Bersama Menghadapi Tantangan dan Perubahan

0
1978

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Filipi 3:12-14

(12) Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. (13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

 

Ratusan tahun sebelum Tuhan Yesus lahir, seorang filsuf Yunani, bernama Herakleitos, pernah mengatakan bahwa segala sesuatu terus bergerak, terus mengalir dan terus berubah. Tidak ada yang tidak berubah. Bahkan menurut Herakleitos, sesuatu yang tampaknya tidak berubahpun sebenarnya merupakan hasil dari perubahan. Jadi, kita, manusia, terus-menerus berada dalam proses perubahan. Ingat dua kata ini: proses dan perubahan.

Proses artinya sesuatu yang kita alami sedang berlangsung secara gradual, secara sedikit demi sedikit dan atau secara tiba-tiba (mendadak). Sesuatu yang berproses kadang kita tidak tahu dan tidak kita rasakan. Di sinilah bahayanya. Kita tidak menyadari sesuatu sedang berproses, kita baru sadar setelah merasakan dampaknya. Ya, seperti penyakit kanker, kita tidak merasakan prosesnya yang berlangsung bertahun-tahun, tahu-tahu tubuh kita sudah menjadi lemah. Setelah didiagnosa oleh dokter, kanker dalam tubuh kita sudah sampai pada stadium tiga.

Hidup kita berada dalam suatu proses yang membawa kita pada suatu perkembangan. Proses yang kita alami sekarang ini, seperti yang sering kita dengar, adalah proses globalisasi. Proses ini harus kita hadapi dan sikapi secara bijaksana. Bagaimana kita menghadapinya? Paulus, dalam Roma 13:11-12 berkata: “Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” Paulus menasihati kita untuk ‘membaca’ proses perubahan yang terjadi lalu kits berbenah diri. Kita harus bangun dari tidur, artinya kita harus siap menghadapi proses perubahan yang terjadi. Sebagai orang beriman kita harus memperteguh iman kita. Kita harus meningkatkan kehidupan beribadah dan kesaksian kita. Kita harus memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Untuk Tuhan Yesus bersabda kepada kita begini: “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.” Kita harus bergerak cepat dan tanggap, kita tidak boleh berlamban-lamban lagi. Saat sekarang ini adalah saat di mana kita harus bekerja dan melayani.

Itulah proses yang kita alami sekarang ini. Selanjutnya, apa perubahan yang sedang terjadi dalam era kita (era globalisasi) sekarang ini? Era kita sekarang ini adalah era yang penuh kontradiksi. Era di mana terjadi banyak kemajuan tapi juga sekaligus memperlihatkan banyak kemunduran. Bangsa kita contohnya. Sudah berkembang jauh lebih maju, tapi perilaku bermasyarakatnya mundur ke belakang. Kita hidup seperti di hutan belantara dengan hukum rimba yang mengerikan. Kita masih mempercayai takhyul-takhyul. Tayangan-tayangan di Televisi tidak lepas dari cerita mengenai hantu-hantu.

Selain itu keadaan kontradiksi itu tampak dalam kenyataan banyaknya orang yang menghambur-hamburkan uangnya untuk kemewahan dan kejayaannya, sementara banyak orang lain yang menderita kelaparan. Kehidupan beragama makin maju, tapi korupsi merajalela di mana-mana. Sampai-sampai lembaga keagamaan yang seharusnya menjadi lembaga penjaga moral, justru terjerat dalam kasus ‘penguapan’ uang yang cukup besar jumlahnya.

Era globalisasi yang seharusnya menjadi ajang perubahan untuk saling mempersatukan, ternyata menciptakan kehidupan yang terkotak-kotak. Yang menyedihkan, agama justru ikut memainkan peran kepada terjadinya pengkotak-kotakan itu. Banyak orang beragama hidup dalam sentiment primordialisme dan fanatisme ekstrim.

Bagaimana gereja menghadapi tantangan perubahan ini? Gereja harus memberikan teladan kepada masyarakat. Gereja tidak boleh ikut menjadi sama dengan dunia. Untuk itu gereja harus membaharui diri dan kesaksiannya agar dapat memberikan daya pikat bagi orang lain. Bagaimana kita dapat membaharui diri kita? Kita harus belajar dari Paulus. Kata Paulus: “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku” (Filipi 3:13). Hati Paulus tidak mau tertumbuk pada penderitaan masa lalunya. Yang ia pikirkan adalah bagaimana ia terus bekerja dan melayani dalam waktu-waktu yang ada di depannya.

Bila gereja melayani dalam semangat Paulus ini, kesaksian gereja akan semakin hidup meskipun tantangan yang dihadapinya begitu besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here