Jalan Salib

0
1216

Oleh: Pdt. Andreas Loanka

 

Jalan salib memerlukan pengorbanan. Pengorbanan itu tampak dalam diri Tuhan Yesus. Karena kasih Ia rela meninggalkan takhta surga untuk datang ke dunia fana. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Bahkan Ia rela mati di atas kayu salib untuk menebus manusia berdosa.

 

Yesus Kristus tidak pernah melakukan kesalahan apapun, baik di hadapan Allah maupun manusia (II Kor 5:21; I Pet 2:22). Ia tidak pernah menyusahkan sesama, sebaliknya Ia selalu menyatakan kasih dan mendatangkan damai sejahtra.

 

Ia mengajar dengan penuh kuasa dan  memberitakan Injil dengan kasih. Ia menolong orang-orang yang susah dan menyembuhkan orang-orang yang sakit.

Melalui kasih dan kuasa-Nya orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan, orang kusta ditahirkan, orang sakit disembuhkan, orang yang kerasukan setan dimerdekakan, dan orang mati dibangkitkan.

 

Yesus Kristus tidak pernah berbuat salah, tetapi Ia ditangkap dan diadili oleh pemimpin agama dan penguasa.  Ia menghadapi ketidak-adilan dan angkara murka dari kaum alim-ulama Yahudi yang dengki maupun pemerintah Roma yg represif. Semua itu diterima-Nya  dengan lapang dada.

 

Tuhan Yesus disesah dan disiksa. Ia dipaksa memikul salib menuju bukit Golgota. Dengan mengenakan mahkota duri di kepala-Nya, Tuhan Yesus dipaku di atas kayu salib yang nista.

 

Tuhan Yesus rela untuk menderita sampai mati di atas salib, karena Ia tahu bahwa itulah jalan untuk menyelamatkan umat manusia. Ia rela berkorban karena kasih-Nya pada orang-orang yang berdosa. Kitab Suci menyatakan:  “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1Ptr. 2:24).

 

Jalan salib memerlukan korban. Tuhan Yesus telah melaluinya.  Ia juga menghendaki agar kita mau memikul salib dan mengikut Dia. Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23).

 

Selamat hari Jumat Agung. Selamat berbakti dan selamat menerima Sakramen Perjamuan Kudus. Tuhan memberkati.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here