Kematian Yang Berharga

0
1482

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Yohanes 19:28-42

(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia — supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci –: “Aku haus!” (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. (31) Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. (32) Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; (33) tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, (34) tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (35) Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. (36) Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.” (37) Dan ada pula nas yang mengatakan: “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.” (38) Sesudah itu Yusuf dari Arimatea — ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi — meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. (39) Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. (40) Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. (41) Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. (42) Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

 

Yesus disalibkan di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. Inilah episode dari kehidupan Yesus yang mengerikan. Dalam bacaan ini dituturkan bagaimana Yesus akhirnya mengalami kematian. Sesudah Yesus meminum anggur asam, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya (ayat 30). Satu kematian yang tragis dan mengerikan! Namun menjadi peristiwa penting dalam kehidupan orang beriman. Itulah sebabnya peristiwa ini dimasukan sebagai salah satu butir pengakuan iman Kristen: “Ia turun ke dunia orang mati!”

Kematian Yesus bukanlah kematian biasa. Tidak mengherankan jika pada Jumat Agung jutaan orang Kristen menghadiri kebaktian untuk menghormati peristiwa itu. Hari Jumat Agung di satu pihak adalah hari duka yang dalam, tapi pada pihak lain hari itu merupakan hari yang penuh harapan. Kematian Yesus memberi penghiburan bagi manusia yang hidup dalam penderitaan. Kematian-Nya sangatlah berharga karena Ia mati melalui penyerahan diri-Nya kepada Allah. Siksaan dan derita yang ditanggungkan kepada-Nya tidak mampu merenggut hati-Nya yang selalu terpaut pada Bapa-Nya. Ia masuk ke dalam kerajaan maut, tapi hati-Nya tidak. Hati-Nya terikat pada kerajaan Allah. Ia turun ke dalam dunia orang mati, tetapi Roh-Nya mengarah kepada dunia sorgawi. Ialah satu-satunya yang turun ke alam maut tapi tidak dapat ditaklukkan oleh maut. Karena itu Dialah satu-satunya yang dapat menjamin kita keluar dari alam maut ketika kita mati.

Kematian Yesus di Golgota disimbolkan dalam bentuk salib. Dengan demikian salib bukanlah sekedar lambang penghias leher (kalung) atau rumah (gambar atau tanda salib di dinding). Bagi orang Kristen, salib pertama-tama adalah lambang yang menunjuk kepada sengsara manusia sepanjang masa. Sengsara manusia akibat penindasan, kelaparan, kemelaratan, bencana, penindasan secara paksa, perceraian dan lain sebagainya. Bahkan salib juga menunjuk pada derita manusia yang terpinggirkan dan kehilangan harapan.

Baca juga  FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Namun, di tengah penderitaan itu, salib juga menjelaskan datangnya pembebasan dalam diri Yesus Kristus. Siapa memandang salib dalam iman akan mendapat penghiburan, kekuatan dan pertolongan Ilahi. Seorang ibu yang terbaring di rumah sakit karena kanker yang tak dapat disembuhkan menjadi kuat karena keyakinannya pada salib Kristus. Ketika rekan-rekannya datang membesuknya, ibu berguman: “Hanya Dia yang tergantung di salib itu yang mampu mengerti deritaku. Itulah penghiburanku!”

Peristiwa salib yang kita junjung pada Jumat Agung menawarkan keselamatan, kemenangan dan kegembiraan kepada kita. Salib bukan hiasan semata tapi menjadi tanda yang khas dalam kekristenan karena melalui lambang itu kita mengingat peristiwa dasariah bagi iman kita.

Ketika menghadapi kesulitan dalam menata perdamaian bagi seluruh kekaisaran Romawi, pada suatu malam Kaisar Konstantin Agung bermimpi dan melihat salib yang bercahaya dengan tulisan: “In hoc signo, vinces!”, artinya “Di dalam tanda salib ini, engkau akan menang!” Bahkan di kota Swiss, terpancang satu salib yang terbuat dari marmer. Di situ ada tulisan yang berbunyi: “In cruce spes”, artinya “Pada salib ada harapan.”

Dari salib hati kita beroleh pengampunan, cinta, damai dan kebahagiaan. Dari salib kita beroleh kekuatan dan semangat hidup baru di tengah penderitaan yang kita alami.

Lihatlah salib dan hayatilah pengorbanan dan kematian Yesus demi pembaharuan hidup kita. Yakinlah bahwa ketika kita memandangnya, Yesus menawarkan kasih dan pemulihan-Nya bagi kita. Ia memang mati untuk kebaikan kita. Hanya Dialah yang telah mati dengan makna seperti itu. Kematiannya sungguh berharga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here