Lupakanlah Masa Lalu, Pandanglah Masa Depan

0
31762

Oleh: Pdt. Anna Vera Pangaribuan

 

 

KHOTBAH MINGGU OKULI TGL 4 MARET 2018

 

Jesaya 43 :16-21

 

 

Saudara-saudaraku,

Masa lalu adalah sejarah, masa sekarang adalah realitas dan masa depan adalah harapan. 3 masa ini/zaman ini manusia bagai berjalan dari satu titik ke titik yang lain; dengan kata lain manusia hidup pada 3 masa. Setiap manusia dia pernah mengalami  kehidupan masalalu.

Setiap manusia dia pernah mengalami kehidupan masa kini dan  dia merencanakan kehidupan pada masa depan.

Bagaimnakah masa lalu saudara dan saya?

Bagaimanakah masa sekarang saya dan saudara?

Bagaimanakah masa yang akan datang saya dan saudara? Tentu pertanyaan ini bisa dijawab singkat dan bisa dijawab panjang tapi yang jelas dan yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita dapat memahami kehidupan yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Seperti itulah yang diinginkan Allah dalam kehidupan umatNya, yakni Allah menghendaki manusia/umatNya agar tidak hidup dalam masa lalu yang sungguh menyakitkan, sungguh kelam sehingga hal itu mengganggu kehidupan sekarang , bahkan kehidupan yang akan datang . Padahal bila hidup pada masa lalu dapat dimaknai secara iman percaya, maka hal itu dapat juga disyukuri. Seperti yang terdapat pada ayat 16-17 ” Beginilah firman Tuhan, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat yang telah menyuruh kereta dan kuda keluar untuk berperang, juga tentara dan orang gagal. Mereka terbaring, tidak dapat bangkit, sudah mati, sudah padam sebagai sumbu.

 

– Mensyukuri atas campur tangan Allah yang menyelamatkannumatNya. Itulah yang amat penting namun jangan mengingat-ingat hal yang dahulu (seperti ay. 18a) maksudnya, jangan mengingat masa-masa yang sulit yang membuat sangat berat beban itu dan tidak sanggup dipikul sehingga sangat berakibat buruk pada masa sekarang dan masa yang akan datang juga.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

 

– Mensyukuri kepada Allah sebagai orang percaya untuk menerima rencana Allah yang lebih besar sebagaimana terdapat pada ay 19 – 21 “Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya”

Nas ini sedang berbicara tentang betapa besar kasih Allah akan umatNya yang berada dipembuangan Babel. Nabi Yessya bernubuat kepada bangsa Allah bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka dari pergolakan politik karena karena Tuhan berkuasa atas kehidupan umatNya. Kemudian Tuhan hendak memberi penghiburan kepada umatNya yang sedang mengalami pergumulan atau putus asa agar mereka memiliki pengharapan yang hidup.

 

Saudara-saudaraku,

Apa yang hendak dikatakan nats ini pada konteks kita saat ini?

1. Kuasa dan kasih Allah tidak pernah berubah. Kita hidup di era modren, globalisasi/canggih dimana dalam era tersebut banyak situasi/kondisi yang membuat kita hidup bergelimangan dosa. Hidup tidak berdaya, bahkan hidup sudah tidak berpengharapan lagi pada Tuhan ditengah lagi. Ditengah kondisi yang seperti ini, firman Tuhan menyapa kita seperti nabi Yesaya menyampaikan pesan dalam nats ini, demikian kepada kita juga agar tetap menpercayai KUASA DAN KASIH ALLAH yang bekerja setiap saat. Kita tidak tahu cara kerja Allah seperti apa dalam setiap saat. Kita tidak tahu cara kerja Allah seperti apa dalam setiap diri umat yang percaya pada Allah tetapi yng pasti Allah kita tidak pernah berubah dari zaman ke zaman (Mazmur 136:1) ” Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik/bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya. Seruan bersyukur ini bergema dalam kehidupan kita dimana tidak terhitungnya betapa besar  dalam dan luasnya kasih setia Tuhan dalam hidup kita. Dengan bersyukur mengingatkan kita untuk pemberian Allah dalam hidup kita disetiap keadaan senang ataupun susah.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

 

2. Move on . Move forward.

 

Hidup yang move on, move forward adalah hidup yang mampu meninggalkan masalalu dan berani  menerima kehidupan yang baru/situasi yang baru. Sebagaimana rasul Paulus mengatakan pada Galatia 2 : 20 ” Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup didalam aku dan menyerahkan diriNya untuk aku. Sikap rasul Paulus ini dapat kita contoh. Dia sudah menyerahkan hidupNya kepada Allah secara total sehingga dia tidak khawatir, gentar atau takut menghadapi tantangan yang berat bahkan nyawanya sendiri. Bagaimana saya dan saudara menghidupi 2 point diatas yang amat berharga itu??

Mari kita untuk tetap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Amin.

 

HAPPY SUNDAY

SALAM MARTURIA

Pdt.Dr.Anna Ch Vera Pangaribuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here