Membangun Kehidupan Beribadah

0
1580

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Mazmur 84:2-8

(2) Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! (3) Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. (4) Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! (5) Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. (6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! (7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. (8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.

 

Dalam suatu kebaktian hari Minggu, ruangan gereja tampak penuh oleh jemaat yang datang beribadah. Tuhan Yesus, yang selalu mengamati anak-anak-Nya dari surga, senang sekali. Anak-anak-Nya tetap setia bersekutu untuk beribadah kepada-Nya. Tapi, benarkah Tuhan Yesus senang? Ternyata tidak juga. Kenapa?

Ketika Tuhan Yesus mengamati dengan cermat, o la-la… di beberapa tempat duduk orang-orang saling mendekatkan kepalanya. Mereka saling berbisik. Dua orang pemuda saling menceritakan pengalamannya tadi malam. Suami-istri membicarakan masalah anak-anak mereka. Dua ibu-ibu menilai dandanan ibu-ibu yang lain. Dua bapak-bapak membahas rencana mereka usai ibadah. Yang lain lagi, Tuhan melihat beberapa jemaat menatap ke depan. Seolah-olah menaruh perhatian pada khotbah, tapi sebenarnya pikirannya melayang. Ada yang kesal kepada teman kantornya. Ada yang menghitung-hitung laba yang akan diraihnya besok. Di bangku lain? Beberapa orang tampaknya memandang serius Alkitabnya yang lagi terbuka. Tapi ternyata mereka tertidur. Di beberapa deretan bangku yang lain, orang-orang tak sabar lagi segera beranjak pulang. Rupanya pengkhotbah hari itu bukan idolanya. Tuhan Yesus sedih. Anak-anak-Nya datang beribadah, tapi hatinya tidak tertuju pada-Nya.

Baca juga  LAKUKANLAH HAL YANG KUDUS

Itulah serangkaian sikap yang mewarnai peribadahan kita. Bagaimana dengan sikap kita? Masing-masing dipersilahkan menilai dirinya. Kalau kenyataannya seperti itu, siapa yang patut disalahkan? Pendetakah, liturgi yang monotonkah, musik dan lagu yang tidak meriahkah?

Sebelum kita mempersalahkan siapa-siapa dan apa-apa, mari kita renungkan pertanyaan ini: Mengapa kita datang beribadah?

Pembacaan kita kali ini mengajarkan kepada kita suatu segi penting yang harus kita miliki dalam hal beribadah. Segi itu adalah motivasi. Datang beribadah tanpa motivasi yang benar, tidak akan menolong kita mengalami ibadah yang sesungguhnya. Apa dan bagaimanakah motivasi beribadah yang benar itu?

Dalam ayat 3 pemazmur berkata: “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.” Pemazmur memiliki kerinduan bertemu Tuhan. Tiap-tiap kali ingin bertemu Tuhan di rumah-Nya (bait-Nya) dia mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Ia menata hati dan dirinya. Sebelum datang beribadah ia selalu mengingat bahwa Tuhan itu adalah sumber kekuatan dan Penolong dalam hidupnya.

Jika ia mengingat Tuhan, ia merasa kecil di hadapan-Nya. Ia merasa tidak layak. Ia penuh kekurangan. Namun Tuhan memanggilnya untuk datang menyembah-Nya. Karena itu ia merasa senang. Ia datang beribadah dengan hati yang gembira. Jika ia datang ke rumah Tuhan, Tuhan akan menguatkan dan melengkapinya. Itulah sebabnya hatinya selalu diliputi rasa rindu untuk bertemu Tuhan.

Singkat kata, pemazmur memahami bahwa tanpa Tuhan hidupnya akan menjadi sia-sia. Tanpa Tuhan keselamatannya tidak terjamin. Sungguh, ia sangat membutuhkan Tuhan dalam hidupnya!

Saudara-saudara, hanya jika kita merasa membutuhkan Tuhan dalam hidup kita, kerinduan bertemu Tuhan di rumah-Nya akan memenuhi jiwa kita. Dapatkah kita berkata bahwa kita tidak membutuhkan Tuhan? O hanya orang-orang angkuh dan congkak hati yang menjawab tidak.

Baca juga  BERSANDARLAH KEPADA YANG KEKAL

Tuhan sangat kita butuhkan kehadiran-Nya dalam studi, pekerjaan, rumah tangga dan masa depan kita. Jika kita mengingat hal ini, niscaya kita datang menghadap Tuhan dalam ibadah dengan hati yang gentar. Kita akan menata hati dan diri kita sejak mempersiapkan diri dari rumah.

Membangun kehidupan yang beribadah, ternyata berawal dari diri kita. Dari hati kita sendiri. Ibadah yang sesungguhnya tidak tergantung pada pengkhotbah, liturgi, musik dan nyanyian. Itu bergantung pada kesadaran dan penghayatan kita akan keagungan Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here