Nyawa Rakyat di Tangan Bansos

0
57

EDITORIAL MEDIA INDONESIA

 

Nyawa Rakyat di Tangan Bansos

 

*SEJUMLAH survei menunjukkan masyarakat di Tanah Air lebih takut kelaparan ketimbang terinfeksi virus korona*. Data puluhan orang meninggal dan ratus an hingga seribu lebih o rang tertular covid- 19 yang diumumkan setiap hari tidak mengubah urutan ketakutan itu. *Kematian 2.500 jiwa hanya dalam tempo tiga bulan tampak begitu jauh di mata.*

*Masyarakat Indonesia tidak sendiri. Kelaparan menghantui penduduk di berbagai negara selama masa pandemi yang hingga kini tidak diketahui kapan akan berakhir*. Badan PBB World Food Programme memperkirakan lebih dari 250 juta penduduk dunia akan mengalami kelaparan akut per akhir tahun ini. *Sekitar 130 juta lainnya berada dalam posisi rentan.*

*Ketika orang harus memikirkan bagimana bisa makan hari itu, tidak ada lagi tempat untuk memikirkan hal yang lain*. Mereka cenderung tidak segan melanggar protokol kesehatan agar bisa makan. *Itu sebabnya peranan bantuan sosial (bansos) begitu krusial dalam penanganan wabah covid-19.*

*Sayangnya, penyaluran bansos di negeri ini sangat karut marut*. Data yang usang membuat penyaluran bansos banyak tidak tepat sasaran. *Itu pun masih diperparah dengan penyelewengan- penyelewengan dengan berbagai modus*. _Mulai dari penggelembungan harga bansos, pemotongan, hingga manipulasi data sasaran_.

*Ancaman KPK yang akan menuntut penyalah guna bansos dengan hukuman mati tampaknya tidak cukup menggentarkan*. Sejauh ini, polisi telah menemukan delapan kasus dugaan penyelewengan bansos di Banten dan Sumatra Utara. *Di Simalungun, Sumatra Utara, misalnya, ditemukan pemotongan jatah beras sebanyak 2 kilogram per penerima*.

*Data yang usang dan potensi penyelewengan sesungguhnya bisa diperbaiki dan diminimalkan melalui transparansi*. _Kuncinya ada di daerah_. *Bansos dari pemerintah pusat pun sangat bergantung pada data daerah*.

Baca juga  Puan Pastikan DPR Tetap Produktif di Masa Pandemi

*Ada beberapa kepala daerah yang berinisiatif menempelkan data penerima bansos di tiap kantor kepala desa atau kelurahan*. Di situ warga dilibatkan untuk ikut aktif mengawasi.

*Bila terdapat yang tidak layak, data sasaran bansos bisa segera diketahui dan dilaporkan untuk diperbaiki*. Demikian pula jika ada _warga yang semestinya layak mendapatkan bantuan malah tidak terdaftar_.

*Besaran dan bentuk bansos pun semestinya dirinci dan diumumkan ke warga*. Dengan begitu, penerima bantuan dapat mengetahui secara pasti apa yang semestinya mereka dapatkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here