Pidato Hari Kesaktian Pancasila Seknas Pendampingan Dampak Covid Buruh Anak dan Perempuan

0
103

Pidato Hari Kesaktian Pancasila
Seknas Pendampingan Dampak Covid Buruh Anak dan Perempuan

 

Hari Kesaktian Pancasila adalah hari kesaktian pertahanan kita bersama di era pandemic COvid. Hari ini kita akan amalkan nilai Pancasila itu, dengan bergotong royong, berbagi peran saling menguatkan, menghargai apa yang mereka bisa dan saling bertukar untuk bagaimana bisa bersama sama bertahan di era pandemic COvid ini.

Untuk itu hari ini ada keluarga disabilitas, keluarga buruh, warga rawa terate, komunitas budhayanan Indonesia, ELkape, BPJS Wacth, KBAI dan Seknas Penanganan Dampak Buruh Perempuan dan Anak yang bersama sama, secara otentik mengamalkan nilai nilai Pancasila tersebut.

Di tengah daerah kawasan Industri kita menyaksikan kembali Hari Kesaktian Pancasila, bahwa pedoman landasan hidup Pancasila benar benar membawa situasi bangsa Indonesia yang secara utuh dapat melihat dirinya, sebagai entitas sebuah bangsa, sebuah insan manusia. Ditengah nirharapan, kehilangan harapan, kita bangun bersama harapan itu. Dengan tidak mengecilkan peran siappun, berbagi, menguatkan, menolong, dan mendengar kedepan apa apa yang bisa dilakukan bersama, demi Pancasila itu tetap tegak berdiri kokoh diumur 74 kemerdekaan kita sebagai bangsa dan juga menyambut 75 tahun Agustus nanti (dengan situasi yang berbeda, yaitu pandemic covid 19).

Kita memperoleh Pancasila sebagai landasan pandangan, cara hidup bersama, butuh perjuangan. Pancasila bukan hadir begitu saja dan menjadi pegangan kita. Tapi ini wujud perjuangan kita, menyatakan kepada dunia. Bahwa ada sebuah bangsa yang mampu hidup bersama, dengan berbagai cara pandang, keragaman, ada yang berkulit hitam, berkulit putih, beragama Islam, Budha, Kristen, Katolik, Kepercayaan Khong hucu bisa hidup bersama berdampingan dan saling menolong satu sama lain.

Ketika kita menyatakan sikap yang menjadi Kesaktian Pancasila itu, pada tahun 1965 datang penjajah yang ingin menanamkan yang dirinya komunis. Memerintah dengan menodongkan senjata, membatasi semua pergerakan kita, demi yang mereka sebut komunia.

Lalu mereka bunuh 9 orang yang menjadi symbol pertahanan bangsa saat itu, yaitu para petinggi militer yang merupakan baris terdepan pertahanan negara kita. 9 orang perwira bangsa Indonesia itu diminta mengakui negara komunis berdiri di Indonesia.

Namun itu ditolak, hanya penolakan itu harus dibayar dengan nyawa 9 pahlawan itu. Mereka disiksa, di silet, di tembak dan dimasukkan dalam lubang buaya, mati sia sia. Demi mempertahankan kesaktian Pancasila. Dalam kematian para pahlawan itu, mereka punya harapan, kitalah yang akan melanjutkan Pancasila dan Indonesia. Bisa hidup bersama, berdampingan, setiap kita dapat hidup dan berkreasi mengisi negara ini, tanpa harus melihat dari latar belakang apa, siapa dan bagaimana. Selama memberi manfaat besar untuk keluarga, bangsa, negara dan agama. Negara ini mendukungnya, melalui orang orang seperti kita yang hadir. Ada KBI, BPJS Wacth, ELKAPE, warga Rawa Terate, keluarga disabilitas, keluarga buruh, para perempuan yang sedang berjuang anaknya untuk terus hidup di tengah Covid 19

Untuk itu Hari Kesaktian Pancasila hari ini, semangatnya juga sama, ditengah keterbatasan karena pandemic Covid 19, kita harus berjuang bersama, tetap hidup, tetap berjuang, tetap punya harapan.

Baca juga  1 (Satu) Ton Beras dan 500 pcs Masker dari Kapolda Metro Jaya diserahkan kepada Pondok Pesantren Al-Hamid.

Hari ini kita membuktikan Kesaktian Pancasila tanggal 1 Juni 2020 tetap hidup, kita tetap peduli bersama, kita mau saling mendengar kesulitan dan harapan kita. Dengan modal besar inilah, saya yakin kita bisa tangguh, bangkit dan pulih sepulihn pulihnya dari serangan pandemic covid ini kepada kesehatan kita. Artinya kita tidak takut dengan Covid, tapi kita lebih takut kalau tidak bsia bersama sama menghadapi virus covid 19 ini. Kita lebih takut kehilangan kebersamaan kita.

Mari kita tunjukkan, kita tidak akan menularkan yang lain, karena menularkan covid ini ‘bisa ditularkan orang sehat seperti saya dan kita semua. Untuk itu, pertama mari tetap mencuci tangan dengan sabun sebelum mengusap wajah, mulut dan hidung.

