Jangan Meremehkan Perintah Tuhan

0
1644

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

 

Yesaya 29:9-16

(9) Tercengang-cenganglah, penuh keheranan, biarlah matamu tertutup, buta semata-mata! Jadilah mabuk, tetapi bukan karena anggur, jadilah pusing, tetapi bukan karena arak! (10) Sebab TUHAN telah membuat kamu tidur nyenyak; matamu — yakni para nabi — telah dipejamkan-Nya dan mukamu — yaitu para pelihat — telah ditudungi-Nya. (11) Maka bagimu penglihatan dari semuanya itu seperti isi sebuah kitab yang termeterai, apabila itu diberikan kepada orang yang tahu membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat, sebab kitab itu termeterai”; (12) dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.” (13) Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, (14) maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (15) Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: “Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?” (16) Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: “Ia tidak tahu apa-apa”?

 

Jangan meremehkan perintah Tuhan, karena akan berakibat fatal bagi siapa pun. Jika Tuhan memberi perintah, itu tidak lain dan tidak bukan hanya untuk kebaikan manusia. Ia inginkan manusia selamat. Akan tetapi jika perintah-Nya diremehkan ia akan murka. Tuhan memiliki ‘batas kesabaran’ juga.

Baca juga  Kebiasaan Hidup yang Membawa Kebahagiaan: Memilih untuk Bersukacita

Apakah yang dimaksud dengan meremehkan perintah Tuhan? Pertama, tidak megindahkan perintah-Nya. Kedua, berlagak sok taat pada hal tidak. Pada bacaan kita kali ini, kemurkaan Tuhan condong pada alasan kedua (ay 13). Umat Allah seolah-olah taat dan beribadah kepada-Nya, padahal hatinya menjauh dari Allah. Mereka seolah-olah mengikuti perintah-Nya padahal hatinya takluk pada perintah manusia. Akibatnya, Tuhan murka. Kata-kata nabi Yesaya mencerminkan kemurkaan Tuhan itu: “Tercengang-cenganglah, penuh keheranan, biarlah matamu tertutup, buta semata-mata! Jadilah mabuk, tetapi bukan karena anggur, jadilah pusing, tetapi bukan karena arak! Ungkapan-ungkapan di atas mengiaskan rasa kaget dan bingung karena Tuhan berhenti bersabar kepada Israel. Kekagetan dan kebingungan mereka dikarenakan tertutupnya kemungkinan menerima anugerah Tuhan bagi mereka. Seperti seorang yang tidak dapat membuka dan membaca sebuah kitab karena telah termeterai (tersegel), demikianlah mereka kehilangan kesempatan dari Tuhan.

Apa yang dilakukan Tuhan dalam murka-Nya? Keajaiban yang menakjubkan! Keajaiban di sini adalah sebuah sindiran kepada Isarel. Yang akan terjadi sesungguhnya adalah hukuman yang tidak bisa diperkirakan oleh orang-orang berhikmat dan arif yang ada di antara mereka. Murka Tuhan semakin nyata dalam ucapan “Celakalah …” (ay 14 dst.). “Celakalah …” adalah ungkapan kemarahan Tuhan karena ‘batas kasabaran-Nya’ telah habis. Bagaimana Tuhan tidak akan marah melihat kejahatan dan kebebalan umat-Nya dari waktu ke waktu? Mereka merancang kejahatan dan berpikir tidak ada yang melihatnya (ay 15). Mereka memutarbalikkan segala sesuatu seakan-akan mereka lebih berkuasa dari Tuhannya (ay 16).

Jangan meremehkan perintah Tuhan. Akibatnya amat fatal. Untuk itu jangan lakukan apa pun yang melawan Tuhan, apakah itu tindakan kejahatan maupun tindakan kebebalan. Jikalau kita telah melakukannya, maka segera hentikan dan akuilah semuanya di hadapan Tuhan sebelum kita kehilangan kesempatan dan anugerah-Nya.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here