PDT. WEINATA SAIRIN: **HINDARKAN LARANGAN, LAYANILAH TUHAN*

0
361

 

 

_”Nitimur in vetitum semper cupemusque negata. Kita selalu bertumpu pada yang terlarang dan menginginkan yang (justru) terlarang”_

 

Manusia yang fana dan lemah, yang acap bertekuk lutut pada aneka rayuan dan godaan memang membutuhkan “rambu-rambu” dalam hidupnya. Sejak kita masih kecil dengan sabar, tekun dan berkesinambungan, orangtua kita memperkenalkan berbagai jenis rambu itu kepada kita. Misalnya bagaimana cara makan yang baik, bagaimana berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana sikap dan penanpilan kita pada saat kita ikut dalam ibadah bersama di rumah ibadah, dan sebagainya dan sebagainya. Rambu-rambu itu bisa amat teknis karena sekaligus diteladankan pada sebuah kasus, namun tak jarang rambu itu bersifat lebih “makro” dan umum.

 

Kita sangat menghargai dan mengapresiasi upaya orangtua kita di zaman baheula memprkenalkan rambu-rambu dalam kehidupan kita. Dengan berpedoman kepada rambu rambu itulah kita dapat bergaul dan menempatkan diri dengan baik ditengah komunitas yang lebih besar dan luas, dengan sistem nilai yang amat majemuk. Di era digital sekarang ini kita bisa fahami kesulitan para orang tua dalam memberikan rambu-rambu bagi kehidupan mereka

 

Kondisi sekarang ini anak-anak malah lebih mahir dari pada orangtuanya dalam memainkan gadget mereka, baik dalam mencari aplikasi games yang baru maupun dalam hal browsing berbagai informasi apapun yang mereka suka, tanpa kenampuan kontrol dari orangtua. Saran Bill Gates tentang batas umur anak untuk menggunakan gadget hanya bacaan saja, tak mampu diterjemahkan menjadi sebuah rambu-rambu bagi sang anak. Situs- situs terlarang bagi anak kecil justru menjadi situs yang dicari anak-anak!

 

Sejak kecil kita telah mendapat informasi dari orang tua kita tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang. Bahkan di era itu tahun 50-60 an, orang tua masih bisa mengeluarkan larangan untuk menyebut kata-kata yang dianggap “tidak sopan”. Dan di zaman itu kita amat mematuhinya karena kita segan dan hormat kepada orangtua kita. Kondisi seperti itu di zaman ini agaknya sudah bergeser. Wibawa orang tua mengalami “degradasi” sehingga seringkali perintah dan keinginan orangtua terhadap anak-anaknya tidak lagi dipatuhi secara konsisten.

 

Sejak awal sejarah manusia, _larangan_ sudah dikenal oleh manusia. Dalam Alkitab, Kitab Suci umat Kristen, dituturkan bahwa Allah melarang Adam untuk memakan buah yang ada ditengah-tengah taman Eden. Oleh rayuan dan bujukan iblis, yang telah “memanipulasi pesan dan larangan Allah, akhirnya Hawa menyerah. Ia memakan buah itu bahkan memberikannya juga kepada Adam. Allah marah dengan tindakan manusia yang melanggar larangan Allah; cerita berakhir dengan diusirnya dua sejoli itu dari Taman Eden. Larangan itu adalah semacam rambu-rambu yang ingin menolong manusia agar mereka tetap berada dalam koridor yang Allah kehendaki. Hampir sana seperti rambu-rambu dalam konteks lalu lintas adalah upaya untuk mengatur dengan baik tata kelola kendaraan bermotor di jalan umum, sehingga terwujud ketertiban berkendaraan dan terhindar dari terjadinya kecelakaan.

 

Agar terjamin terselenggaranya perwujudan kehidupan umat ciptaan Allah dengan sebaik-baiknya maka hidup manusia diatur oleh berbagai larangan. Larangan itu termuat dalam ajaran agama, berbagai ketentuan perundangan dan peraturan-peraturan lain dalam berbagai level. Di rumah, komunitas lokal atau regional banyak sekali larangan itu, yang acapkali sering dilanggar. Begitu seringnya sebuah larangan dilanggar sering larangan itu berbunyi sangat keras bahkan hingga menyamakan sang pelanggar larangan itu dengan binatang. Contoh pamflet larangan yang acap ditempel di sebuah pohon di pojok pasar. “Dilarang BAK disini kecuali *Capung*.”

 

Orang memang cenderung menyukai sesuatu yang dilarang. Buku yang dilarang dicari kemanapun bahkan orang rela membeli dengan harga yang amat mahal. Film yang dilarang juga dicari dengan berbagai cara. Semua benda yang dilarang tiba-tiba menjadi atraktif dan memiliki nilai jual yang mahal. Pepatah kita mengingatkan agar kita hidup dengan menjauhi larangan baik larangan agama maupun larangan yang bersumber dari hukum positif. Dengan menjauhi dan meninggalkan larangan maka hidup kita akan lebih tenang nyaman, damai dan sejahtera. Kita selaku umat beragama berkomitmen kuat untuk hidup memberlakukan  hukum Allah dan melaksanakan ketntuan perundangan. Kita akan terhindar dari OTT, jerat narkoba, pengaruh gerakan teroris dunia jika hidup kita sepenuhnya bersandar kepada Tuhan dan mohon hikmatNnya.

 

Selamat berjuang. God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here