Jangan Kuatir Akan Hidupmu

0
6810

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Lukas 12:22-32

(22) Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. (23) Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian. (24) Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! (25) Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? (26) Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? (27) Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. (28) Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya! (29) Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. (30) Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. (31) Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. (32) Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.

 

Apakah kuatir, cemas dan takut itu salah? Apakah orang yang kuatir, cemas dan takut itu kurang beriman? Tidak! Tokoh-tokoh besar dalam Alkitab juga diliputi perasaan kuatir, cemas dan takut. Ada beberapa contohnya. Yakub, Elia, Yeremia dan bahkan Yesus sendiri, pernah merasakannya.

Rasa takut ataupun kuatir adalah karunia Tuhan. Dengan karunia ini kita mempunyai kepedulian, sayang, cinta dan kasih kepada orang lain. Karunia ini juga diberikan Tuhan sebagai ‘rem’ dalam hidup kita. Kita direm untuk tidak berbuat dosa. Misalnya, orang yang melakukan korupsi, selalu ada perasaan was-was, takut dan kuatir dalam dirinya. Sadarlah bahwa pada saat itu kita sedang direm untuk tidak melakukannya. Rasa takut dan kuatir merupakan ‘lampu merah’ supaya kita tidak meneruskan sesuatu yang salah.

Kalau rasa kuatir, cemas dan takut itu baik dan manusiawi, mengapa Tuhan, dalam bacaan kali, mengatakan supaya kita tidak kuatir dalam hidup kita? Firman Tuhan ini berbicara mengenai dua hal.

Pertama, kuatir yang pada tempatnya itu baik. Tetapi kuatir ketika sebenarnya tidak perlu kuatir, itulah yang salah. Yang dipersoalkan oleh Yesus adalah, kalau kekuatiran kita mengenai kebutuhan-kebutuhan hidup telah menjadi sedemikian rupa, sehingga melebihi kekuatiran kita mengenai hidup itu sendiri. Itu yang ditekankan oleh Yesus dalam ayat 23: “Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu itu lebih penting dari pada pakaian.” Misalnya, orang ingin menjadi kaya dan memiliki rumah yang megah. Ia kuatir, kalau-kalau ia tidak mewujudkan impiannya itu. Demi impiannya itu, ia menempuh segala cara, asalkan berhasil. Ia tidak pedulikan lagi kehidupannya dalam iman. Ia merendahkan martabat hidupnya sendiri. inilah yang dilarang oleh Yesus.

Kedua, kuatir itu wajar. Tapi jangan kekuatiran itu menguasai seluruh hidup kita. Ayat 25 mengatakan: “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?” Hidup yang dikuasai oleh kekuatiran tidak akan menolong, malah merugikan kita dan mungkin mengurangi umur.

Ayat 30 berkata: “…Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.” Artinya, Tuhan barangkali tidak akan memberikan semua yang kita inginkan, tetapi Ia tahu dan Ia akan memberikan hal-hal yang kita butuhkan.

Orang yang hidupnya hanya dikuasai oleh kekuatiran, adalah orang yang hidupnya tidak dikuasai oleh Tuhan. Ia hanya berpegang pada kekuatirannya, tidak lagi berpegang pada Tuhan.

Banyak orang yang begitu panik menghadapi persoalan di dalam hidupnya, lalu tidak peduli lagi kepada Tuhan. Ia berpaling pada kuasa-kuasa lain, termasuk kuasa kegelapan. Yesus berkata: “Semua ini dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (ayat 30). Tetapi kepada kita yang mengenal Allah, Yesus berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Mungkin kita bertanya: Apakah ada jaminan atas kata-kata Yesus itu? Ini adalah soal iman. Iman itu bukan sekedar percaya. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita memeprcayakan diri kepada-Nya. Ketika kita bersedia mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya, maka kuasa Tuhan juga bekerja dengan sepenuhnya dalam hidup kita. Seringkali kita tidak merasakan kuasa Tuhan itu, karena kita tidak memebri kesempatan yang speenuhnya kepada Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya.

Yesus berkata: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu” (ayat 32). Kita memang kecil, namun kita punya Allah yang besar! Bahkan Mahabesar! Kuatir boleh, tapi jangan biarkan itu menguasai hidup kita.

Perkataan-perkataan di atas disampaikan oleh Yesus untuk mempersiapkan mereka menjalani kehidupan imannya dalam dunia. Ia mempersiapkan mereka, sebab jika tiba saat-Nya Ia meninggalkan mereka, mereka telah dikuatkan.

Hari ini kita merayakan peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Dia tidak naik lalu meninggalkan kita. Dia tetap menyertai kita. Jika pun kita menghadapi banyak persoalan, termasuk persoalan di sekitar kebutuhan-kebutuhan kita, Dia tetap menyertai kita.

Janganlah kuatir, Ia tahu akan apa yang kita butuhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here