Pdt. Weinata Sairin: “Semper avarus eget. Orang yang serakah selalu menuntut”.

0
741

Serakah selalu memiliki konotasi yang negatif. Orang yang serakah hampir selalu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya. Ia meminta lebih dari yang lain. Bahkan orang lain harus rela tidak mendapat apa-apa demi kepuasan dirinya. Salah satu nasihat yang diberikan oleh orangtua kepada kita anak-anaknya adalah “jangan serakah”, “harus bersedia untuk berbagi dengan orang lain”. Pada saat itu orang tua memberikan contoh yang amat jelas dan praktis bagaimana mempraktekkan hidup yang tidak serakah. “Ini ada 5 buah mangga, ayo bagi secara merata dengan kawanmu itu. Kamu beri kawanmu 2 buah, kamu ambil 2 buah dan sisanya 1 buah itu untuk kawan lain jika nanti ia datang. Jika sekarang kamu ambil 3 buah dan kawanmu kamu berikan 2 buah, maka itu berarti kamu *serakah*!”

 

Nasihat yang diberikan oleh orang tua kita pada waktu kita kecil tentang “serakah” masih tetap terngiang-ngiang bahkan terbawa saat kita dewasa dan menjadi orang tua. Serakah, rakus, loba, tamak adalah orang yang cinta kepada hal-hal duniawi yang mewujud dalam bentuk harta benda yang berlebihan. Orang serakah selalu ingin harta benda itu tanpa mempedulikan lagi aturan-aturan yang ada bahkan yang juga bertentangan  hukum agama.

 

Dalam kehidupan praktis sekarang ini sifat-sifat tamak, serakah, loba dan rakus sangat jelas hadir didepan kita. Ada banyak orang yang gelisah karena merasa bahwa apa yang ia miliki tidak seberapa nilainya. Padahal kawan-kawan lain yang sebaya dan sekampung dengan dia malah sudah amat maju, kendaraannya ada beberapa buah, lahannya ada dibeberapa tempat, hartanya tak terhitung banyaknya.

 

Kegelisahan seperti itu yang kemudian melahirkan nafsu korupsi. Korupsi, sogok, suap, mark up proyek semuanya dilakukan demi  memenuhi hasrat kerakusan dan ketamakannya.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Semua agama menentang sifat serakah, loba, rakus dan tamak yang ditampilkan oleh manusia. Manusia sebagai khalifah Allah, dan dalam kapasitas _imago dei_ seharusnya tidak dalam posisi menjadi manusia yang serakah. Manusia harus mengembangkan hidup _ugahari, hidup_ yang sederhana, yang cukup dengan yang ada, yang mensyukuri apa yang Tuhan sudah anugerahkan. Sikap iri hati, sikap mumpungisme, sikap menyalahgunakan jabatan demi keuntungan pribadi dan para kroni harus ditinggalkan.

 

Sifat non-serakah harus menjadi gaya hidup kita sebagai umat beragama, sifat ugahari, mencukupkan diri dengan yang ada, harus menjadi pembiasaan. Jika hal itu sudah menjadi pembiasaan maka dalam periode berikutnya akan bisa menjadi bagian integralndari kepribadian kita.

 

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini mengingatkan bahwa orang serakah itu selalu menuntut. Ya menuntut, complain, merasa kurang adalah tipikal orang serakah. Mari tinggalkan sifat  serakah yang mungkin masih ada dalam kedirian kita!

 

Selamat berjuang! God bless.

 

Weinata Sairin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here