PDT. WEINATA SAIRIN: MEMBERDAYAKAN PANCAINDERA

0
521

Oleh: Weinata Sairin

_”Esto in tata caligine maior usus aurium quam oculorum. Dalam gelap gulita lebih berguna memakai telinga dari pada mata”_

Kita pasti pernah mengalami sebuah kondisi dan suasana yang gelap baik didalam ruangan maupun diluar ruangan. Kondisi yang gelap itu bisa saja disebabkan oleh karena ruangan atau wilayah itu belum terhubung dengan aliran listrik tetapi bisa juga karena aliran listrik sedang mati. Dalam beberapa waktu terakhir di Jakarta misalnya ada jadwal pemadaman listrik oleh PLN, namun acap juga terjadi listrik padam tiba-tiba tanpa terjadwal dan tanpa pemberitahuan oleh PLN. Pemadaman yang tiba-tiba seperti itu menimbulkan soal besar bagi gedung-gedung untuk pertemuan publik yang belum dilengkapi dengan Genset. Bisa kita bayangkan jika ketika sedang dilakukan upacara keagamaan di rumah ibadah atau di sebuah gedung pertemuan lalu listrik padam.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena Ia menganugerahkan kepada manusia 5 panca indera yang memungkinkan manusia menjalankan kehidupannya dengan lebih baik. Seorang pakar malah pernah menyatakan bahwa manusia memiliki 3 indera sudah cukup yaitu yang bersifat mekanis, kimiawi dan cahaya. Namun ternyata Tuhan memberi 5 indera, yaitu mata, hidung, lidah, telinga dan kulit dengan fungsi masing-masing yang saling melengkapi.

Dari pengalaman empirik ternyata kelengkapan dan kesempurnaan panca indera itu tidak terlalu berhubungan langsung dengan keberhasilan yang dicapai seseorang dalam hidupnya. Di zaman modern sekarang ini ada cukup banyak orang yang dikategorikan berkebutuhan khusus ternyata sukses dalam studi dan berhasil dalam berbagai bidang. Tuhan itu Maha Adil sehingga Ia tetap mendampingi dan menganugerahkan kepandaian kepada umatNya.

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menyatakan “dalam gelap gulita lebih berguna memakai telinga dari pada mata”. Pepatah ini ingin mengingatkan bagaimana menggunakan panca indera kita itu secara efektif dan efisien agar penggunaannya optimal dan tidak mubazir. Memang kelima indera itu sudah punya “job desc” dan atau “tupoksi” masing-masing. Namun dari antara beberapa indera itu ada yang bisa “berkolaborasi” misalnya mata dan telinga serta hidung. Dalam gelap gulita tatkala tak ada seberkas cahayapun yang nampak maka menggunakan mata merupakan sesuatu yang mubazir bahkan bisa merusak mata itu sendiri.

Memang ada perbedaan pemaknaan antara “hasil pendengaran” dengan “hasil penglihatan”. Orang lebih cepat diyakinkan dengan “melihat” dibanding dengan “mendengar”. Ketika sudah ada televisi maka orang lebih tertarik menyaksikan televisi dari pada mendengar siaran radio. Harus dicatat juga percepatan dampak informasi yang visualistis dari media televisi dibanding dengan dampak media audio seperti radio. Dari media televisi penularan sebuah aksi kejahatan misalnya lebih cepat ketimbang media radio. Belum lagi adanya siaran langsung (live) sebuah proses peradilan akan menimbulkan dampak (hukum) tertentu yang bisa mengganggu sebuah peradilan yang mandiri dan independen.

Pepatah ini mengingatkan kita untuk memberi prioritas dalam menggunakan panca indera yang Tuhan anugerahkan. Dengan cara itu kita dapat merawat panca indera itu secara optimal dan menggunakannya sesuai dengan tingkat kepentingannya. Pepatah itu juga ingin mengingatkan kita agar jika terjadi sesuatu hal dalam keadaan gelap kita tidak terlalu cepat “cuci tangan” dan membuat excuse bahwa kita tidak bertanggungjawab terhadap kejadian itu karena “kebetulan listrik padam”. Kita harus tetap waspada dan tetap bertanggungjawab terhadap bidang tugas kita, baik dalam kondisi gelap maupun terang.

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here