Tuhan Menyuruh Kita Untuk Berkarya

0
2669

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Matius 25:14-30

 

(14) “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. (15) Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. (16) Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. (17) Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. (18) Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. (19) Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. (20) Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. (21) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (22) Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. (23) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (24) Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. (25) Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! (26) Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? (27) Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. (28) Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. (29) Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (30) Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

 

Perumpamaan dalam perikop ini menegaskan bahwa Yesus akan datang secara tiba-tiba. Ya seperti kedatangan sang tuan dari luar negeri setelah lama ia pergi (ay. 19). Ia akan datang kembali tanpa sepengetahuan kita. Kalau begitu bagaimana kita harus bersikap?

 

Lepas dari sikap ketiga hamba dalam perumpaan tersebut, berikut ini ada dua sikap yang cenderung menonjol dalam diri orang Kristen sekarang ini.

 

Sikap pertama: Ngapain repot-repot mikirin Dia yang datang-Nya aja kita nggak tahu. Kalau betul Dia datang, kalau ternyata nggak datang? Orang Kristen yang berpikir seperti ini tidak mau mengganggu pikiran mereka dengan soal kedatangan Yesus. Lalu apa yang mereka lakukan? Ayo, mumpung masih bisa dan kuat, kita lakukan apa yang kita inginkan. Soal iman nanti aja dipikirin, kalo kita udah tua!

 

Sikap kedua: Pelihara hidup kudus, jauhi segala sesuatu yang berbau dunia! Pusatkan diri dan pikiran hanya kepada Dia yang akan datang dengan tiba-tiba. Jangan pedulikan apa-apa yang terjadi diluar sana, perketat doamu, pertebal imanmu. Kalau kamu terancam, pasrah saja, itu adalah tanda-tanda bahwa kedatangan Tuhan semakin dekat! Orang Kristen dengan sikap yang kedua ini condong membuat persekutuan ekslusif dan tidak mau peduli lagi dengan keadaan di sekitarnya. Sikap paling ekstrim dari kelompok ini adalah mau mati bersama untuk segera berjumpa dengan Tuhan.

 

Kedua sikap itu adalah salah besar. Memang kedatangan Tuhan Yesus akan terjadi secara tiba-tiba, tapi bukan berarti tidak ada yang perlu kita kerjakan. Ingatlah: kalau Tuhan datang kembali, maka yang pertama-tama Ia lakukan adalah “mengadakan perhitungan” mengenai ‘talenta’ yang telah diberikan kepada kita.

 

Sikap hamba mana yang mau kita pilih? Pilih hamba pertama dan kedua, yang mengolah talentanya (berapa pun yang mereka terima)? Atau pilih hamba ketiga yang tidak mengolah talenta sama sekali? Hamba pertama dan kedua diterima Yesus karena ternyata mereka berkarya sesuai talentanya. Hamba ketiga ditolak karena tidak mau berkarya. Ia memang mengajukan alasannya, tetap tak diterima. Kenapa? Karena dia tidak berkarya sama sekali! Jadi mau pilih yang mana?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here