Imanuel: Allah Beserta Kita

0
1581

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Matius 1:21-24

(21) Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (22) Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: (23) “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. (24) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, (25) tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

 

Siapakah Dia yang kita sembah dalam peristiwa Natal? Dia adalah Yesus. Mengapa Dia harus disembah? Karena Yesus adalah Imanuel. Arti Imanuel adalah ‘Allah beserta kita’. Mengenai istilah ini, Matius mengutip nubuat nabi Yesaya dalam Yesaya 7:14: Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

 

Nubuat ini disampaikan oleh Yesaya ketika Umat Tuhan yang pada waktu itu dipimpin oleh raja Ahaz dalam keadaan takut karena terancam. Dalam keadaan seperti itu Yesaya menubuatkan kedatangan seorang penyelamat. Dalam diri penyelamat itu Allah bekerja dan menyertai umat-Nya. Itulah sebabnya dia disebut Imanuel (Allah beserta kita).

 

Matius menyampaikan bahwa nubuat Yesaya itu digenapi dalam kelahiran Yesus. Melalui malaikat-Nya Allah memberitahu Yusuf tentang anak yang dikandung oleh Maria: Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:21-24).

 

Jadi, Yesus adalah manifestasi (penyataan) kehadiran Allah. Karena Yesus adalah manifestasi kedatangan Allah maka Ia layak disembah. Memang Yesus tampak dalam rupa manusia, sama seperti kita, tetapi dalam manusia ini Allah mewujudkan kehadiran-Nya. Ini adalah hal yang luar biasa. Allah yang selama ini dibayangkan jauh dari manusia, kini ada di antara manusia. Ini adalah berita yang patut membuat kita gembira. Yang tahu hal ini pasti bersyukur dan ingin menyembah-Nya. Mari kita andaikan dengan atasan kita di kantor atau di perusahaan. Namanya atasan, kita harus menghormatinya. Tapi kita jarang atau bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Kita hanya mendapat instruksi-instruksinya. Sekali waktu atasan itu datang dan menemui kita. Dia mau menyapa dan duduk bersama kita. Sudah pasti kita senang dan bahkan semakin hormat padanya. Demikianlah Yesus, karena Dia adalah wujud kedatangan Allah, maka yang tahu pasti menyembah-Nya. Ia menyembah-Nya karena Ia adalah wujud Allah dalam rupa manusia. Yang tidak menyembah-Nya sudah tentu karena tidak mengenal-Nya. Atau, mengenal-Nya tapi hatinya bebal (bandingkan dengan Raja Herodes, sudah diberitahu tapi malah ingin membunuh-Nya).

 

Kapan dan bagaimana kita menyembah-Nya? Ketika kita tahu kita harus menyembah-Nya. Lihatlah para gembala di padang Efrata, setelah malaikat memberitahukannya, mereka bergegas ke Betlehem. Lihat para Majus, ketika Allah memberitahu mereka melalui tanda alam, mereka berjalan ke Yerusalem. Di Yerusalem mereka mendapat informasi yang lebih jelas dari imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka terus mencari lokasi di mana Yesus berada. Karena tahu, maka baik para gembala dan para Majus pergi ke Betlehem untuk menyembah Yesus.

 

Sesungguhnya, hal mengetahui siapa Yesus adalah anugerah. Allah berkenan kepada para gembala dan para majus dan membuat mereka tahu. Maka berbahagialah orang-orang yang mendapat pengetahuanh tentang Yesus. Allah berkenan atas hidupnya dan mengasihi-Nya.

 

Lalu kita, dari mana kita tahu tentang Yesus? Dari Alkitab dan pemberitaan firman. Tapi juga ada yang menerima pengetahuan itu melalui tanda-tanda, peristiwa-peristiwa dan lain sebagainya. Seorang ibu merasa putus asa melihat kelakuan anak-anaknya yang jahat. Dia merasa gagal mendidik mereka. Ia berpikir bahwa Tuhan itu tidak ada karena doa-doanya selama ini tidak dijawab. Ia ingin bunuh diri dan mati saja. Ia berdiri di pinggir jembatan untuk menceburkan diri di sungai yang dalam. Ia ingin menjatuhkan dirinya di atas batu. Ketika memandang batu di dasar sungai itu, ia ingat sabda yang mengatakan bahwa Yesus itu adalah batu penjuru dunia. Dia bertelut dan berdoa, “Tuhan, Engkau mengendalikan dunia. Engkau dapat mengendalikan hidup dan masalahku.” Ia disadarkan oleh batu dan mengurungkan niatnya.

 

Jika kita mengenal Yesus, apakah dari firman-Nya, dari peristiwa dan masalah-masalah kita, jangan tunda untuk menyembah-Nya. Sujudlah di hadapan-Nya dan percayalah kepada-Nya.

Dengan cara apakah kita menyembah-Nya? Para gembala yang miskin datang kepada Yesus membawa hidupnya. Mereka tidak membawa apa-apa, mereka menunjukkan hatinya. Hati mereka diberkati dan menerima sukacita. Para Majus, karena mereka memiliki sesuatu untuk dibawa, mereka memilih yang terbaik dan mempersembahkan itu dengan ikhlas. Hati dan keikhlasan mereka diberkati. Mereka pulang dengan gembira. Jadi, apakah kita memiliki atau tidak memiliki sesuatu, jangan tunda untuk menyembah Yesus, jangan tunda untuk beribadah. Yesus melihat hatimu.

 

Banyak orang tidak lagi beribadah karena berpikir mereka tidak mempunyai apa-apa untuk dibawa kepada Tuhan. Yang lain berpikir saya terlalu miskin, saya tidak layak ke gereja. Yang lain lagi, berpikir saya bermasalah, saya tidak pantas ke gereja. Justru dalam kemiskinan dan pergumulanmu Tuhan memanggilmu untuk menyembah-Nya.

 

Seorang majelis dari sebuah gereja di Jakarta menceritakan pengalamannya kepada saya. Suatu pagi di hari Minggu dia pergi ke gereja dengan mobilnya. Dalam perjalanan dia melihat beberapa warga jemaatnya berjalan kaki. Dia kenal orang itu dan tinggal di tempat yang jauh. Sang majelis menyapa orang-orang itu dan mengajak naik mobilnya. Dia bertanya, kenapa mereka harus berjalan kaki, bukankah mereka bisa naik angkot. Dengan pelan seorang diantaranya menjawab, kalau kami naik angkot kami tidak punya kolekte lagi untuk persembahan kepada Tuhan. Jadi tiap minggu kami berjalan kaki.

 

Lihatlah, mereka datang ke gereja dengan hatinya. Kalau tidak mana mungkin mereka mau berlelah-lelah menempuh jarak yang lumayan jauh. Barangkali mereka lebih memilih tinggal di rumah daripada capek berjalan.

 

Yang paling utama dalam menyembah Yesus adalah menyembah-Nya dengan hati. Tanpa hati kita akan menjadi orang munafik. Kita akan penuh dengan kepura-puraan seperti Herodes. Gereja yang menyembah Tuhan tanpa hati akan mudah bertikai, menutup diri dan tinggal diam. Tak akan ada damai dari sikap seperti ini. Kita harus membuka hati dan datang kepada Yesus. Maukah kita datang dengan hati terbuka kepada-Nya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here