Mentalitas Konsumen

0
283

 

 

Bacaan: 1Korintus 3:5-15

NATS: Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah (1Korintus 3:14)

 

Saya memiliki kegemaran membaca dan juga suka membeli buku. Akan tetapi, saya tidak suka apabila pihak penerbit menganggap saya sebagai “konsumen”. Kata consume dapat bermakna “menghilangkan sama sekali” atau “membuang-buang”. Definisi ini mengingatkan kita akan kebakaran hutan yang melahap berhektar-hektar tanaman, kemudian meninggalkan sisa pepohonan dan rumah yang hangus. Pada saat kita membaca buku, kita tidak mengonsumsi buku dalam artian seperti itu, karena buku tersebut tidak akan habis setelah kita baca. Yang terjadi sebenarnya sangatlah berlawanan. Buku menjadi bagian dari diri kita dan mengubah kita.

 

Hal ini terutama berlaku bagi Alkitab. Apabila kata-kata dari Kitab Suci tinggal di dalam diri kita, kata-kata tersebut akan menjaga kita dari dosa yang menghancurkan (Mazmur 119:11). Yesus mengatakan bahwa apabila firman-Nya tinggal dalam kita, maka kita akan berbuah banyak (Yohanes 15:5-8). Dengan kata lain, kita akan menjadi pembuat, bukan konsumen; pemberi, bukan penerima.

 

Rasul Paulus menunjuk orang kristiani sebagai “kawan sekerja Allah” (1 Korintus 3:9), yaitu orang-orang yang akan mendirikan bangunan yang tidak dapat “dikonsumsi” habis ketika melewati api penghakiman Allah (ayat 13-15). Selanjutnya, ia mendorong para pembaca untuk menggunakan berbagai karunia yang dapat membangun jemaat (14:12).

 

Sebagai orang kristiani, kiranya kita dikenal, bukan karena barang-barang yang kita konsumsi, melainkan karena buah-buah baik yang kita hasilkan –JAL

 

 

KEHIDUPAN YANG TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI AKAN MENGHASILKAN TUAIAN YANG KEKAL

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here