Pdt. Weinata Sairin: “Nec lusisse pudet, sed non incidere. Jangan malu untuk bergurau tetapi hendaknya jangan menggores (hati orang lain)”.

0
372

 

Hidup ini jika kita pikirkan lebih mendalam dan jujur adalah suatu masa yang sangat indah, yang tak bisa secara penuh diungkapkan dalam kata dan tulisan. Episode-episode yang kita alami dan nikmati dalam perjalanan hidup ini kesemuanya merupakan sebuah proses pembelajaran yang maha dahsyat yang akan berimbas pada pematangan kepribadian kita.

 

Dalam sebuah dunia yang makin sangar, kasar dan garang seperti yang kita hidupi sekarang maka humor, bergurau menjadi kebutuhan yang cukup penting. Humor dan bergurau bisa membuat tertawa yang ujungnya bisa ikut berpengaruh pada kondisi kehidupan yang ruwet. Konon humor adalah sejenis mekanisme pertahanan diri terhadap kecemasan. Hampir setiap hari kehidupan kita diwarnai oleh cemas, takut, panik dan perasaan sejenis lainnya yang tidak baik bagi kesehatan jiwa. Mulai dari perjalanan hingga tiba di kantor berinteraksi dengan banyak orang dengan berjuta kepentingan, berhadapan dengan begitu banyak masalah, kita benar-benar hidup dalam suasana yang tidak kondusif.

 

Alex Lickerman dari Chicago menyatakan bahwa seseorang yang mampu menertawakan peristiwa traumatis dalam kehidupannya sendiri tidak akan menyebabkan ia mengabaikan hal itu tetapi sebaliknya justru mempersiapkannya untuk bertahan dengan lebih baik terhadap peristiwa traumatis tersebut. Banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa jika kita mampu menghadapi trauma dengan humor adalah sangat baik dalam konteks pemulihan psikologis walaupun diakui bahwa diperlukan waktu yang cukup untuk kita bisa bergurau atas peristiwa traumatis. Dunia humor kita sekarang mengalami kemajuan yang cukup pesat baik dari segi bentuk maupun isi. Pada zaman dulu, sejauh pengamatan yang masih sumir,  kelompok humor yang sering manggung, materi humor/lawaknya hampir tersandar : mengangkat realitas lokal, menertawakan/eksploitasi bentuk tubuh atau kelemahan diri (misalnya bicara gagap), mengangkat keragaman etnik dan sebagainya.

Baca juga  ALLAH MENYONGSONG ORANG YANG BENAR

 

Menurut sebuah literatur ada 7 jenis humor :

1. Kata-kata jenaka.

2. Plesetan (An Understatement)

3. Gurauan (joke)

4. Adegan menggelikan (ludicrous)

5. Sindiran (Satire)

6. Bertentangan dengan realitas (irony)

7. Melawak (humorous intent).

 

Agaknya tanpa kita sadari para pelawak kita menampilkan jenis-jenis ini dengan banyak varian yang mereka berikan sehingga kita mengalami kesegaran yang baru sesudah menikmati lawak-lawak mereka. Bentuk humor yang baru yang agak ‘elit’ sekarang ini adalah apa yang populer dengan nama *stand up comedy*.

 

Stand up comedy (lawak tunggal) adalah genre profesi pelawak yang pelawaknya disebut *komika* dan membawakan lawakannya secara monolog diatas panggung dengan tema sebuah topik tertentu. Dalam 2 tahun terakhir beberapa stasiun tv swasta menayangkan acara itu dengan menampilkan para komika a.l: Raditya Dika, Pandji P, Ernest P, Mongol, Arafah, Mo Sidik. Materi lawak mereka cukup menarik sesuai dengan _pakem standar_ dari stand up comedy sehingga untuk kalangan menengah keatas genre ini mendapat posisi yang cukup baik. Humor dan atau lawak menjadi kebutuhan semua lapisan masyarakat sebab itu materinya harus diolah sedemikian rupa sehingga aspek “menghibur”, “entertaint” harus di kedepankan. Hal-hal yang bernuansa menghina, kritik tajam, mendiskreditkan pribadi, lembaga, sara harus dihindarkan.

 

Ajaran agama seharusya tidak menjadi materi lawakan apalagi yang berkonotasi merendahkan; sesuatu yang sakral dan transendental memang tidak patut memasuki ruang humor. Kita perlu sekali-sekali bergurau, humor, high joke tetapi harus memahami tempat, suasana dan audiens. Tidak semua orang suka diajak bergurau atau diajak bercanda, tidak semua suka humor apalagi humor yang vulgar dan tendensius.

 

Pepatah kita mengingatkan agar humor jangan membuat hati orang tergores. Hati yang luka dan tergores sulit penyembuhannya. Betadine dan antibiotik tak juga mempan bagi hati yang terluka!!

Baca juga  TUHAN, ALLAH YANG MAHA KUASA

 

Selamat Berjuang. God bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here