Kamu adalah Garam Dunia

0
5256

Oleh: Stefanus Widananta

 

Matius 5:13a

 

Menjelang hari Natal, di pelbagai tempat, hotel, pusat perbelanjaan, rumah makan bahkan rumah sakit dan tempat-tempat umum lainnya, kita bisa melihat pernak-pernik Natal.

Namun, pernak-pernik Natal bukan lambang dari orang percaya, menurut Yesus, lambang orang percaya yang paling sentral adalah “garam”.

 

Jika kita gagal menjadi “garam dunia”, otomatis gagal pula kita sebagai pengikut Kristus dan kata Yesus, kita tidak ada gunanya lagi, selain dibuang dan diinjak orang, tidak beda dengan “sampah”.

Dalam khotbah, “Kristen garam dan kristen semut”, yang menjadi pertanyaan, mengapa Yesus memilih sebuah kiasan yang tidak membanggakan (garam), untuk sesuatu yang amat membanggakan (menjadi pengikut Kristus).

 

Jawabnya adalah karena Ia hendak menekankan betapa kebanggaan seorang pengikut Kristus itu tidak terletak pada hal-hal yang eksternal, tidak terutama ditentukan oleh hal-hal yang kasat mata.

Garam seharusnya memiliki kebanggan fungsional, bukan kebanggaan eksternal.

Ketika kita bisa menggarami sekeliling kita, membuat orang banyak se”kristiani” mungkin, itu adalah kebanggan fungsional.

 

Namun, menjadi “garam” pun belum jaminan, sebab bukan garamnya yang penting, tapi asinnya, garam tidak ada gunanya kalau tidak asin.

Lalu siapakah yang dimaksud Yesus “garam yang tidak asin”itu? Tidak lain adalah orang percaya, yang mungkin memiliki banyak hal, tapi tidak fungsional, artinya keberadaan kita tidak punya dampak positif terhadap sekeliling kita.

Kita adalah garam dunia, kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk Tuhan dan sesama, kalau kita hidup hanya untuk diri kita sendiri, kita tidak beda dengan garam yang tawar, tidak ada gunanya, kata Yesus.

 

Tuhan Yesus memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here