Perpuluhan (Maleakhi 3:10) (Relevansinya dalam konteks kekinian: Pembinaan Warga Jemaat, GPIB “PILAR ASIH” Bekasi).

0
1540

Oleh: Pdt. Jacobus Manuputty

1. Pengantar :

Untuk memahami arti dan makna Persepuluhan didalam kehidupan umat dan Gereja masa kini, maka kita tidak boleh melepaskan dari konteksnya masa lalu didalam Perjanjian Lama(PL). Dan itu yang terus menjadi pertanyaan, apakah Persepuluhan masih relevan bagi kita masa kini, bukankah itu tuntutan Taurat dimana pengorbanan Yesus dikayu salib telah meniadakan pengorbanan yang lain? Dengan tegas kita harus katakan tetap relevan, karena Tuhan dan Firman-Nya “Ya dan Amin” kekal tak berubah selama-lamanya. Tuhan itu Allah masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Bahkan Yesus sendiri dengan tegas mengatakan bahwa : “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya(Matius 5:17). Karena itu, Gereja dan umat Allah masa kini harus dengan cerdas mau belajar memahami relevansinya dalam konteks masa kini, agar berguna bagi perkembangan Gereja itu.

2. Latar Belakang Teologis :
a. Teologi dibalik seluruh persembahan umat Allah Israel ialah bahwa tanah, tumbuh-tumbuhan, harta kekayaan dan uang adalah milik Allah. Umat menerimanya sebagai Anugerah Allah, dan karena itu umat bergantung sepenuhnya kepada Allah(Ulangan 7:7,8; 8 dan 8:17,18)
b. Khusus untuk Perpuluhan, itu dipersembahkan kepada suku Lewi yaitu golongan yang khusus melayani di kemah suci atau Bait Allah, karena mereka tidak memiliki tanah dan harta kekayaan lainnya. Kepada merekalah sebenarnya awalnya persembahan Perpuluhan itu diperuntukan, tetapi kemudian alami pergeseran kepada orang-orang miskin, para janda, yatim piatu(Bilangan 18:21).

3. Landasan Alkitabiah :
Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu kedalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan dirumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan(Maleakhi 3:10). Imamat 27:30-32; Bilangan 18:21, 26; Ulangan 14:22-29; Matius 6:19-24; 2 Korintus 8:1-5; Kolose 3:5). Sebuah statemen yang jelas, tegas dan penuh kuasa dari Tuhan kepada umat-Nya, dalam kaitan dengan bagaimana cara umat memandang harta, kekayaan dan materi dihadapkan dengan kewajiban dan tanggung-jawab Iman umat kepada Tuhannya. Hal ini perlu dipertegas untuk terus mengingatkan umat Allah, agar jangan sampai mereka melupakan Tuhannya apabila nanti berkat-berkat Tuhan dilimpahkan didalam hidup mereka dari waktu ke waktu. Sebab harta, kekayaan, uang dan materi adalah berkat dan anugerah Allah yang harus digunakan juga untuk kepentingan pekerjaan Allah didunia ini. Tetapi apabila tidak diwaspadai bisa berubah menjadi “mammon” atau “dewa” yang bisa membuat umat melupakan dan meninggalkan Tuhannya, inilah bahaya yang harus selalu terus diingatkan kepada umat dan Gereja-Nya. Yesus sendiri tidak menentang Persembahan Persepuluhan, tetapi lebih menekankan pada substansinya, yaitu perhatikan juga keadilan, belas kasihan dan kesetiaan(Matius 23:23,24).

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

4. Relevansi Pemahaman dalam Konteks Kekinian :

a. Belajar memahami “isihati Allah” :
Dalam kaitan dasar pemahaman itulah, maka Gereja dan umat Allah harus belajar memahami “isi hati Allah”, “harapan dan keinginan Allah” bagi diri dan hidup mereka, dalam hal mereka bersikap dan hidup dihadapan Allah dengan segala kekayaannya. Intinya, umat boleh menikmati berkat-berkat Tuhan secara bebas tetapi tidak boleh melupakan Tuhannya, tidak boleh mensejajarkan kekayaan mereka dengan Tuhannya, tidak boleh menjadikan itu “mammon atau dewa” yang disembah disamping Tuhannya. Karena itu jadikan kekayaan yang adalah berkat Tuhan sebagai alat bukan tujuan didalam hidupmu, dan pergunakan itu sehingga nama Tuhan dipermuliakan dan kekayaan punya nilai manfaat bagi sesama. Artinya, jangan sampai harta dan kekayaan itu mendominasi seluruh akal pikir kita sehingga Tuhan dikesampingkan atau dinomor-duakan dan Tuhan diabaikan, karena orientasi kita pada harta kita.

