Pdt. Weinata Sairin: Mewujudkan Kebaikan Bagi Semua

0
160

“Perhatikanlah supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang (1 Tesalonika 5:15).

 

Kekuatan utama kekristenan terletak pada figur Yesus yang menampilkan sosok pemimpin sempurna yang menjadi referensi umat. Yesus tidak hanya berkata dan berkata, tetapi Ia mewujudkan kata-kataNya itu dalam _akta_, dalam _action_, dalam perbuatan dan tindak nyata. Didalam Yesus, kata-kata tidak berhenti pada kata, tetapi kata yang membuah dalam karya. Disitulah kekuatan utama yang mewarnai sosok seorang Yesus, pribadi yang perfect yang menjadi acuan bagi para pengikutNya yang berkembang dari zaman ke zaman. Tentu saja hal itu bukan satu-satunya kekuatan utama yang terdapat dalam kedirian Yesus. Doktrin, ajaran teologi tentang keselamatan, penebusan, pengampunan untuk menyebut beberapa, adalah hal-hal baru yang membuat banyak orang datang dan percaya kepadaNya. Keselamatan bukan karena perbuatan manusia, tetapi melulu sebagai karya Allah didalam Yesus Kristus melalui kematianNya di kayu salib adalah sesuatu yang sama sekali _baru_ yang berada diluar kalkulasi dan kategori pemikiran manusia.

 

Ajaran Yesus yang menekankan _kasih_ baik kasih kepada Allah maupun kasih kepada sesama menjadi penanda utama/ ciri khas dari kekristenan dan melalui ciri khas itulah kekristenan menjadi kekuatan yang powerfull mewarnai dunia.

 

Kesemua ajaran Yesus itulah yang terus menerus diimplementasikan dalam kehidupan Jemaat-jemaat Kristen di abad-abad pertama. Menarik sekali membaca surat Paulus kepada Jemaat di Tesalonika. Dalam ayat yang dikutip diawal awal tulisan ini Paulus memberikan pengingatan agar Jemaat jangan mengembangkan sikap “balas dendam” yaitu membalas jahat dengan jahat. Paulus mendorong Jemaat untuk senantiasa mengusahakan yang baik di lingkup internal dan eksternal yang menjangkau semua orang. Ini adalah resonansi dari apa yang Yesus ungkapkan dalam kotbah dibukit. Yesus katakan “kamu telah mendengar firman mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Berbeda dengan pola pikir seperti itu Yesus malah menyatakan “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5 : 38,39). Yesus tidak menganut “hukum pembalasan” Ia mengembangkan hukum kasih, yang rela memberikan pipi kirinya (juga) setelah pipi kanan ditampar oleh orang lain.

Baca juga  KEMERDEKAAN DALAM KRISTUS

 

Nasihat Paulus kepada Jemaat Tesalonika meneruskan ulang apa yang Yesus nyatakan dalam kotbah dibukit dengan beberapa penekanan penting. Paulus menasihatkan agar diusahakan senantisa yang *baik*. Tidak dijelaskan lebil detil dan elaboratif apa yang dimaksudkan sesuatu yang baik itu. Tapi dalam konteks Jemaat Tesalonika, yang baik itu minimal adalah merajut tali persaudaraan diantara warga jemaat dari berbagai latar belakang yang berbeda; mengembangkan harmoni untuk memantapkan kebersamaan internal;

 

Selain itu kata “baik” dalam konteks eksternal adalah juga lebih terbuka dalam mengapresiasi realitas kemajemukan, concern pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat luas, memberi topangan dan dukungan nyata bagi permasalahan riil yang tengah digumuli masyarakat.

 

Dalam perkembangan paling tidak 10 tahun terakhir kekristenan mengalami pergumulan dan tantangan yang cukup dahsyat dalam menjalankan tugas panggilannya ditengah masyarakat majemuk Indonesia. Ujaran kebencian, penistaan, hujatan, persekusi, kesulitan pembangunan gedung Gereja, pelarangan ibadah, penghentian/pengusiran ibadah, dan sebagainya telah menjadi bagian integral dari sejarah kehadiran kekristenan di Indonesia.

 

Gereja dan umat Kristen menghadapi realitas itu lebih memaknainya sebagai bagian dari _salib_ yang harus dipikul, artinya tidak memberikan “perlawanan” yang berarti kecuali mendoakan agar Tuhan mengubah mind set mereka tentang kekristenan, dan agar Roh Kudus menguasai mereka sehingga mereka diperkenalkan dengan figur Yesus Kristus, Jalan dan Kebenaran dan Hidup.

 

Nasihat Paulus kepada Jemaat Tesalonika masih tetap memiliki relevansinya bagi kita yang hidup di zaman kini dengan berbagai dinamika didalamnya. Tahun 2018 dan 2019 tatkala ada agenda Pilkada serentak dan Pilpres di negeri ini bukan tidak mungkin hambatan terhadap kekristenan makin mengemuka. Kekristenan tidak berada dibawah dan atau tunduk pada kuasa apapun, termasuk kuasa politik. Ketika politik identitas dan keragaman sara tetap difahami sebagai bagian dari strategi mendulang keberhasilan, maka friksi dan gesekan dalam hidup beragama akan tetap memiliki peluang. Menghadapi realitas itu sebuah kekristenan yang cantik, elegan, penuh Kasih harus makin dinampakkan dalam dunia nyata. Sikap inferior, syndrom “minority complex” tidak boleh mewarnai kekristenan. Kekristenan harus lebih memiliki self confident sebagai sebuah entitas yang sejak awal ikut proaktif mendesain rumah besar Indonesia, dan yang sama sekali bukan warga negara kelas 2 atau penumpang tanpa karcis di gerbong NKRI.

Baca juga  JANGAN LUPAKAN YANG TERBAIK

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here