya tugas membaptis, melayankan perjamuan kudus dan beberapa tugas khusus lainnya. Tugas ini hanya dilaksanakan oleh pendeta, sesuai dengan panggilan khususnya. Tetapi untuk bidang pelayanan yang lain, jemaat harus dilibatkan.

Ada jemaat yang selalu direpotkan dengan persoalan penambahan tenaga pendeta ataupun majelis. Mereka menambah tenaga pelayan karena mereka kuatir pekerjaan pelayanan akan terbengkalai. Padahal, sebenarnya, pekerjaan pelayanan yang dimaksud dapat mereka lakukan sendiri. Tapi karena mereka tidak pernah terlatih untuk melakukannya, mereka selalu bergantung pada pendeta dan majelis.

Kalau begini, siapa yang salah? Yang salah adalah para pelayannya yang tidak pernah mempersiapkan mereka untuk terlibat dalam pekerjaan pelayanan. Mereka tidak dilatih untuk terlibat dalam kunjungan, dalam perlawatan, dalam kedukaan dan sebagainya.
Melibatkan jemaat itu penting supaya mereka terlatih untuk saling melayani. Ternyata, membangun gereja (Tubuh Kristus) dalam arti yang sebenarnya adalah menggalang jemaat untuk saling melayani. Iman jemaat bertumbuh, ketika jemaat hidup saling melayani. Pertumbuhan iman bukan diukur dari gedung gereja yang megah, organisasi yang mantap dan fasilitas yang cukup, tetapi diukur dari seberapa aktif jemaat terlibat dalam pekerjaan pelayanan.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

Selain itu, jemaat harus diarahkan dan dibina supaya mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (ayat 13). Jemaat bukan hanya dibina sebatas untuk terlibat dalam pekerjaan pelayanan tapi juga supaya mereka hidup dalam kedewasaan iman. Kedewasaan ini diperoleh dari penyerahan dirinya kepada Yesus secara total. Dengan begitu, mereka tidak mudah terpengaruh dan diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran palsu. Kehidupannya yang penuh dalam Kristus akan memampukan mereka bersikap kritis terhadap segala sesuatu yang datang kepadanya.

Tampaklah kepada kita bahwa membangun gereja yang adalah Tubuh Kristus merupakan proses melibatkan sebanyak mungkin jemaat dalam pekerjaan pelayanan sambil mengarahkan mereka pada kedewasaan imannya. Gereja akan benar-benar bertumbuh, jika jemaatnya hidup dalam dinamika seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here