Nafsu yang Rendah

0
725

 

 

Oleh: Christian T

 

*Renungan BGA ( Baca Gali Alkitab )*

 

*Kejadian 25:19-34*

 

 

*Syallom, sahabat-sahabat-ku pembaca setia BGA yang terkasih dalam Kristus Yesus,*

 

Pembacaan BGA kali ini adalah seseorang yang telah memperlihatkan nafsunya yang rendah yang telah begitu mudahnya menjual hak kesulungan sebagai anak yang sulung, Esau kepada adiknya, Yakub.

Kedua anak ini memang kembar ketika dilahirkan, namun demikian keduanya memiliki sifat dan karakter yang berbeda dan sangat bertolak belakang. Esau badannya berbulu,suka berburu dan tinggal di padang, sedangkan Esau berperawakan halus, bersikap tenang dan sukanya tinggal di kemah.

Suatu hari setelah Esau pulang dari berburu, ia sangat kelelahan dan kelaparan, dan melihat sup kacang merah yang dibuat Yakub sangat menggoda dan menggiurkan, maka ia meminta izin untuk menghirupnya, itulah sebabnya dinamakan Edom, artinya ” merah “, untuk mengingatkan peristiwa ini (30).  Kelak Edom menjadi sebuah bangsa yang mendiami tanah yang sebelumnya bernama Seir (Bil 20:18-20, Kej 32:3) terletak di dataran bagian selatan dan tenggara laut mati, yang kelak bertetangga dengan Israel di timur dan selatan.[https://id.m.wikipedia.org/wiki/Edom]

 

*Sahabat-sahabat terkasih dalam Yesus,* dalam kisah Esau menjual hak kesulungan hanya demi semangkuk kacang merah ini telah menunjukkan betapa rendahnya nafsu Esau. Ia telah menunjukkan seorang yang  tidak peduli dan tidak bisa, dan tidak berpikir panjang atau memiliki visi jauh ke depan. Memang TUHAN telah mengatakannya sebelum mereka lahir bahwa dua bangsa akan ada dalam kandungannya dan akan berpencar, yang satu akan lebih kuat dan yang tua akan menjadi hamba kepada yang muda (23). Dalam peristiwa ini pula telah diperlihatkan peribadi seorang Esau yang cerdik, namun juga licik serta dapat memilah mana yang lebih utama dan juga dapat melihat visi jauh ke depan. Bagi Yakub, hak kesulungan yang adalah merupakan hak waris merupakan hal yang paling berharga dari semuanya. Sekalipun TUHAN sudah mengatakannya kepada ibunya, namun Ishak, ayahnya memperlakukan Esau sebagai pewaris kesulungannya. Perlakuan yang berbeda dari kedua orang tua ini terhadap kedua anaknya yang akhirnya menjadikan konflik kedua bangsa kelak. Hal ini juga menu julukan tidak ada komunikasi yang baik antara suami istri dalam memperlakukan dan mendidik anak-anaknya.

 

*Sobat,* pada BGA ini patut untuk kita renungkan bahwa janganlah kita memiliki nafsu yang rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungan atau hak waris hanya demi sesuatu yang hanya memuaskan kita sesaat. Pada zaman akhir ini ada banyak tawaran-tawaran dunia yang sangat menggiurkan, namun bersifat sementara dan nembinasakan.

1. Apakah hanya demi tahta, harta dan wanita yang bersifat fana, kita tega menggadaikan dan bahkan menjual atau menukarkan hak kesulungan kita, yakni hak waris kerajaan sorga ?

2. Apakah kita mau menggadaikan dan bahkan menjual atau menukarkan iman kita kepada Tuhan Yesus yang menjamin suatu tempat di sorga yang kekal, tidak ada ratap tangis atau perkabungan atau dukacita ?

3. Dan pada penghujung akhir zaman ini sangatlah penting menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dalam keluarga, antara suami dan istri, antara orang tua dan anak atau menantu, juga terhadap saudara, dan juga menjalin kedekatan hubungan  dengan  TUHAN, agar Iblis tidak dapat intervensi di dalamnya.

 

Kiranya damai sejahtera Kristus yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran kita semua.

 

Halleluyah.

 

Salam dan doa

Christian T

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here