Belajar dari Yusuf

0
3304

Oleh:Herry Oktavianus S.

Iri hati berjubahkan kebencian menyeret *Yusuf* kedalam pusaran derita hidup yang tidak pernah terlintas dibenak pikirannya dan tiada terbayangkan bila hal itu dilakukan oleh saudara-saudaranya sendiri, kepedihan hati menyayat jiwa terasakan dalam batin menerima semua perlakuan kejam dari darah daging sendiri.(Kejadian 37:1-36). Kenikmatan sesaat disuguhkan si jahat merayu jiwa agar memuaskan hasrat nafsu yang menyesatkan, pencobaan demi pencobaan bahkan intrik politik mendera imannya, *”sikap takut akan Allah perisai jiwa”* meluluhlantakkan kuasa dosa memberikan *Yusuf* kemenangan dalam usia muda yang belum matang dalam pengalaman hidup.(Kejadian 39:1-23; 40:1-23)

Banyak hal dapat kita pelajari dari sekitar lingkungan hidup seperti: air mengajarkan kesejukan walau diketenangan mengalirnya air sungai dibawah permukaannya arus deras yang dapat menghanyutkan dan menenggelamkan, Sekeras-kerasnya batu tidaklah lebih keras dari keangkuhan hati yang membeku, Matahari memberi kehangatan akan tetapi juga dapat menyakiti dengan teriknya tak terperi dan memikat dipandangan mata mekarnya bunga mawar merah namun duri ditangkainya dapat melukai dan menyakiti, menyenangkan melihat wajah terseyum walau menyembunyikan berjuta isi hati.

Kisah *Yusuf* dengan berbagai pergumulannya merupakan bagian penting dari sejarah Perjanjian Lama berkaitan dengan rencana pernyataan dan penyataan Allah bagi semua manusia di dunia ini, dimana *Yesus Kristus merupakan puncak dari sejarah pernyataan dan penyataan Allah* yang dipaparkan dari kitab Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Dalam rencana besar Allah, *Yusuf* ditempatkan pada peran strategis sejarah kehadiran umat Israel di tanah Mesir.
*_”Firman TUHAN kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya.”_*
*_”Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak.”_*(Kejadian 15:1-18)
Banyak hal yang positif dapat dieksplorasi dari Kisah *Yusuf*(Kejadian 37:1-36; 39:1-23; 40:1-23) dari beberapa sudut pandang:
*Pertama*:
*Secara theologis* kehadiran Allah di tengah-tengah sejarah manusia setelah manusia jatuh dan terjajah dosa, diwujudkan melalui orang-orang terpilih dan ditentukan-Nya, diantaranya seperti *Yusuf* dan menjadi bagian dari rangkaian tujuan Allah menghadirkan *Yesus Kristus* didunia menggenapi apa yang *dinubuatkan* dalam kitab Perjanjian Lama(Kejadian 3:11-15) yang diawali pemanggilan dan perjanjian Allah dengan *Abram*(Abraham) kemudian yang diteruskan melalui keturunannya *Ishak* lalu diteruskan oleh *Yakub*(Matius 1:1-17). Sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa *Yusuf* merupakan rantai keturunan Yakub/Israel(Matius 1:1-2) ditempatkan pada peran strategis sejarah kehadiran umat Israel di tanah Fir’aun.

Baca juga  Langkah Pertama Menuju Penyelesaian Konflik

Allah yang dipaparkan dan diberitakan dalam Alkitab yang telah menyatakan wujud kehadiran-Nya melalui *Yesus Kristus* Anak-Nya yang Tunggal adalah Allah yang hidup yang tiada pernah melupakan pekerjaan tangan-Nya sendiri, mengasihi serta menyelamatkan manusia dari kutuk dosa, yang menyatakan kehadiran-Nya melalui sejarah hidup *Yusuf*.

*KeDua*
*Secara Psikologis* kedewasaan seseorang tidak selamanya ditentukan dengan *faktor usia saja*,tidak sedikit orang yang sudah dewasa usianya tapi tidak mampu menunjukkan sikap dan perilaku sebagai orang dewasa.
Ada 6 aspek(Psikologis:) yang membedakan perkembangan kedewasaan seseorang, yaitu: Secara *Jasmani, Intelektual, Emosi, moral, Sosial, dan Spiritual. Yusuf* sebagai seorang muda baik usia maupun pengalaman saat pertama kali ia menghadapi pergumulan hidup, dimana *Yusuf* diperdaya dan dijual menjadi budak oleh saudara-saudaranya serta berbagai tantangan, godaan dan pencobaan mendera sampai akhirnya *indah pada waktunya* Tangan Allah menempatkannya menjadi orang paling berkuasa di tanah Mesir selain Fir’aun. Demikian juga sikap dan cara *Yusuf* menghadapi serta mengatasi dirinya saat kembali bertemu Yakub ayahnya dan saudara-saudaranya yang pernah menyakitinya menggambarkan suatu *sikap dan perilaku sebagai orang yang dewasa*, Kedewasaannya diantaranya tercermin dari kemampuan *Yusuf* mengelola dan mengatasi diri baik secara Sosial, Emosi, berpikir(Intelektual), Moral, terlebih secara *Spiritual*(kerohanian/mental) keberiman dan sikap penyerahan total kepada Allah selama dalam kesendiriannya menghadapi proses pergumulan perjalanan hidup akhirnya menghasilkan *kemenangan luarbiasa*.(Kejadian 37; 39-50)

*Ketiga*
*Secara politik*, Statusnya sebagai Orang terkuat atau penguasa setelah Fir’aun tidak membuat *Yusuf* menjadi orang yang “mabuk kekuasaan” dan terjerat didalamnya. Kecerdasan ditambah keberaniannya sebagai seorang pemimpin dalam menetapkan keputusan serta keberhasilan melaksanakannya didasari sikap politik *”takut akan Tuhan”* kental mewarnai kepemimpinannya sebagai seorang penguasa.

Baca juga  Langkah Pertama Menuju Penyelesaian Konflik

Kepercayaan atau wewenang kekuasaan pemerintahan yang diserahkan Fir’aun kepadanya dilaksanakannya sesuai tugas dan tanggungjawab yang diterimanya. Sebagai seorang yang mencerminkan kepribadian yang *Konsisten, berani dan bertanggungjawab*
*”Tahta, harta dan wanita”* tidak mampu merontokkan iman dan pengabdiannya kepada Tuhan.

Walau mata tidak mampu melihat apa yang akan terjadi didepan, akal tak mampu memahami segalanya dan jiwa rapuh terhadap godaan dan pencobaan akan tetapi tangan Tuhan yang maha kuat menopang dan mengangkat mengatasi segala-galanya, *Yusuf* menjadi *”inspirasi hidup”* bagi semua orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here