Pdt. Weinata Sairin: Menanti Hari Tuhan

0
598

 

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita seperti dibiasakan oleh beberapa orang tetapi marilah kita saling menasihati dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”. (Ibrani 10 : 25)

 

Pada abad-abad pertama, tatkala komunitas kristen merambah ke berbagai wilayah, sementara penghambatan, persekusi, penganiayaan terhadap umat Kristen juga makin menguat yang kemudian melahirkan para martir (para _syuhada_, mereka yang mati syahid karena membela agama), istilah “hari Tuhan”, the day of the Lord, _youm yahwe_ menjadi amat terkenal. Hari Tuhan adalah hari yang di dalamnya Tuhan Yesus akan datang kedua kali menjemput umat manusia yang percaya kepadaNya dan membawanya masuk kedalam Kerajaan Allah. Aniaya yang mendera kehidupan umat Kristen pada abad-abad pertama menyebabkan mereka semua sangat merindukan kedatangan Hari Tuhan, yang akan membebaskan mereka dari persekusi dan aniaya yang mereka hadapi.

 

Sejak awal kekristenan memang ditolak dan dimusuhi oleh dunia. Dunia tidak wellcome terhadap kekristenan. Yesus sendiri dihina, dlbenci, dihiujat bahkan ia mesti mati dikayu salib karena ajaran dan performanceNya yang secara teologis dan politis tidak disukai banyak orang.

 

Namun kekristenan justru berkembang melalui berbagai aniaya dan persekusi yang dihadapi. ” Darah para martir adalah benih Gereja”. Itu ungkapan lama yang menyatakan bahwa kekristenan yang bersumber dari Injil sebagai kekuatan Allah, _dunamos Allah_ tidak pernah bisa dihentikan oleh kekuatan manusia. Paulus sendiri yang bertobat menjadi Kristen karena ia berhadapan dengan penampakan surgawi menegaskan bahwa tubuhnya bisa saja dipenjara, tetapi Firman Allah tidak bisa terbelenggu. Kekuatan dahsyat Firman Allah tak bisa tertandingi oleh kuasa apapun.

 

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

Istilah “hari Tuhan” sudah dikenal pada zaman Perjanjian Lama misalnya dalam Kitab Amos, Yesaya yang menunjuk pada saat Yahwe akan campur tangan untuk memposisikan Israel menjadi kepala atau pemimpin bangsa-bangsa. Hari Tuhan juga difahami sebagai hari penghakiman bagi Israel oleh karena dosa-dosa mereka sudah terlalu besar. Dalam Perjanjian Baru istilah “hari Tuhan” banyak digunakan untuk menunjuk pada kedatangan Yesus kedua kali. Menurut beberapa literatur istilah “hari Tuhan” sejak abad ke-2 juga dikenakan untuk hari Minggu, sebagai peringatan hari kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.

 

Penulis Surat Ibrani mengajak para pembacanya untuk tidak menjauhkan diri dari berbagai pertemuan ibadah. Sikap itu dianggap kontra produktif dalam membangun persekutuan yang pada gilirannya akan memperlemah persekutuan. Kondisi apapun yang dihadapi umat tak boleh membuat mereka meninggalkan aktivitas persekutuan. Bahkan penulis Ibrani mendorong umat untuk makin giat dalam aktivitas *saling menasihati* menjelang hari Tuhan yang mendekat. Penyebutan “hari Tuhan yang mendekat” secara sengaja ditekankan agar umat makin termotivasi dan terpacu untuk aktif menghadiri pertemuan-pertemuan ibadah.

 

Kita yang hidup dizaman ini acap menghadapi kendala dalam menghadiri pertemuan-pertemuan ibadah kita. Bisa karena gedung Gereja yang terhambat IMBnya, bisa karena kita hidup dilingkungan masyarakat non Kristen yang amat kuat kadar keagamaan dengan roh intoleransi; bisa karena faktor ekonomis, politis dan beragam faktor lainnya. Hari Tuhan, hari kedatangan Yesus  kedua kali akan tetap dan pasti terjadi sesuai dengan jadwalNya. Kekristenan harus tetap menunjukkan wajahnya yang cantik, elegan, penuh cinta kasih, ditengah NKRI yang majemuk, yang mengalami banyak kegaduhan berbau sara. Kekristenan harus menjadi entitas yang menggarami, menerangi dan mengasihi tanpa lelah dan jemu.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here