PDT. WEINATA SAIRIN: MENJALANI JALAN KEHIDUPAN YANG TUHAN TETAPKAN

0
369

 

 

_”Ganjaran  kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan”_ (Amsal 22:4)

 

Mimpi-mimpi standar banyak orang di dunia ini, tanpa mengaitkannya dengan Sara, paling tidak terpaut dengan tiga hal penting : kekayaan, kehormatan dan kehidupan. Kekayaan tentu saja amat relatif dan subyektif. Tak ada ukuran dan standar yang pasti. Seorang dengan total aset sekian milyar, baginya belum dianggap kaya sebab itu ia terus berjuang dengan berbagai cara untuk melipatgandakan kekayaan yang ada. Namun bagi orang lain total aset dalam jumlah seperti itu sudah sangat berlebih.

 

Sifat yang tidak pernah merasa cukup dengan berkat yang Tuhan sudah anugerahkan membuat seseorang terus menerus mencari jalan bagaimana cara terbaik untuk menghimpun dana demi menambah kejayaan yang sudah ada. Dan biasanya pada sisi ini orang cenderung untuk melipatgandakan kekayaannya dengan cara-cara melawan hukum.

 

Obsesi terhadap kekayaan memang acapkali menimbulkan dampak besar dalam kehidupan. Dalam dunia sekuler kita menyaksikan bahwa mereka yang terkena OTT yang kemudian berujung pada pidana penjara adalah orang-orang yang dalam arti tertentu bisa disebut “super kaya” karena aset mereka yang bermilyar rupiah dalam berbagai bentuk dan bertebaran di berbagai penjuru dunia; dan sama sekali bukan orang miskin yang tinggal di gubuk reyot.

 

Apa yang dimaksud _kehormatan_? Dizaman baheula kehormatan itu berkaitan dengan asal-usul, keturunan, berdarah biru atau “non-colour”, bibit-bebet-bobot dan seterusnya. Dizaman kini “kehormatan” tidak lagi berkisar pada aspek-aspek genealogis, tapi pada soal kompetensi, kedudukan, kepangkatan, eselon, aset, akademis. “Nama baik” adalah juga bagian dari kehormatan yang sangat dipentingkan sejak zaman baheula.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

 

Setiap orang tentu saja merindukan kekayaan, kehormatan, kehidupan (yang indah dan panjang) sehingga benar- benar kebahagiaan itu dirasakan. Itu sesuatu yang sah sah saja; wajar dan manusiawi. Sejauh kerinduan itu dicapai dengan kerja keras, tidak bertentangan dengan agama, tidak melawan hukum, ya mengapa tidak? Dalam realitas empirik justru kita melihat bahwa upaya untuk meraih kekayaan dan lain lain dilakukan dengan berbagai cara yang acapkali bertentangan dengan ajaran agama dan bahkan melawa hukum.

 

Sangat menarik narasi Kitab Amsal Pasal 22 : 4 yang dikutip dibagian awal tulisan ini. Menurut Amsal _ganjaran_ dari kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan. Kerendahan Hati dan Takut akan Tuhan adalah 2 keywords yang amat penting dan fundamental untuk dikakukan oleh manusia dalam rentang kehidupannya.

 

Narasi Kitab Amsal ini amat penting.mndapat garis bawah agar kita sebagai umat yang telah ditebus Yesus Kristus tidak  tergelincir dan terjerembab lagi dalam lumpur dosa hanya karena mengejar kekayaan dan kehormatan.

 

Sikap Yesus sendiri terhadap _harta_ amat tegas. Ia katakan jangan mngumpulkan harta dibumi, tetapi di surga. Dimana hartamu berada disitu juga hatimu” (Mat 6:19-24). Harta dan atau kekayaan bisa menjadi mamon yang lebih atraktif dibanding Allah. Manusia tak bisa berada pada posisi mendua, percaya kepada Allah dan sekaligus mamon.

 

Amsal justru mengedukasi dan remind umat agar mereka bersikap *rendah hati* dan *takut akan Tuhan*. Dengan konsisten melakukan itu maka umat akan mendapat ganjaran, *reward* yaitu kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

 

Ditengah kecenderungan yang terjadi di dalam dunia sekuler tatkala orang berjuang keras mendapatkan kekayaan dengan menghalalkan segala cara maka narasi Kitab Amsal dan pesan Yesus dalam Kotbah Di Bukit sangat menolong kita untuk menjalani kehidupan dalam perspektif yang baru yang berada dalam koridor yang Allah tetapkan.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here