Apabila Kita Merasa Putus Asa

0
4686

 

 

Oleh: P. Adriyanto

 

 

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?”

*Berharaplah kepada Allah!.

*Sebab aku bersyukur lagi  kepada-Nya, penolongku dan Allahku.”

“Mazmur 43:5”

Banyak orang yang merasa putus asa karena berbagai persoalan hidup yang mendera mereka: sakit yang tidak kunjung sembuh, bisnis yang terus merugi, menganggur dalam waktu lama, kesepian, mengharapkan memiliki anak yang tidak pernah terkabul, dan banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan mereka banyak mengambil keputusan untuk bunuh diri. Kita harus terus berharap kepada Tuhan karena Dia sanggup menolong kita.

 

Sekitar tahun 1982 secara kebetulan saya bertemu dengan seorang teman SMA dan teman kuliah. Badannya kurus dan raut wajahnya mencerminkan penderitaan hidup. Dia bercerita bahwa karena himpitan ekonomi, dia terpaksa menjadi tukang foto jalanan yang beroperasi di resort-resort hiburan di mana penghasilannya tidak menentu. Sudah 7 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak dan kemungkinan, katanya, disebabkan karena istrinya bekerja di laboratorium RSUD Syaiful Anwar di Malang, sehingga zat-zat kimia yang menyebabkan istrinya jadi mandul. Dia mengatakan sudah putus asa dan beberapa kali timbul pikiran untuk bunuh diri.

Saya tidak bisa membantu banyak kecuali berdoa dan menawarkan pekerjaan di BUMN tempat saya bekerja karena kantor utamanya yang berlokasi di Malang.

Tuhan memberkati teman saya, secara berangsur wajahnya mulai cerah yang bisa mencerminkan bahwa ia punya masa depan yang lebih baik. Puji Tuhan, prestasinya cukup baik dan saya bantu dia untuk menyelesaikan studinya. Dalam jangka waktu 2 tahun, dia sudah dapat saya beri kepercayaan untuk menjadi spesialis bidang internal audit. Beberapa tahun kemudian, pada saat saya berdinas ke Malang, saya berjumpa kembali dengan dia yang jarang berada di kantor karena tugas audit di proyek-proyek, dia mengatakan sudah punya momongan/anak.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Dari kisah hidup teman saya tersebut dapat kita simpulkan bahwa:

* orang yang tidak berputus asa akan mendapat pertolongan dari Tuhan.

 

* Tuhan yang menentukan jalan hidup manusia. Istri teman saya tidak mandul, tidak juga karena zat-zat kimia, tapi karena situasi batin teman saya yang selalu mengeluh dan tidak pernah merasa ada ketenangan yang menghambat mereka tidak mempunyai anak.

 

* Kita tidak boleh menduga-duga dan memprediksi nasib kita di kemudian hari, karena hanya Tuhanlah yang berhak.kenetapkan nasib kita.

 

Apabila kita menghadapi cobaan yang menyebabkan hati kita gundah gulana, kita harus datang kepada Yesus yang adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia dan yang mampu memberikan damai dalam hati kita.

Tuhan menghendaki kita tabah dan menguatkan hati kita sehingga kita tidak pernah merasa putus asa.

*”Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu.”*

*2 Tawarikh 15:7*

 

Iblis selalu berusaha agar manusia menjauhkan diri dari Tuhan dengan menumbuhkan rasa kecewa dan putus asa.

Firman Tuhan mengingatkan kita akan bahaya rohani di mana kita undur dari Tuhan.

¹ *”Waspadalah terhadap bahaya rohani! Berdirilah teguh di dalam Tuhan! Kuatkan diri dan bersikaplah sebagai orang dewasa! Apapun yang saudara lakukan, lakukanlah  dengan kebaikan dan kasih. “*

*1 Korintus 16: 13~14, FAYH*

 

² *”Tetapi Kristus, Anak Allah yang setia, berkuasa penuh atas rumah Allah. Dan kita umat Kristen adalah rumah Allah – jika kita tidak berputus harapan, melainkan tetap bersukacita dan tetap  bersandar kepada Tuhan sampai akhir.”*

*Ibrani 3:6, FAYH*

 

Orang yang mudah putus asa di samping tidak pernah memperoleh kesuksesan, juga menunjukkan kekecewaan kepada Tuhan dan berperilaku seperti anak kecil yang suka ngambek. Rancangan kita sebagai manusia jauh berbeda dengan rancangan Tuhan. Kita harus percaya bahwa rancangan Tuhan terhadap hidup kita adalah rancangan yang menyelamatkan.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here