Jadilah Teladan Bagi Orang Lain

0
1248

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

1 Tesalonika 1:2-10
(2) Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. (3) Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. (4) Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. (5) Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. (6) Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, (7) sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. (8) Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. (9) Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, (10) dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Beberapa gereja di Jakarta sering mengundang pembicara atau pengkhotbah dari luar negeri. Umumnya mereka berbicara dalam bahasanya sendiri. Supaya dapat dimengerti oleh peserta yang umumnya berbahasa Indonesia, maka ditunjuklah orang yang dapat menerjemahkan. Tugas penerjemah sungguh berat. Sebagai perantara dia harus dapat menyampaikan dengan jelas, benar dan utuh pesan dari pembicara. Jika si penerjemah sendiri tidak memahami maksud pembicara, sudah pasti ia akan sulit meneruskan pesannya. Kalaupun dipaksakan, akan menyimpang dari maksud pembicara.
Demikian juga pekerjaan pemberita Injil. Ia harus berusaha menyampaikan pesan Injil dengan baik. Injil harus terberitakan sebagaimana maksud dan tujuannya. Isinya tidak boleh menyimpang dari kehendak Allah, walaupun cara menyampaikan dapat disesuaikan dengan daya tangkap si penerima. Pesannya harus dapat dimengerti dan bukan membuat orang menjadi bingung.
Karena itu, setiap pemberita Injil harus setia pada Injil. Tanpa kesetiaan, tidak ada penyerahan diri. Tanpa penyerahan diri, Injil yang diberitakan bisa jadi “injil” versi sendiri. Yang diberitakan adalah apa yang diingini, apa yang disukai dan apa yang disenangi oleh si pemberita. Fatalnya lagi, dia lebih banyak menceritakan dirinya supaya makin populer. Kadang juga memuji-muji orang tertentu supaya disenangi dan mendapat dukungan. Langkah seperti ini dapat mengaburkan makna Injil bagi orang lain.
Pemberita Injil harus mengerahkan segenap kemampuannya (sebagai wujud penghambaannya pada Yesus) untuk “menerjemahkan” Injil kepada para pendengar. Paulus adalah contoh pemberita Injil yang baik. Ia adalah hamba. Ia hanya memberitakan pesan Allah. Katanya, “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku” (Kol. 1:27-29). Dalam pemberitaannya, Paulus sangat mengutamakan Tuhan dan rencana-Nya.
Sebagai murid-murid Kristus, kita adalah pemberita-pemberita Injil. Kita dipanggil untuk menerjemahkan Injil dalam kehidupan kita. Kita harus memiliki kesetiaan pada Injil. Kita harus menghayatinya terlebih dahulu, sehingga, seperti kata Paulus, “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh” (1 Tes. 1:5). Ada kesetiaan, ada penghayatan dan ada pertolongan Roh Kudus. Itulah yang membuat kita dapat mengabarkan Injil kepada dunia ini dengan jelas dan benar.
Injil tidak mungkin memberikan daya tariknya jika hanya menjadi renungan di dalam hati. Makna dan pesannya harus keluar dalam bentuk nyata melalui perbuatan. Dengan kata lain, kita harus menjadi contoh (teladan) sehingga orang melihat Injil yang hidup dalam diri kita. Pemberitaan Injil yang paling efektif adalah melalui cara hidup kita di hadapan sesama. Mari kita bertanya, Apakah lingkungan sekitar kita respek terhadap kita atau malah menolak kita? Jika Injil membawa manfaat (pengaruh yang baik) mereka tentu akan respek. Sebaliknya, jika Injil tidak memberi faedah, malah membuat kita seperti kelompok yang eksklusif, sudah pasti mereka pun menutup diri bagi kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here