PDT. WEINATA SAIRIN: *MEMBUKA DIRI AGAR MAKIN KUAT DAN MANDIRI*

0
660

 

 

 

“The less you open your heart to others, the more your heart suffers” (Deepak Chopra)

 

Hakikat manusia tidak saja bahwa ia sosok ciptaan Allah paling mulia, bahkan disebut _khalifah Allah di bumi_ atau juga *imago dei*, gambar dan rupa Allah, tetapi juga adalah manusia yang hidup dalam relasi, makhluk sosial. Manusia adalah  _homo socius_ dan bukan “homo homini lupus”. Bahwa dalam salah satu episode sejarah pernah terjadi kondisi dan praktik “homo homini lupus” diantara manusia, hal itu bisa difahami sebagai bagian dari perkembangan peradaban. Bahkan dalam zaman modern praktik-praktik terselubung diseputar itu masih tetap ada. Manusia dianggap *serigala* bagi manusia lainnya. Manusia dianggap kompetitor, musuh bagi yang lainnya sebab itu bisa diperlakukan apa saja. Pada lapis-lapis tertentu masyarakat, kita dengar semacam jargon atau apapun namanya yang berbunyi ” bukan makan _apa_ sekarang, tetapi makan _siapa_! Ungkapan ini secara tekstual membuktikan bahwa praktik homo homini lupus masih ada walau dalam ruang lingkup yang kecil dan amat terbatas.

 

Dalam dunia yang makin modern ketika manusia acap kali tercabut dari akar sosiologisnya, dan terpenjara pada _kerja_ dan  _gadgetnya_ maka konsep homo socius harus lebih di kedepankan. Manusia yang akholik biasanya tenggelam dalam pekerjaannya, a sosiologis, diperalat dan diperbudak oleh gadgetnya sehingga tidak mampu lagi berkomunikasi secara baik dan standar dengan rekan-rekannya.

 

Kondisi itu semakin parah oleh karena sudah menggerus keutuhan keluarga. Di dalam keluarga telah hilang nilai-nilai kebersamaan, senda gurau, ungkapan cinta kasih bahkan ibadah keluarga _nyaris_ terkendala karena masing-masing anggota keluarga sibuk dan hidup dengan gadgetnya : cek status, browsing, main game, posting berita hoax, forward meme, dan sebagainya, dan sebagainya. Kehidupan rumah tangga menjadi sepi, kering, rutinitas dan bisa terjadi tiba-tiba meledak akibat ada narasi WA yang terkesan bernuansa khusus dari seberang sana.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

 

Realitas negatif seperti itu yang telah banyak melanda kehidupan rumah tangga di zaman modern harus diakhiri. Kehidupan yang hangat, respektif, apresiatif, saling memuji, spiritualitas terjaga mesti dibangun kembali. Ujaran complain, keluhan, ketidakpuasan, sindiran, kritik, pembandingan dengan pihak lain mesti ditanggalkan. Sebaliknya ekspresikan narasi-narasi cinta kasih, penuh pengertian, saling menopang dan saling mengingatkan. Kosakata dan ucapan simpatik mesti lebih banyak diungkapkan : “terimakasih”, “apa yang bisa saya bantu”, “mohon maaf”, “cantik/ganteng sekali hari ini”; “enak sekali menu hari ini”, dsb sehingga terbangun relasi hangat dan kerjasama yang sangat baik dalam menjalani kehidupan yang keras.

 

Sosok manusia yang hidup dalam relasi, komunikatif dan membangun kerjasama harus makin dikedepankan. Hakikat manusia yang dualitas, yang jamak, yang tidak bisa hidup sendiri, yang tidak _tunggal_ harus terus dikobarkan dalam sejarah manusia. Dulu dimasa pemerintahan Benjamin Franklin, Amerika adalah negara yang masih sangat muda dan sedang dalam proses pertumbuhan. Banyak terjadi perbedaan pandangan bahkan perselesihan diantara birokrat di pemerintahan. Kondisi ini menghambat pembangunan. Pada tahap yang sudah sangat menguatirkan Benjamin berdiri didepan Senat dan berkata : “Tuan-tuan marilah kita saling bahu membahu atau kita akan tercerai-berai”.

 

Apa yang dikatakan Benjamin itu penting  sekali di zaman ini bukan saja bagi keluarga tetapi juga bagi komunitas lainnya termasuk bangsa dan negara. Tatkala sebuah komunitas didera oleh roh kepentingan pribadi/golongan dan selalu terbuka kesempatan untuk menghujat golongan lain, termasuk menghina agama tertentu yaitu dengan menyebutnya sebagai binatang, maka kehancuran komunitas itu tinggal menunggu waktu.

 

Di medsos sekarang ini berhamburan berbagai informasi : ada adu domba dan hoax sekitar SARA, ada yang pernyataan intoleransi yang menghina agama dari tweeter yang jelas yg sebenarnya bisa ditindak, ada pertarungan ideologis dan juga pertarungan pilkada/pilpres. Tweeter, FB, WA, dan berbagai akun digunakan dengan berbagai macam tujuan: mengecoh dan membodohi masyarakat, memenangkan kepentingan politik, apologi terhadap ideologi anti Pancasila.

Baca juga  Kebiasaan Hidup yang Membawa Kebahagiaan: Memilih untuk Bersukacita

 

Dalam konteks seperti itu; tatkala medsos dibanjiri oleh konten-konten negatif yang berpotensi menghancurkan NKRI dan peradaban manusia, maka perkembangan IT berada pada sisi negatif. Menghadapi realitas itu kita pengguna medsos harus selektif membaca dan memforward berita/gambar ke pihak lain agar tidak menimbulkan persoalan. Pemerintah juga harus tegas dan mesti menggunakan regulasi yang ada untuk menghentikan postingan adu domba sara, penghinaan agama, intoleransi dan jenis-jenis lainnya yang mengganggu ketenteraman masyarakat.

 

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini mendorong kita untuk lebih terbuka kepada orang lain sehingga bisa menolong pergumulan yang kita hadapi. Sebagai mahkluk sosial kita memang harus terbuka kepada orang lain, kita “curhat” dan sharing tentang pergumulan yang kita hadapi. Itu adalah salah satu cara yang mesti ditempuh untuk mengatasi berbagai hal yang mendera kehidupan kita. Curhat dan sharing untuk hal yang non confidential kepada orang lain bermakna untuk menyatukan visi dan persepsi tentang sesuatu topik.

 

Kita bersyukur kepada Tuhan atas hidup yang Ia anugerahkan. Hidup yang keras dan tidak nyaman menempa kita untuk mnjadi manusia mandiri dan *mature* Ungkapan Chopra perlu kita wujudkan : kita terbuka dan tidak menutup diri sehingga kita lebih dilengkapi dalam menapaki masa depan.

 

Selamat berjuang. God bless.

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here