Rela Menderita Untuk Kebaikan

0
915

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

1 Petrus 3:13-17
(13) Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? (14) Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. (15) Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, (16) dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. (17) Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

Sudah lebih dari tujuh puluh tahun kita merdeka, tapi kondisi yang kita alami sekarang ini sepertinya belum mencerminkan nilai-nilai kemerdekaan yang sesungguhnya. Dada jadi sesak rasanya mengingat apa yang terjadi akhir-akhir ini. Pengorbanan para pejuang bangsa kita dulu, sepertinya tidak mendapat ‘harga’ lagi di antara generasi penerusnya di masa kini. Yang terjadi kini adalah saling menindas dan saling menghancurkan satu sama lain. Dalam kondisi seperti itu, kita, gereja, meskipun sering menjadi korban, harus tetap menunjukkan sikap patriotisme kita selaku warga Negara yang bertanggung jawab. Kita harus siap menderita untuk kebaikan bangsa ini.
Menjadi orang Kristen itu harus siap menderita untuk kebaikan. Ada banyak kiasan yang dipakai dalam Alkitab untuk menjelaskan betapa orang Kristen itu harus berjuang dan bahkan harus siap menderita demi kebaikan. Dalam 2 Timotius 2:3-6 Paulus memakai beberapa kiasan untuk menggambarkan kehidupan orang Kristen. Pertama, kita dikiaskan sebagai seorang prajurit: Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. Kedua, kita dikiaskan sebagai seorang atlit (olaragawan): Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. (Bandingkan dengan Ibrani 12:1 di mana kita sebagai atlit diajak berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Ketiga, kita dikiaskan sebagai petani yang harus berusaha dengan ulet: Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

Dari kiasan-kiasan di atas, jelaslah bahwa orang Kristen bukanlah orang yang hanya berpangku tangan, bukanlah orang yang hanya menunggu rejeki nomplok, dan bukanlah orang yang hanya berdoa saja. Kita adalah orang yang ora et labora (berdoa dan bekerja). Untuk mendapatkan sesuatu yang baik kita harus berjuang. Kita harus rela menderita lebih dahulu. Jadi menjadi orang Kristen itu tidak boleh malas dan berlamban-lamban.
Tapi yang lebih penting dari kiasan-kiasan di atas adalah bagaimana kita harus siap berjuang dan siap menderita untuk iman kita. Iman berhubungan dengan Tuhan dan kebenaran-Nya. Dalam dunia kita yang penuh dosa dan kejahatan ini, seringkali kita merasa sulit untuk mewujudkan kebenaran Tuhan. Kalau kita bertahan, godaannya banyak. Apalagi sekarang ini segala sesuatu terbuka dan bebas untuk dilakukan. Orang melakukan seks bebas asal suka sama suka, orang boleh memakai obat terlarang karena dapat diperoleh di mana saja, orang main judi tinggal pilih model apa. Yang penting enak, ayo kita lakukan. Siapa yang larang? Badan, badan saya. Mulut, mulut saya. Uang, uang saya kok! Bukan itu saja, korupsi merajalela di mana-mana. Lalu orang pun berpikir: mumpung ada kesempatan, jangan lewatkan! Bahkan suap-menyuap mulai dilakukan dengan terang-terangan, apakah untuk mendapatkan pekerjaan, masuk sekolah dan perguruan tinggi ataupun dalam pengurusan surat-surat penting, semuanya tidak terlepas dari suap. Di mana-mana orang berkilah: daripada susah, daripada menunggu lama, korban duit dikit nggak apa-apalah, yang penting lancar!

Banyak orang Kristen tidak sanggup menghadapi godaan-godaan itu, lalu ikut dan terjerumus di dalamnya. Kalau tidak ikut kita dibilang bodoh, kuno dan ketinggalan zaman. Kalau kita bertahan dalam iman dan kebenaran Tuhan, kita dikucilkan dan kadang kita menjadi korban. Memang, hidup teguh dalam iman dan kebenaran Tuhan resikonya besar dan berat. Namun demikian jangan kuatir dan jangan putus asa. Firman Tuhan hari ini hendak menguatkan kita: “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar” (ayat 14).

Kita tidak dapat bertahan dengan mengandalkan kekuatan kita. Untuk itu kita dinasihatkan: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” (ayat 15). Sumber kekuatan kita untuk bertahan adalah Kristus. Undanglah Dia masuk dalam hati kita. Berdoalah dan peliharalah hubungan dengan Tuhan setiap saat. Dia akan memampukan kita untuk mewujudkan kebenaran-Nya. Selain itu, dengan Dia kita akan dapat mempertanggung jawabkan iman kita kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang memfitnah kita karena kebenaran yang kita pegang teguh.

Akhirnya biarlah kita ingat apa yang dikatakan dalam ayat 17: “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here