Hikmat Yang Membenarkan

0
218

Oleh: Pdt. Bernard TP. Siagian, M.Th.

1 Korintus 1:30b
“Yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Sejak Abad-abad sebelum Masehi, filsafat Yunani sangat kuat mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat Eropa Kontinental pada umumnya, khususnya penduduk Korintus dan wilayah sekitarnya di Asia Kecil. Tidak terkecuali orang-orang Korintus yang menjadi jemaat Kristen mula-mula. Mereka sangat mendambakan dan mengutamakan hikmat dan pengetahuan. Namun dampaknya menimbulkan kesombongan bagi mereka yang berpengetahuan dan mengakibatkan terjadinya perselisihan bahkan perpecahan di jemaat. Inilah yang terjadi di dalam jemaat Korintus. Jemaat terpecah dalam kelompok yang masing-masing saling mengunggulkan penginjil yang mengajar mereka dan penonjolan diri kelompok.

Mengetahui hal itu, rasul Paulus mengingatkan mereka tentang hakikat kekristenan. Bahwa bagi orang Kristen, sebagai orang beriman dan pengikut Yesus Kristus, salib Kristus adalah sumber hikmat. Bahwa salib Kristus adalah hikmat Allah. Oleh dan melalui salib Kristus itu Allah telah melenyapkan dan membinasakan hikmat dunia. Sebab bagi hikmat dunia salib itu adalah kebodohan. Namun dalam salib Kristus itulah Allah telah menyelamatkan orang berdosa dan dunia ini dari kebinasaan serta hukuman Allah. Sebagai hikmat Allah, bagi orang percaya salib Kristus itu menjadi sumber keselamatan. Sekaligus juga dengan salib Kristus Allah membinasakan hikmat dunia. (1:19)

Semua filsafat dan hikmat manusia adalah upaya mencari kebenaran dan untuk pembenaran diri. Namun demikian dalam pandangan Allah sungguh “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah.” Dengan perbuatannya manusia tidak dapat membenarkan diri di hadapan Allah. (Roma 3:9-11) Segala yang bersumber dari dunia tidak dapat menemukan kebenaran dan memenuhi standar Allah, sebaliknya justru menimbulkan penonjolan diri dan menyebabkan perselisihan. Manusia tidak dibenarkan oleh perbuatannya, namun oleh imannya. Iman yang datangnya dari Allah memberikan kepada manusia hikmat untuk mengenal perbuatan Allah di dalam Yesus Kristus. Itulah Injil yang membenarkan manusia di hadapan Allah, yang menguduskan dan menebus kita dari dosa.

Baca juga  SETARA Institute: Perkuat Langkah Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik

Bagaimana dengan kita yang memiliki hikmat dan ilmu pengetahuan? Apakah kita merasa lebih dari yang lain dan menjadi sombong? Jika demikian, berarti kita masih belum memiliki hikmat yang dari “Atas” yakni dari Allah. Hikmat yang dari Atas membuat orang semakin tunduk dan rendah hati. Karena itu datangnya dari Yesus. Yesus adalah Hikmat Allah yang dari Atas, dari Allah di sorga. Dialah Sumber Segala Hikmat. Dia sendiri adalah Hikmat yang bekerja dan berkuasa di dalam diri kita. Maka orang yang percaya akan salib Yesus Kristus memperoleh hikmat dari Allah. Bagi Dia dan orang yang percaya di dalam-Nya sorga terbuka. Namun bagi yang tidak percaya, ia telah ada di dalam penghukuman Allah. Sesungguhnya ia kini berada di ambang kebinasaan karena telah menolak hikmat Allah. Dalam salib Yesus kita belajar dan dapat memiliki hikmat Allah yang menyelamatkan, membenarkan, menguduskan dan menebus kita orang berdosa. Amin!

DOA:
“Ya Yesus Kristus, Sang Hikmat Allah, berilah kami hikmat-Mu untuk memikul salib dan mengikut Engkau. Selamatkanlah kami oleh hikmat-Mu. Amin!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here