Tim WISSEMU UNPAR Segera Melanjutkan Petualangan ke Titik Tertinggi di Amerika Selatan

0
364

Tim Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar Segera Melanjutkan Petualangan ke Titik Tertinggi di Amerika Selatan

 

Bandung, Suarakristen.com.,

 

Setelah berhasil mengibarkan bendera merah putih di Gunung Carstenz Pyramid, Papua, Indonesia pada Agustus 2014 dan Gunung Elbrus, Rusia serta Gunung Kilimanjaro, Tanzania pada Mei 2015 lalu, Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) bersiap melanjutkan petualangannya menuju Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, yang merupakan puncak tertinggi di Benua Amerika Selatan dan puncak tertinggi kedua dalam rangkaian seven summits setelah Gunung Everest.

Lima tahun silam tepatnya pada 9Januari 2011 Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans dan Broery Andrew Sihombing tiga dari empat orang anggota Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) berhasil menggapai puncak Gunung Aconcagua yang kemudian pada 29 Januari 2011 menyusul Janatan Ginting anggota terakhir dari Tim ISSEMU yang menyelesaikan pendakian ini.

Sekarang terdapat tiga orang pendaki wanita yang memiliki mimpi untuk kembali mengibarkan bendera merah putih di Puncak Gunung Aconcagua. Fransiska Dimitri Inkiriwang (22), Mathilda Dwi Lestari (22), dan Dian Indah Carolina (20), tiga mahasiswi aktif Universtias Katolik Parahyangan yang tergabung dalam Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar.

Keberangkatan ke Argentina yang adalah negara tempat Gunung Aconcagua ini bertengger akan dilakukan pada 11 Januari 2016 hingga  5 Februari 2016. Panjangnya rute perjalanan dan kenaikan ketinggian gunung yang cukup drastis membuat perjalanan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk didaki.

Selain jalurnya yang panjang, Aconcagua yang terletak di jajaran Pegunungan Andes memiliki cuaca dingin yang ekstrim ditambah badai angin yang sangat berbahaya dan dikenal dengan sebutan el viento blanco. Angin kencang yang kabarnya dapat mencapai 90 km/jam bertiup bersamaan dengan kabut yang  ditambah dengan hujan salju merupakan gambaran sederhana dari badai berbahaya ini. Menurut beberapa pemberitaan media, el viento blanco ini juga yang diduga menjadi penyebab meninggalnya salah satu pendaki berpengalaman dari Indonesia yaitu (Alm) Norman Edwin dan rekannya (Alm) Didiek Samsu (tahun 1992) pada saat melakukan ekspedisi seven summits kala itu.

Baca juga  Menteri PPPA Yohana Yembise Ajak Perempuan Gunakan Kapasitas Maksimal dalam Seminar BEM UPH ‘Perempuan dan Kapabilitasnya’

Sulitnya jalur pendakian Aconcagua ini, membuat persiapan dan perencanaan yang matang sangatlah diperlukan. Latihan fisik seperti lari dan latihan beban ditambah dengan yoga menjadi jadwal harian dari setiap anggota tim demi menambah endurance dan kekuatan mental dari anggota tim. Ditambah lagi dengan bedah peta, latihan teknik navigasi dan persiapan alat-alat yang mendukung pendakian, semua  dipersiapkan dengan matang demi lancaranya perjalanan ini.

Dengan keberangkatan menuju Gunung Aconcagua ini semakin mendekatkan Tim WISSEMU untuk mencapai tujuh gunung tertinggi d tujuh benua. Apabila pendakia ini behasil akan tersisa tiga guunung lagi dari rangkaian seven summits yang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dan membutuhkan usaha yang lebihdiabandingkan gunung-gunung sebelumnya.

Ketujuh puncak yang merupakan seven summits meliputi Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Indonesia (Oseania), Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania (Afrika), Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia (Eropa), Aconcagua, 6.962 mdpl di Argentina, (Amerika Selatan), McKinley/Denali (6.194 mdpl) di Alaska (Amerika Utara), Vinson (4.897 mdpl) di Ellsworth Range (Antartika), serta Everest (8.850 mdpl) di Nepal (Asia).

Demikian disampaikan, mohon doa dan supportnya kiranya ekspedisi ini dapat berjalan lancar dan mencapai prestasi yang membanggakan untuk negara Indonesia.

Kiranya informasi ini dapat bermanfaat, serta mohon bantuannya untuk dapat mempublikasikannya. Atas perhatian dan batuannya kami mengucapkan terimakasih.

Dukungan penuh dari Universitas Katolik Parahyangan

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) adalah sebuah instansi pendidikan yang terletak di Kota Bandung. Selaku bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa Unpar, Mahitala senantiasa selalu dibantu dan didukung dalam melakukan ekspedisi ini. Bantuan doa, moral, dan bahkan dana yang senantiasa diberikan tentu menjadi bukti bagaimana Unpar sungguh berkomitmen penuh dan terlibat langsung dalam ekspedisi ini.

Baca juga  3 Teknologi Kedokteran Gigi ini Pikat Peserta Konferensi IDEC 2019

Berhasil berangkatnya tim ini menuju ke Gunung Aconcagua, Argentina sekarang , tentu adalah hasil jerih payah dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak ada henti dan tidak ada lelahnya. Melalui press release ini tim WISSEMU bersama dengan Unpar ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga semua harapan dan tujuan yang ingin dicapai melalui ekspedisi ini dapat tercapai dan menjadi berkah bagi kita semua.

 

Salam WISSEMU,

Mahitala!

Tim Publikasi WISSEMU 2015

Contact Person:

Alfons Yoshio (087885836238)

alfonshartanto@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here