PDT. WEINATA SAIRIN; MENABUR CINTA KASIH MENUJU PELABUHAN AKHIR

0
487

 

 

“Omnes eodem cogimur. Kita semua diarahkan ke titik yang sama”.

 

Hidup manusia adalah sebuah kehidupan yang dinamik, yang bergerak, yang dalam kondisi *terarah ke* atau *menuju ke*. Hidup manusia bukanlah sebuah kehidupan yang _stagnan_, yang berjalan ditempat, kehidupan yang “duduk manis” saja, kehidupan yang menunggu arah angin atau kehidupan yang menunggu “bola”, kehidupan yang pasif. Sebab itu orang bijak memberi narasi tentang kehidupan itu adalah sebuah _kata kerja_, sebuah _imperatif_, sebuah penugasan, sebuah kalimat perintah, dalam berbagai variannya. Hidup adalah sebuah perjuangan kata orang bijak. Hidup adalah melangkah dan melangkah, seberapa bisa engkau melangkah dan bukan berhenti berjalan; kata yang lain lagi. Kehidupan bukan hanya memandang jauh ke laut lepas, tetapi mengarungi lautan itu. Dalam konteks hidup yang bergerak dan dinamik itu, yang sejak awal sejarah memang di desain seperti itu oleh Khalik, Sang Pencipta, maka manusia diperlengkapi dengan akal budi, hikmat, kecerdasan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

 

Manusia yang sedang bergerak itu, dari _civitas terrena_ ke _civitas dei_, dari ‘kota dunia” ke “kota Allah” adalah manusia yang punya mimpi, punya cita-cita, punya keberanian, punya semangat, komitmen kepada kejujuran, tetapi tetap _humble_. Dalam hal cita-cita, seorang Gandhi pernah merumuskannya dengan padat dan bernas : “berusaha mencari, menemukan dan tidak menyerah”. Tiga kata kunci itu yang membuat Mahatma Gandhi nenjadi dirinya sendiri. Dalam era Gandhi kita bayangkan betapa sulitnya *mencari*, bagaimana perjuangan yang mesti dilakukan dalam *menemukan* dan tekad *tidak menyerah*. Dan Gandhi telah meneladankan bahkan memberi _legacy_ yang tiada ternilai maknanya bagi peradaban umat manusia.

 

Baca juga  Yang Diperkenan Allah

Napoleon orang besar itu pernah menyatakan “satu-satunya penaklukan yang kekal dan tidak meninggalkan penyesalan adalah _penaklukan atas diri kita sendiri_. Ini sebuah pernyataan dalam bahasa sederhana tapi memiliki kedalaman filosofis yang tiada tara. Ibadah Puasa yang kini tengah dijalani oleh saudara-saudara kita umat Muslim dalam arti tertentu adalah sebuah aktivitas *penaklukan diri sendiri* yang amat dahsyat. Menaklukkan, mengendalikan, mengarahkan diri kepada sesuatu yang positif yang bermakna di zaman _Now_bukanlah hal mudah dan sederhana. Berpuasa tidaklah bisa dimaknai sebagai aktivitas _mengubah jadwal _breakfast_, jadwal _lunch_ dan _dinner_ ditambahi menu yang spesifik : takjil atau kurma (nabi) dan sebagainya. Berpuasa adalah mengubah paradigma berfikir, mengubah mindset tentang pemaknaan hidup, tentang care dan sharing, tentang menahan lapar dan haus, tentang mengendalikan nafsu, tentang hakikat kaum dhuafa, tentang dunia masa depan tentang manusia sebagai khalifah Allah di bumi.

 

Ibadah Puasa harus juga dimaknai dalam konteks melakukan keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial, dan keseimbangan antara hablun minannas dan hablun minallah.

 

Kedalaman ibadah puasa yang bisa dielaborasi lebih jauh mengajak kita semua seluruh warga bangsa, yang tidak menjalankan ibadah Puasa Ramadan untuk terus menerus mendoakan dan menghormati bulan suci Ramadan, sehingga terwujud iklim kondusif bagi pelaksanaannya bahkan mampu melahirkan spiritualitas baru bagi saudara-saudara yang melaksanakannya demi hadirnya kesatuan visi dalam membangun secara bersama NKRI yang majemuk berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945.

 

Hidup yang bergerak dan dinamik juga membutuhkan keberanian. Keberanian untuk melangkah dan keberanian untuk menghadapi resiko apapun dari tindakan yang kita ambil. Tanpa harus belajar “manajemen resiko” kita harus sudah terbiasa mengkalkulasi resiko yang bakal dihadapi sambil menyusun semacam “contigency plan” sehingga kemantapan dalam menghadapi resiko bisa lebih terukur.

Baca juga  TINGGAL DALAM KRISTUS

 

Berbicara tentang _keberanian_ kisah tentang Presiden Roosevelt bisa menjadi inspirasi. Presiden Roosevelt adalah figur yang memiliki keberanian luar biasa. Ia dilahirkan dengan kedua matanya yang lemah, ia menjadi pemburu bermata tajam, seorang pembaca dengan pengetahuan luas, kemampuan canggih walau ia kehilangan fungsi salah satu pendengarannya, ia masih mampu mrmbedakan kicauan berbagai jenis burung. Walau tubuhnya menderita rasa sakit yang tiada tertahankan ia tetap mengerjakan surat-surat sampai ia jatuh pingsan. Tatkala pada akhirnya dokter pribadinya menyatakan ia tak boleh meninggalkan kursinya, Roosevelt meresponsnya dengan senda gurau : “Baiklah aku juga bisa hidup dengan cara itu!”

 

Keberanian, tekad, kedalaman spritualitas amat penting dan fundamental dalam kehidupan seseorang, siapapun dia. Jika seseorang memiliki hal itu apalagi dengan tingkat edukasi yang memadai maka ia akan lebih mampu menghadapi berbagai resiko dalam kehidupan.

 

Pepatah yang dikutip diawal tulisan ini menyatakan bahwa kita semua sedang berada pada posisi menuju titik yang sama, titik akhir, titik kulminasi, pelabuhan terakhir dari perjalanan ziarah dan kembara kehidupan yang secara populer disebut *kematian*. Kadang kita berusaha untuk melupakannya oleh karena kita takut atau belum siap menghadapinya. Orang yang dalam posisi puncak agak menutupi realitas kedekatannya dengan dunia kematian oleh karena ia merasa nyaman dengan jabatannya.

 

Hal penting yang diingatkan pepatah kita adalah bahwa kita sedang berada dalam proses bersama untuk memasuki garis finish. Durasi untuk menuju titik final itu sudah ada pada file Yang Diatas. Kita secara pribadi dalam kapasitas apapun tidak akan pernah tahu the secret file itu.

 

Sepanjang perjalanan menuju titik kulminasi itu banyak yang bisa kita lakukan : menanam pohon kebajikan, menebar cinta kasih kepada sesama tanpa mempertimbangkan keberbedaan yang ada.

Baca juga  TINGGAL DALAM KRISTUS

 

Oleh karena durasi waktu untuk menuju titik akhir itu adalah sesuatu yang sangat rahasia yang tidak kita ketahui dan tak seorangpun mengetahuinya maka perbuatan baik itu harus kita mulai sejak awal dan jangan ditunda-tunda.

 

Mari terus berbuat baik dalam ucap, sikap dan tindakan sambil kita terus berjalan menuju titik kematian.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here