Pdt. Weinata Sairin: Mewujudkan Kekristenan yang Elegan

0
534

 

 

“Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:23, 24)

 

Salah satu ciri signifikan para penganut dari agama yang menekankan hukum, fiqih, syariat adalah sikap yang amat menekankan pada aspek formalisme, ya formalisme keagamaan. Keberagamaan dan atau kesalehan seseorang diukur lebih pada seberapa taat, atau seberapa banyak ia melakanakan hukum hukum agama. Taatkah dalam melakukan ibadah, setiakah dalam memberikan persembahan, rutinkah dalam melakukan kidung pujian, dan sebagainya, dan sebagainya. Praktik ibadah yang nampak, yang berdimensi luaran, eksternal, yang kasat mata, yang bisa dilihat, hal-hal seperti itu yang acap menjadi titik perhatian.

 

Tidak dipedulikan bagaimana kualitas spiritual umat dalam menjalankan ibadah, tidak dipertanyakan apakah kurban persembahan itu merupakan respons terhadap berkat Tuhan atau sekadar aktivitas rutin dan penanda keberagamaan. Agama-agama berbasis hukum ini juga acap mempertontonkan suasana ‘takut’ dalam menjalankan ibadah, takut kena hukuman di hari kemudian.; sekaligus juga mempertontonkan kesalehan kepada publik dengan melakukan ibadah di tempat-tempat umum : di lapangan terbuka, di jalan raya, di depan toko dan sebagainya. Sikap formalistik dan legalistik dalam kehidupan beragama acap muncul sebagai penanda dari mereka yang menganut agama berbasis hukum, berbasis syariat.

 

Amos, sebagai nabi yang bekerja di Israel Utara sekitar tahun 786 SM berhadapan dengan realitas sosial yang amat menyedihkan. Terjadi penindasan manusia atas manusia di zaman itu, yang kaya menindas yang papa; ada ketidakadilan sosial dan celakanya upacara agama tidak memiliki titik singgung dengan moral manusia, agama dilaksanan hanya sebatas formalistik, ada paradox antara teks kitab suci yang dikotbahkan dalam ibadah, dengan realitas konkret manusia yang menindas manusia lainnya. Teks Kitab Suci tidak membuah dalam konteks sejarah manusia, Teks hanya tergolek sebagai teks, dan tak mampu mengubah kenyataan degradasi moral umat manusia. Tak ada relasi antara “altar dan pasar”, ada distorsi antara yang vertikal transendental dengan yang horisontal-imanen. No connection! Itulah sebabnya Allah melalui Amos di zaman itu memperdengarkan suaraNya yang amat tajam sebagaimana bisa kita baca dalam Amos 5 : 21-27 dalam perikop yang oleh LAI diberi judul “Ibadah Israel dibenci Tuhan”.

Baca juga  LAKUKANLAH HAL YANG KUDUS

 

Allah membenci ibadah Israel zaman itu, sebagai ibadah semu, ibadah yang sekadar basa-basi, ibadah yang riuh-rendah didalam rumah ibadah, tetapi segera sesudah mereka keluar dari rumah ibadah, mereka kembali menindas, bertindak amoral, melupakan identitas diri sebagai umat pilihan Allah yang mesti menampilkan kemanusiaan elegan agar banyak orang datang dan percaya kepada Allah.

 

Nyanyian pujian yang ramai, merdu, dengan koor yang bagus, lagu dengan genre gambus semua tidak disukai Tuhan jika itu semua hanya bentuk formalisme ibadah. Imperatif dari Allah amat jelas disitu yaitu agar keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir (Amos 5:24). Keadilan dan Kebenaran harus terus diwujudkan dan diperjuangkan oleh umat; nyanyian, persembahan ternak yang tambun, lagu gambus semuanya tiada makna jika umat melawan melawan Firman Allah.

 

Formalisme keagamaan tidak hanya menjadi milik umat Israel di zaman baheula, sikap seperti itu bisa saja melanda kehidupan kekristenan, sebuah “sistem agama” yang berbasis *anugerah* yang dibawa dan diajarkan oleh Yesus Kristus. Kekristenan kita, terutama di wilayah-wilayah yang bisa disebut ‘corpus christianum’ nyaris menjadi sebuah kekristenan yang diwarnai oleh roh kerutinan. Kekristenan yang tidak bangkit, yg tidak “amazing”, yang tidak “tremendus” lagi. Bahkan, sejauh hasil-hasil kajian itu benar, kekristenan “di kantong kantong kristen” sedang tergerus oleh nilai-nilai lain yang dianggap lebih amazing, tremendus, dan rasional.

 

Pada tanggal 6 April 2018 Lembaga Alkitab Indonesia menggelar acara bedah buku, yaitu memberikan catatan kritis masukan bagi produk LAI yang baru Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan. Alkitab edisi khusus ini memberikan perhatian khusus terhadap ayat/bagian Alkitab yang berbicara tentang hukum dan keadilan. Penerbitan khusus ini dimaksudkan agar Gereja/umat Kristen lebih diinspirasi, dimotivasi, dan didorong untuk makin meningkatkan karya dan kontribusinya di bidang hukum dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Imperatif untuk mewujudkan keadilan dan hukum banyak kita dapatkan di dalam Alkitab yang memberi dasar kuat bagi Gereja dan warga Gereja untuk tanpa takut dan lelah memperjuangkan keadilan, memajukam HAM dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

Baca juga  ALLAH SUMBER HIKMAT DAN KUASA

 

Firman Allah yang disuarakan nabi Amos dizamannya tetap memiliki relevansi bagi kita yang hidup di era digital di zaman “now”.

 

Pertama, kita dingatkan ulang bahwa keberagamaan kita tidak boleh terpenjara pada kerutinan, pada formalisme. Keberagamaan kita tidak boleh menjadi keberagamaan semu, artifisial, kosmetik, parsial dan ambivalen. Kekristenan yang bersumber dari Yesus yang bangkit adalah kekristenan yang tangguh yang tampil cantik, elegan, yng menerangi dan menggarami dunia.

 

Kedua, ibadah-ibadah kita yang didalmnya ada nyanyian; musik modern dan etnik, paduan suara seharusnya menjadi ekspresi iman yang bersukcita karena keselamatan yang Kristus anugerahkan.

 

Ketiga: teks Kitab Suci, ibadah, kesemuanya harus diartikulasikan dalam kehidupan konkret a.l. melalui perjuangan memberlakukan keadilan, dan program keterlibatan Gereja dalam pembangunan masyarakat.

 

Kita masih menikmati suasana Paskah, peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian. Kekekristenan harus bangkit menjadi energi yang memiliki power, ia harus dibebaskan dari penyakit “minority complex”. Ia harus menjadi komunitas yang memajukan peradaban dan pembela keutuhan NKRI.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here