b. Segala sesuatu adalah milik Tuhan 100% :
Kita harus ingat bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan bukan milik kita sendiri, dan Tuhan telah mempercayakan semua itu kepada kita, bahkan Dia bisa mengambil semuanya dari kita. Kita hanya diberi kepercayaan sebagai pengelola bukan pemilik, sebagai mandataris Allah untuk menatalayani kekayaan milik Allah itu dengan bijak dan bertanggung-jawab. Dalam konteks hidup ber-Gereja dan ber-Jemaat, kita harus memutuskan didalam hati untuk melayani Allah dan pekerjaan-Nya yang dipercayakan kepada kita bersama. Artinya, selama kita ada didalam Gereja dan Jemaat Tuhan maka kita punya tanggung-jawab Iman, sehingga seluruh harta kekayaan kita “sepersepuluhnya” harus disucikan, karena itu adalah milik Allah yang tidak boleh kita ambil. Bukankah Tuhan sudah berikan 90% dari harta kekayaan, uang dan materi yang sebenarnya 100% milik Tuhan itu kepada kita untuk dinikmati.

Baca juga  Kebiasaan Hidup yang Membawa Kebahagiaan: Memilih untuk Bersukacita

c. Umat harus turut bertanggung-jawab :
Kehadiran umat didalam Gereja dan Jemaat Allah itu bukan kebetulan, bukan juga karena tuntutan hidup dan pekerjaan maka kebetulan saja kita ada di GPIB Jemaat “PILAR ASIH” ini. Tetapi Tuhan yang mengantar kita dan menempatkan kita didalam jemaat ini, untuk turut bertanggungung-jawab dengan segala pekerjaan Tuhan yang ada. Tuhan beri kepercayaan kepada kita untuk turut bertanggung-jawab dengan penuh sukacita terhadap pekerjaan Gereja-Nya sebagai kehadiran “Tubuh Kristus” didunia ini. Atas dasar itulah maka Tuhan menyalurkan berkat2-Nya lewat pekerjaan-pekerjaan kita, Tuhan memberi berbagai kelimpahan anugerah dan berkat-berkat-Nya, Tuhan tidak henti-hentinya memberkati seluruh upaya dan kerja-kerja kita. Disinilah kita terpanggil untuk turut serta dalam arak-arakan keselamatan itu. Jangan ada yang tertinggal, jangan mau ketinggalan atau ditinggalkan dalam rencana indah Tuhan ini.

5. PERPULUHAN ADALAH HAK TUHAN :
Alkitab dengan jelas mengingatkan kita bahwa apa yang sudah Tuhan tetapkan, jangan kita abaikan. Jangan kita ambil hak Tuhan, sementara yang Tuhan berikan saja sudah mencukupi bahkan kadang berkelimpahan. Mari dengan sukacita kita ramai-ramai datang membawa “Persembahan Persepuĺuhan yang adalah “HAK TUHAN” itu kerumah perbendaharaan. Bagi yang belum melakukan, berjanjilah kepada Tuhan untuk mau memulainya. Bagi yang sudah melakukannya dengan setia peliharalah itu, mintalah kekuatan dari Dia agar kesetiaan itu terpelihara . Mari kita uji semua ucapan Tuhan, apakah Ya dan Amin, ataukah kita masih sangsi akan janji-janji Tuhan bagi kita. Mari kita jaga hati kita agar jauh dari sikap keserakahan, agar jangan sampai hak Tuhanpun kita ambil(Kolose 3:5). Berikan sepersepuluh dari segala yang ada pada kita, karena itu milik Tuhan yang harus kita persembahkan kepada-Nya(Maleakhi 3:8-10).

Baca juga  Kebiasaan Hidup yang Membawa Kebahagiaan: Memilih untuk Bersukacita

6. Penutup :
Demikian uraian singkat memahami Perpuluhan dalam konteks kekinian didalam Gereja dan Jemaat Tuhan di GPIB “PILAR ASIH” Bekasi Timur.

* – Tidak memberikan Perpuluhan berarti serakah, bagai orang yang merampok Allah.
– Memberikan Perpuluhan sebenarnya belum memberikan apa-apa.
– Memberi Perpuluhan kita cuma bayar hutang. (Billy Graham).

Selamat Ber-Ibadah, Tuhan Memberkati kita! Gb. jm. 300817.
GPIB Jemaat ” PILAR ASIH”, Bekasi Timur. Pkl. 19.00.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here