PDT. WEINATA SAIRIN *MENDINAMISASI KOLABORASI LAI & GEREJA MENUJU AKHIR SEJARAH.*

0
254

_”Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah bahwa mereka dapat dipercaya”_  (1 Korintus 4 : 2)

Dalam dunia seperti yang kita

hidupi sekarang  ini, “dipercayai” dan atau mendapat “kepercayaan dari orang lain adalah suatu privelege. Bahkan kondisi seperti itu kadang-kadang bisa melahirkan rasa bangga bagi seseorang. Bukankah bisa menimbulkan rasa bangga jika seseorang disebut “orang kepercayaan Gubernur”, “orang kepercayaan Capres”, “orang kepercayaan Pimpinan BUMN” bahkan orang kepercayaan siapapun. Orang kepercayaan itu adalah orang yang memiliki relasi yang dekat dengan tokoh yang memberi kepercayaan itu.

Dalam beberapa tahun terakhir memang terjadi krisis kepercayaan dalam kehidupan kita. Ketidakpercayaan orang tua kepada anak dan juga sebaliknya; ketidakpercayaan antara anak buah dengan bos; ketidakpercayaan antara yang dipimpin dengan pemimpin; ketidakpercayaan antara rakyat terhadap pemerintah; yang paling kuat dan santer adalah ketidakpercayaan sebagian orang terhadap presiden. Sebagaimana kita ketahui ketidakpercayaan sebagian orang terhadap presiden telah melahirkan kelompok apa yang disebut Gerakan Ganti Presiden 2019, yang diberbagai daerah mengalami perlawanan karena dalam deklarasi yang dilakukan gerakan itu konon telah diwarnai oleh provokasi memecahbelah yang bernuansa agama, yang amat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam relasi antar manusia, baik dalam konteks pribadi maupun organisasi, memang peran kepercayaan, *trust* itu amat sangat penting. Bayangkan apa yang terjadi didalam rumah tangga jika suami dan istri hidup dalam saling tidak percaya. Setiap hari pasti ada suara-suara menggelegar di dalam rumah tangga oleh karena baik sikap, tindakan maupun kata-kata selalu dipersepsi negatif oleh kedua belah pihak.

Secara teoritis, seorang yang keimanannya kuat, beragama secara tekun dan konsisten adalah seseorang yang bisa dipercaya, yang _kredibel_; yang bisa memegang rahasia dan bukan _ember_; apalagi pengadu domba. Tapi dalam kenyataan empirik terkadang keberagaman itu tidak mewujudnyata dalam tingkah laku, kepribadian dan karakter seseorang. Agama belum menyaturaga dengan kedirian seseorang. Agama belum menjadi roh kehidupan manusia. Agama belum menyatutubuh dengan diri manusia. Agama, masih _dicangkok_ dalam tubuh manusia.

Voltaire orang yang dikenal ateis, suatu saat menyaksikan matahari terbit dengan ditemani seorang sahabatnya. Pada saat matahari terbit memekar dikelilingi awan yang cerah terjadilah pemandangan indah sehingga Voltaire berseru : “Oh Tuhan aku memujiMu!”. Dan sahabat Voltaire terkejut atas seruan itu. Keberagaman kita memang harus selalu dimunculkan dalam berbagai aspek kehidupan kita karena agama berada secara permanen dalam diri kita.

Ayat Alkitab yang dikutip dibagian awal tulisan ini adalah Tema Hari Doa Alkitab (HDA) 2018 “Menjadi Mitra Allah Yang Tepercaya”. Pada Minggu pertama bulan September setiap tahun LAI menyiapkan Liturgi dan Bacaan Khusus dalam rangka HDA, dan liturgi serta bacaan itu dalam kebersamaan digunakan di seluruh Gereja di Indonesia, apapun denominasi mereka. Pada kebaktian itu juga dihimpun Persembahan Khusus untuk LAI yang nanti akan digunakan untuk membantu dana penerjemahan Alkitab berbahasa Pakpak Dairi yang bernilai Rp 3.108.367.763,-. Alkitab itu digunakan oleh warga Gereja Kristen Protestan PakPak Dairi (GKPPD), Gereja anggota PGI ke-71.

Dalam perikop I Korintus 4:1-5 yang oleh LAI diberi judul “Tuhan adalah satu-satunya hakim” Paulus menegaskan memahami dirinya dan kawan-kawannya sebagai “hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah”. Penegasan itu penting untuk memahami siapa sebenarnya mereka dan apa fungsi mereka. Mereka bukan sosok sembarangan, mereka _dipercayakan rahasia Allah_.

Status Paulus dan kawan-kawannya serta ‘tupoksinya’ clear dan amat berat (4:1). Dalam konteks itu mereka dituntut untuk tetap menampilkan sosok yang _kredibel_ yang dapat dipercaya (4:2). Paulus mengajak umat untuk mengrmbangkan sikap positif thingking kepada mereka yang menjalankan tugas berat itu, sebab pada saatnya Tuhanlah yang akan menghakimi (4:4,5).

Paulus mendorong umat Kristiani untuk menjadi pribadi dan komunitas yang dipercaya, kredibel, memiliki _trust_ baik di lingkup Gereja maupun di lingkup masyarakat luas. Umat kristiani juga harus menjadi mitra tepercaya dari Allah dalam konteks rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dan dunia. Ditengah situasi yang mengedepan di dalam dunia sekuler yaitu situasi _distrust_ maka umat dan juga LAI harus mengembangkan sikap yg kredibel, penuh dengan trust dalam relasi dan pelayanannya.

Selama 64 tahun LAI  telah bermitra amat baik dengan Gereja-gereja di Indonesia. Keduanya hidup saling membutuhkan, Gereja-gereja membutuhkan LAI yang menyiapkan teks Alkitab yang secara teologi dapat dipertanggungjawabkan, LAI membutuhkan Gereja-gereja dalam hal teologi, daya, dana, pemikiran, SDM. Gereja dan LAI harus terus bersinergi, berkolaborasi, mengembangkan aliansi strategis agar Firman Allah, rahasia Allah (4:1) akan menjadi agenda utama disepanjang zaman hingga Maranatha. Hari Doa Alkitab 2018 harus menjadi momentum baru untuk makin memperkuat ikatan darah antara LAI dan Gereja-gereja di Indonesia.

Selamat ber-HDA. Selamat Merayakan Hari Minggu. God Bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here