Pdt. Weinata Sairin: Menyadari Kefanaan dan Kemanusiaan

0
1468

“Omnia humana brevia et caduca sunt. Semua yang manusiawi itu pendek dan akan lenyap musnah”.

 

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dicipta (Ibr. _bara_) dari ketiadaan, menjadi ada. Ia bukan ada secara “sim sala bim”; ia dihadirkan menjadi berada oleh Allah, Kuasa Transenden. Kuasa Transenden, adalah Kuasa Yang Diatas, Kuasa Ilahi, kuasa yang tidak akan pernah tersaingi dan tertandingi. Allah itu Khalik, manusia itu makhluk. Sudah pasti terdapat beda signifikan antara Pencipta, Khalik, dengan yang dicipta, makhluk. Khalik tidak berada dalam ruang kefanaan, Khalik tidak terkena, tersentuh dan atau berada dalam frame waktu. Khalik mengatasi waktu, Ia terbebas dari dimensi *waktui*.

 

Manusia berada dalam ruang dan waktu. Sebagai makhluk yang dicipta ia berdimensi waktui,ia dikuasai kefanaan dan sebab itu ia memiliki limit. Kita bersyukur bahwa manusia dalam kefanaannya, kelemahan dan keterbatasannya diberi mandat oleh Allah untuk mengelola bumi agar bumi dengan seluruh isinya memberi kemaslahatan bagi umat manusia dari generasi ke generasi. Dalam konteks amanat itu, maka manusia dianugerahkan Allah akal budi, perasaan, intelektualitas sehingga tugas pengelolaan itu dapat dilaksanakan dengan lebih baik.

 

Oleh karena manusia adalah makhluk yang dikuasai kefanaan maka semua produk yang dibuat manusia adalah juga produk yang “fana” bukan sesuatu yang abadi, sesuatu yang waktunya terbatas. Dan semua yang ada di dalam dunia adalah barang yang fana, yang suatu saat akan musnah.

 

Fana artinya tidak kekal, sementara, terbatas, sesuatu yang pada suatu saat akan lenyap dan musnah.

 

Dari segi bahasa, fana itu adalah lenyap, hancur, sirna, hilang. Menurut sebuah literatur istilah fana muncul dalam kajian tasawuf diabad III Hijriyah. Sufi yang pertama kali bicara tentang kefanaan adalah Abu Yasid Al-Bustami. Al Qusyairy penulis tasawuf abad V Hijriyah menjelaskan bahwa fana itu menunjuk kepada gugur atau hilangnya sifat-sifat tercela dan mengisyaratkan hadirnya baka (kekekalan) yaitu munculnya sifat-sifat terpuji.

Baca juga  Menteri Komunikasi dan Informasi Johnny G. Plate Meresmikan SINERGIO TV

 

Sejak awal manusia sudah sangat faham bahwa dirinya terikat dalam belenggu kefanaan. Kondisi itu tak bisa ditolak atau dilawan karena kefanaan adalah hakikat dari kemakhlukan. Walaupun manusia menyadari bahwa ia adalah sosok yang fana, yang waktunya terbatas dan punya garis akhir namun acapkali kefanaan itu tidak nampak eksplisit dalam sikap hidup sehari-sehari. Sikap dan perilaku manusia yang arogan, menyalahgunakan kekuasaan, mendiskriminasi bahkan menindas, menyuap dan korupsi, membunuh tanpa sebab, mendemonstrasikan perilaku yang tidak fana.

 

Perilaku manusia di era sekarang, _dizaman now_ nyaris mempertontonkan sosok manusia yang menafikan hakikat kefanaannya. Manusia ignore dengan kesementaraannya, dengan kefanaannya, manusia apatis dan masa bodoh dengan soal-soal kefanaan. Manusia fana seharusnya benar-benar mempersiapkan waktu yang ada, menginvestasi kebajikan selama ada waktu, selama hari masih siang. Manusia fana yang sadar dan siuman akan hakikat kediriannya, adalah sosok yang berupaya agar dalam hidupnya mempraktikkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

 

Agama-agama selalu mengingatkan para penganutnya agar sebagai manusia fana memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyak, dan tidak terjebak untuk memprioritaskan urusan “mencari barang dunia”.

 

Pepatah kita mengingatkan bahwa semua yang manusiawi itu pendek dan akan lenyap musnah. Kita semua apapun agama kita sedang berjalan dari *civitas terena* menuju *civitas dei*. Semua yang ada dibumi akan lenyap dan musnah, termasuk umat manusia. Kita mesti menyadari kefanaan kita dan waktu yang terbatas. Mari melakukan yang terbaik bagi semua orang.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

Weinata Sairin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here