Teguh Berpegang Pada Injil Kristus

0
1484

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

Galatia 1:6-10
(6) Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, (7) yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. (8) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. (9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (10) Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Dalam ayat 6-7a Paulus berkata, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil.” Dari kata-katanya ini tergambar jelas betapa hati Paulus sedang kecewa. Ya ia memang sangat kecewa, sedih dan mungkin juga marah. Sebab apa? Sebagian besar jemaat Galatia yang yang pernah dilayaninya tidak lagi setia kepada apa yang diajarkannya.

Iman orang Galatia menjadi goyah karena masuknya ajaran lain. Bahkan mereka mudah dihasut sehingga berbalik menentang Paulus. Mereka meragukan Paulus dan Injil yang diberitakan Paulus. Paulus tahu, semua itu akibat ulah pengajar-pengajar sesat yang datang mempengaruhi jemaat Galatia. Itulah sebabnya ia berkata dalam ayat 7b: “Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.” Terhadap pengajar-pengajar sesat itu Paulus dengan keras berkata: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia” (ayat 8-9).
Paulus sangat menyayangkan sikap orang-orang Galatia itu. Karena itu ia berbicara dengan amat kerasnya untuk memperingatkan jemaat bahwa menolak Injil yang pernah diberitakannya berarti menolak Kristus. Paulus juga merasa betapa sangat membahayakan jika pengajar-pengajar sesat itu terus dibiarkan mempengaruhi jemaat. Karena itu ia dengan tandas memberitahukan bahwa siapapun yang mengajarkan Injil yang berbeda dengan Injil yang telah disampaikan berarti mengaburkan Kristus. Ini adalah penyangkalan akan Kristus dan merupakan perbuatan terkutuk.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

Kenapa orang-orang Galatia begitu mudah diombang-ambingkan pengajaran baru? Karena mereka tidak teguh pada Injil yang disampaikan Paulus. Akibatnya mereka tidak dapat bersikap kritis. Mereka menerima saja apa yang baru tanpa menyaringnya lebih dahulu.

Gejala-gejala seperti itu ada juga dalam kehidupan jemaat sekarang ini. Kita mudah termakan isu dan ajaran-ajaran baru. Hanya karena lebih menarik dan lebih ‘aneh’ kita pun ikut. Kita mudah goyah karena menganggap segala sesuatu yang baru itu benar. Belum tentu. Kita harus menjadi orang Kristen yang kritis!

Coba lihat, betapa banyak orang Kristen mempersalahkan gerejanya sendiri hanya karena ia melihat sesuatu yang menarik dari tempat lain. Sampai-sampai ada yang meninggalkan gerejanya sendiri karena saking terpikatnya dengan ‘suasana baru’ yang ia alami di tempat lain itu.

Jangan gampang terpengaruh! Memang kita perlu pembaharuan, tapi jangan gampang terbawa arus hanya karena daya tarik tertentu saja. Hanya karena kita sukai dan cocok dengan selera kita. Ingat, makanan yang kita rasa enak tidak otomatis baik untuk kesehatan kita. Apa yang indah oleh mata belum tentu baik untuk tubuh kita. Yang indah, enak dan menarik seringkali justru menghancurkan dan bahkan ‘menipu’ kita.
Camkanlah: bergereja bukan soal memenuhi selera pribadi, melainkan soal apakah kita benar-benar hidup bagi Kristus atau tidak. Inilah yang Paulus gumuli dalam hidupnya. Karena itu ia berkata, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (ayat 10).
Hidup menurut Injil yang benar adalah hidup menurut kesukaan Allah dan bukan menurut kesukaan kita. Kalau kecenderungan kekristenan kita lebih pada apa yang kita sukai, maka waspadalah, kita sedang melenceng dari Injil itu sendiri. Kita harus mengembalikan diri kita pada Injil yang sebenarnya. Injil yang sebenarnya adalah Injil yang mencerminkan pelayanan Kristus yang mau mengorbankan diri-Nya bagi orang lain. Jika kita teguh pada Injil seperti ini, maka kita pun akan hidup sebagai pribadi yang mau mengorbankan dirinya bagi sesama, bukannya mengorbankan sesama bagi diri kita.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here