Tekun Memikul Salib

0
335

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Ibrani 12:1-11

(1) Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (2) Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. (3) Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. (4) Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. (5) Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. (6) Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (7) Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. (8) Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. (9) Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. (10) Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. (11) Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

Baca juga  Sinergitas LAI dengan Gideon

 

Kehidupan kita sebagai orang Kristen mempunyai tujuan, yaitu hidup dalam kesatuan dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian, kita adalah peziarah yang terus berjalan menuju tujuan itu. Dalam peziarahan tersebut patutlah kita bertanya terus, “Apakah hari ini saya lebih maju dari kemarin?”

Kita mempunyai banyak contoh bagaimana orang-orang beriman sebelum kita telah berjuang dengan teguh demi iman mereka. Penulis surat Ibrani menyebut mereka sebagai saksi yang tidak kelihatan, seperti awan yang mengelilingi kita. Saksi-saksi itu adalah mereka yang telah menang dalam pertandingan imannya. Perjuangan mereka dapat memberi inspirasi bagi kita dalam memperjuangkan iman kita ke arah yang lebih baik.

Untuk meningkatkan “mutu” iman kita dari hari ke hari, maka kita harus berani melawan rintangan dalam diri kita. Rintangan itu adalah dosa yang dapat menjadi beban hidup orang beriman. Kita harus membuang beban dosa itu agar kita dapat bertanding lebih baik. Seperti seorang atlit yang bertanding, dia tidak akan membebani dirinya dengan hal-hal berat supaya dia dapat berlari dengan kencang.

Melawan dosa bukanlah hal mudah. Kita harus melakukannya dengan tekun dan sabar, sambil terus memandang kepada Yesus. Sebab, bagaimana pun kukuhnya kita melawan dosa, tapi jika kita kehilangan orientasi pada Yesus, maka semuanya akan sia-sia.

Lagi pula, kesabaran di sini bukan berarti duduk menunggu dan bertopang dagu saja. Sebaliknya, kita harus mengambil sebuah keputusan secara matang dan terus bertindak. Ini berarti, perjuangan iman kita membutuhkan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua hal itu adalah pertolongan Tuhan dan upaya kita untuk memperbaiki diri.

Dalam semuanya ini, kita mempunyai teladan utama yaitu Yesus Kristus. Kita tahu bahwa dalam mencapai tujuan-Nya, Yesus sabar menanggung penderitaan-Nya. Ia siap menanggung setiap resiko yang muncul dalam setiap perjuangan-Nya. Yesus meninggalkan kemuliaan yang dimiliki-Nya. Ia masuk dalam dunia dan menderita demi manusia yang dikasihi-Nya. Ia mengabaikan kehinaan-Nya dan tekun memikul salib penderitaan dunia. Bahkan Ia merelakan nyawa-Nya agar manusia selamat dari dosanya. Ia rela menderita agar manusia hidup dalam sukacita keselamatan-Nya.

Baca juga  Senantiasa Tuhan Berkati

Berdasarkan teladan Yesus itu, kini kita dipanggil untuk hidup dalam iman kepada-Nya. Hal ini sering mendatangkan penderitaan bagi kita. Penderitaan adalah salib yang harus kita pikul dalam ketekunan. Penderitaan yang ada bukan diberikan untuk mencelakakan kita, melainkan untuk kebaikan kita yang sebesar-besarnya. Kita menjalaninya dengan keyakinan bahwa di akhir penderitaan itu ada kebahagiaan.

Bersyukurlah bahwa kita boleh menghadapi penderitaan. Bersama Yesus kita akan dapat menghadapi segala pendeitaan iman. Ia tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri. Ia selalu hadir di antara kita dan malah ikut menanggung panderitaan kita sekarang ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here