PDT. WEINATA SAIRIN: *MENJADI ORANG SIANG, MEWUJUDKAN IMAN, KASIH DAN PENGHARAPAN*

0
518

 

 

 

“Tetapi kita yang adalah orang-orang siang baiklah kita sadar berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan”. (1 Tesalonika 5:8)

 

Kehidupan Jemaat-jemaat Kristen di abad-abad pertama dihadapkan dengan berbagai problema yang tidak tergolong mudah dan sederhana. Jemaat yang muda, yang masih memerlukan penguatan iman justru diperhadapkan dengan para pengajar sesat yang menggoda Jemaat untuk meninggalkan iman mereka yang dianggap tidak rasional dan tidak menjanjikan. Belum lagi kekristenan yang dianggap kompetitor bahkan “musuh” acapkali dicurigai oleh penguasa, dan kehadiran mereka tidak dusukai. Kenyataan yang dihadapi umat Kristen saat itu adalah sesuatu yang penuh azab dan sengsara yang semestinya memerlukan pendampingan.

 

Itulah sebabnya komunikasi antara pendiri Jemaat dengan Jemaat tetap dipelihara sehingga kondisi Jemaat tetap terpantau dan bahkan proses pembinaan bagi Jemaat bisa terus berlanjut. Surat adalah salah satu bentuk komunikasi yang dihidupkan zaman itu untuk memelihar relasi dan iman umat.

 

Surat Paulus kepada Jemaat di Tesalonika adalah contoh dan wujudnyata bagaimana relasi Paulus dengan Jemaat yang ia dirikan tetap terselenggara. Melalui surat ia menyapa, ia memberi pengingatan, ia berbagi pemikiran tentang berbagai hal seputar isu terhangat para zaman itu.

 

Dalam berberapa kasus tertentu yang dihadapi suatu Jemaat maka isi surat Paulus bisa amat rinci untuk menolong Jemaat memahami suatu masalah lebih rinci dan komprehensif sehingga mereka bisa segera mengambil keputusan secara bertangungjawab.

 

Oleh karena pada abad-abad pertama begitu banyak persekusi, aniaya yang dihadapi oleh Jemaat-jemaat Kristen maka harapan dan kerinduan akan kedatangan Yesus kedua kali, amat besar. Dalam pemikiran mereka, semua derita mereka akan hapus terpupus tatkala mereka mengalami hidup baru dalam era baru bersama Yesus Kristus.

 

Itulah sebabnya selain masalah spesifik yang diuraikan dan dibahas dalam Surat-surat PB maka topik tentang kedatangan Yesus kedua kali, _parousia_ menjadi topik yang hangat dan aktual. Surat 1 Tesalonika yang ditulis Paulus pada sekitar tahun 50-an memberikan pengingatan yang cerdas bagi Jemaat Tesalonika tentang kedatangan Yesus kedua kali. Paulus membahas topik aktual itu dalam perikop yang diberi judul oleh LAI “Berjaga-jaga” (1 Tes. 5 : 1-11), bahkan sejak perikop yang berjudul “Kedatangan Tuhan (1 Tes 4 : 13-18). Paulus menegaskan bahwa  parousia /hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam (5:2). Metafora ini ingin menyatakan bahwa kedatangan Yesus kedua kali itu tidak pernah diduga dan tidak diketahui. Jangan muncul kalkulasi-kalkulasi gampangan tentang ketepatan jadwal waktu kedatangan. Ketidakktahuan itu akan menimbulkan surprise dan mendorong umat untuk hidup dalam moral yang baik dan posisi _siaga 1_.

 

Menurut Paulus walaupun kedatangan Yesus seperti pencuri pada *malam* namun warga Jemaat _tidak hidup dalam kegelapan_ mereka adalah anak-anak terang dan anak-anak siang, bukan orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.

(5:4,5). Penegasan dan pengingatan yang padoksal itu, bahwa warga jemaat berbeda dengan realitas kegelapan amat penting artinya agar warga jemaat tetap yakin akan hakikat kediriannya sebagai anak-anak terang yang mendapat penyelamatan oleh Yesus Kristus.

 

Dari titik itu Paulus terus mengingatkan tentang *kesiapaan* warga Jemaat, agar mereka berjaga, tidak tidur dan tetap dalam posisi sadar. Tidur itu hanya orang malam dan orang yang mabuk. Warga Jemaat yang sudah ditebus Kristus bukan orang malam dan bukan pemabuk. Fasal 5 ayat 8 yang dikutip lengkap diawal bagian ini dipenuhi beberapa kata kunci yang pentig. Warga Gereja adalah orang-orang siang yang mesti sadar, dan menggunakan  iman, kasih, pengharapan keselamatan sebagai atribut dalam kedirian mereka. Itulah ciri dan identitas warga jemaat yang berbeda dengan orang-orang lain. Ciri dan identitas itu yang mesti menjadi pilar dan fundamen dalam kehidupan umat beriman kapanpun dan dimanapun.

 

Nasihat Paulus kepada Jemaat Tesalonika agar berjaga-jaga dan menampilkan ciri khas dan identitas kekristenan tetap relevan dalam hidup kekinian kita. Kita harus berjaga-jaga bahkan di gedung Gereja ketika kita beribadah, sering terjadi ada saja orang yang tidak kita kenal memasuki Gereja menjelang ibadah. Kita harus sadar, waspada, cermat, antisipatif, siaga dalam hidup sekarang ini. Kesiagaan seperti itu tidak boleh mengecilkan nilai-nilai luhur kekristenan : jujur, kerja keras, penuh cinta kasih, kebersamaan, simpati -empati, solidaritas. Kekristenan kita harus dinampakkan dengan cantik dan elegan sebagai bukti bahwa hidup dan diri kita dipenuhi Roh Kudus (cf Galatia 5 : 22,23).

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here