Kedua menjaga jarak agar kita bisa saling jaga tidak menularkan. Bahwa orang oran yang rentan sakit covid 19 adalah orang yang kurang tidur, sedang kondisi lemah atau sakit (bisa sakit demam, pilek, diabetes, jantung, dan lainnya) itu kondisi bisa tertular Covid, saudara saudara kita yang seperti ini harus kita lindungi, memberi ruang mereka agar tetap bisa menjaga kesehatannya (dengan kita dukung menjalankan protocol kesehatan di era pandemic COvid 19.

Ketiga, memakai masker, karena penyakit COvid 19 ini bisa ditularkan orang sehat, dan ditullarkan virusnya dari pernafasan, maka itu kita memakai masker. Karena kita tidak tahu, siapa yang sedang sakit hari ini dan sedang butuh dukungan, siapa yang sedang lemah dan butuh dukungan, siapa yang lagi nahan panas demam ditubuhnya dan butuh dukungan, siapa yang tidak keliahtan di aantara kita – tapi sebenarnya sedang pilek, batuk, atau hangat badannya dan itu butuh dukungan. Karena itu semua, mari saling jaga, dengan memakai masker

Itu semua agar kita terbebas dari penularan, yang ujungnya menjadi perilaku hidup sehat dan bersih. Jadi ini tidak rugi Ibu, Bapak, adik adik, kakak kakak, anak anak menggunakan masker itu. Karena kita menjadi sehat dan terbebas Covid 19.

Yang sudah merasa bersih di era pandemic Covid 19 ini diminta hatus lebih bersih lagi, dan lebih menjaga kesehatan lagi. Apalagi yang belum, artinya harus saling dukung untuk membersihkan lingkungan kita, dari yang terdekat yaitu kamar tidur kita, kamar mandi kita, rumah, kost, kontrakan sampai lingkungan di sekitrar rumah, gang gang di RW 01 Rawa Terate ini.

Makanya kalau Bapak Ibu dari KBI datang menuju kesini tadi, didepan gang ada penjagaan warga. Ada yang memeriksa suhu tubuh, menyemprot motor, mengingatkan cuci tangan sebelum masuk gang, mengingatkan memakai masker. Ini untuk kita, untuk kita agar ingat, bahwa kita sedang hidup Covid 19. Bukan karena hal lain, apalagi membatasi gerak. Karena jika sudah ada yang tertular, kita bisa lihat di tv, yang terkena covid 19 ini tidak hanya kita, dokter saja kena. Artinya kita harus lebih hati hati lagi

Kita juga harus belajar, mengapa anak anak kurang menyenangi memakai masker, meskipun hari ini datanya sudah 800 anak positif korona. Kita harus berfikir bersama, bagaimana agar masker ini benar benar ramah untuk anak.

Baca juga  Blibli Hadirkan Festival Soto Nusantara Online Pertama:

Saya baru terfikri sekarang, karena acara ini, Mungkin kalau Face Shiled yang biasa dipakai seperti Raffi Ahmad, Ruben Onsu yang menutup seperti topeng dengan bahan kaca atau plastic bening tersebut. Apakah bisa dibuat dengan bahan yagn lebih sederhana utnuk anak anak kita.

Kita sering membelikan topeng robot atau topeng mainan buat anak anak kita, apa mungkin bisa direkayasa dalam bentuk dan bahan yang lebih sederhana. Mulai hari ini ayuk kita fikirkan sama sama dan coba buat bersama anak anak kita,

Coba kakak tanya ‘siapa yang mau buat topeng robot sekaligus jadi masker’

Kalau maskernya seperti ini, anak anak kita pasti mau secara mandiri membersihkan dan menjaganya

Juga masker untuk ibu ibu, yang rajin berkegiatan, mulai cuci baju, masak, memandikan anak, menyuapi anak, mengantar anak, ke rumah sakit, posyandu, dawis dan lain lain, juga butuh model masker seperti ini, yang lebih ramah, dan bisa tifadk membatasi aktifitas apapun

Hari ini juga adik adik dan orang tua yang hadri, ingin bercerita anak mereka dan kondisi mereka secara singkat di era pandemic Covid. Dan bahkan adik adik ini ingin memberikan gambar mereka kepada yang hadir disini, nanti sambil memberikan dan manjaga jarak kita akan betukar dengan souvenir yang akan diberikan dari Bapak Ibu Komunitas Budhayanan Indonesia dan yang juga akan diberikan dari anak anak untuk kita.

Untuk itu saya sangat berterima kasih kepada Komunitas Budhyana Indonesia yang memberi kesempatan kepada relawan Kantor Berita Anak Indonesia, BPJS Wacth, ELKAPE, untuk menyalurkan bantuan di beberapa titik di kawaasan industry Jakarta timur, yang salah satunya di RW 01 Rawa Terate ini.

Ijin menambahkan, bahwa hidup dikawasan industry dan kondisi sulit yang dihadapi perusahaan dan karyawan menjadi perhatian kita bersama. Kalau dulu buruh memperjuangkan hak gaji umr, hak kesehatan mereka melalui BPJS, hak kalau di PHK atau pension dari BPJS Ketenagakerjaan.

Tapi di era pandemic Covid ini, ternyata ada permasalahan yang lebih penting, yaitu mempertahankan anak anak mereka, sambil orang tuanya berusaha tetap mencari kerja, tetap bisa membayar susu, makanan anak (yang memang tidak bisa disamakan orang dewasa), bayar tempat tinggal mereka (kost, kontrakan). Inilah yang sedang kita coba cari pola dukungan sementara ini, sampai mereka benar benar bisa aman.

Tapi karena jumlahnya yang tidak sedikit (nanti Mba Lina bisa cerita, salah satu buruh yang jadi perwakilan dari ratusan buruh yang sedang kita asessmen dari info Mba Lina.

Beliau ini sudah 2 tahun di industry garmen, orang tua tunggal, sudah 2 tahun bekerja tapi kemudian kondisi pandemic ‘dirumahkan’ perusahaan sendiri juga menghadapi hal yang sama ‘tidak bisa menjual produknya’, perantauan, tidak bisa pulang karena PSBB dan juga menjadi stigma tersendiri kalau pulang kampung di Salatiga. Akhirnya menahan sendiri kondisinya.

Untuk itu KBAI, BPJS Wacth, ELKAPE, Federasi Seluruh Buruh Indonesia yang biasa mendampingi mereka, ditengah COvid ini benar benar harus mendengar Mba Lina dan teman temannya, ada 317 daata perempuan buruh seperti ini, dan sudah seminggu ini kita asessmen, agar benar benar mendapatkan kebutuhan yang ramah anak (kalau sembako sudah banyak, tapi kebutuhan buruh pada anak dan keluarganya – ini belum pernah terfikirkan, baik dari buruh yang punya anak sendiri, maupun kita para lembaga yang bias amendampingi hak mereka.

Baca juga  Begini Cara Karantina Pertanian Periksa Kontainer di Pelabuhan Merauke

Untuk itu upaya KBI bersama lembaga lembag ayang mendampingi buruh ini dan kegiatan di Hari Kesaktian Pancasila ini menjadi sangat penting, agar gerakan seperti KBI bersama lembaga lembaga ini yang berjejaring nasional, juga tumbuh ditempat lain. Bahwa isu buruh sekarang, ada yang lebih penting adalah anak anak dan anggota keluarga mereka. Kemarin saya juga kunjungi rumah buruh yang berjuang sendiri karean orang tuanya hanya bisa berbaring sakit dan anaknya masih kecil, serta ditinggalkan suami.

Kondisi kondisi seperti ini, perlu diintervensi sementara. Untuk itu lembaga lemabaga ini Pak KBI, kita membentuk Seknas Pendampingan Dampak Covid 19 bagi Buruh Perempuan dan Anak. Agar banyak lahir orang orang seperti Mba Lina yang berjuang ditengah kesusahannya untuk buruh lainnya. Diantaranya kemarin Mba Lina mengajak 4 perempuan buruh lagi yang kita asessmen. Ini akan jadi kegiatan rutin Seknas 3 bulan kedepan, agar mendapatkan data buruh perempuan dan anaknya dalam situasi ini, agar anak anaknya selamat (karena mereka tidak bisa dibiarkan sendiri, anak anak kita). Belum lagi kepada buruh perempuan ini berfikirnya ‘pecah’ ini. Mencari pekerjaan, kebutuhan yang harus dipenuhi, anak, dan urusan domestic mereka.

Oleh Karena itu kita sangat bersyukur, KBI menyediakan kebutuhan anak, alat tulis anak, makanan anak, susu anak. Bahkan juga tidak lupa memeberi sembako buat orang tuanya juga.

Kedepan kita sedang membentuk kelompok kelompok kecil dari buruh, untuk pemeriksaan kesehatan anak, penguatan dengan relawan pengasuhan, relawan pendidikan, realawan kesehatan. Ini semua layanan dasar yang sangat dibutuhkan di tengah pandemic Covid, karena orang tuanya harus tetap bisa mencari uang, namun disisi lain cara bertahan mereka butuh dukungan. Bahkan kami sedang merencakan membangun usaha mereka, dari buruh untuk buruh, bela dan beli produk buruh, dan dari buruh perempuan ini untuk semua. Ini yang sedang kita upayakan, mencari sumber sumber dukungan melalui data dan asesmen yang kuat dan menanyakan perencanaan hidup mereka dalam 3 bulan kedepan.

Saya jug ananti minta masukan keapda warga RW 01 Rawa Terate disini ada aktifis kampung kita, Bu RT, Dawis, Posyandu dan warga yang juga bisa menyerahkan data ke kita, agar bantuan bantuan benar benar yang dibutuhkan, spesifik dan dapat mendukung panjang hidup Bapak Ibu 3 bulan kedepan di masa Covid 19.

Sekali lagi terima kasih kepada KBI yang telah peduli, berbagi dan memberi harapan di Hari Kesaktian Pancasila ini. Kita doakan KBI menjadi komunitas yang kuat dengan pengamalan nilai nilai Pancasila, seperti yang terus KBI lakukan sampai hari ini. Terima Kasih banyak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here