Partisipasi Publik di Era Normal Baru

0
39

EDITORIAL MEDIA INDONESIA

 

Partisipasi Publik di Era Normal Baru

 

*SALAH satu penentu sukses atau tidaknya implementasi sebuah kebijakan ialah seberapa besar partisipasi masyarakat*. Pun demikian dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan tatanan normal baru di tengah pandemi covid-19 yang masih menyandera bangsa ini.

*Tatanan normal baru atau new normal ialah pilihan rasional*. Ia, mau tidak mau, suka tidak suka, harus dijalani karena sampai detik ini belum diketahui kapan ekspansi covid-19 akan usai. *Kita jelas tidak mungkin terus menunggu dalam ketidakpastian, sementara ekonomi harus kembali menggeliat demi menopang kehidupan rakyat.*

*Di era new normal, kita bisa tetap menjalankan aktivitas normal, tapi mesti membarenginya dengan penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan covid-19.* _Di sini, perubahan perilaku menjadi kunci._

*Namun, tatanan normal baru juga punya risiko besar*. Jika penerapannya sembarangan, ia bisa menjadi bumerang. *Jika masyarakat abai dengan rambu-rambu yang ditentukan, ia dapat meninggikan kembali tingkat penularan*. Jika pemerintah tak tegas, _ia membuka peluang terjadinya penjajahan virus gelombang kedua._

*Penerapan tatanan normal baru pantang gampangan*. Sejumlah kriteria ketat yang telah ditetapkan mutlak dipatuhi tanpa ada kompromi. *Tiga indikator utama untuk menilai kesiapan daerah, yaitu gambaran epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatannya, harus dijadikan dasar yang tak bisa ditawar-tawar.*

*Penilaian superketat sebelum memperbolehkan daerah memasuki era normal baru bisa menjadi langkah awal yang baik*. _Namun, hal itu masih jauh dari cukup_. *Pemberlakuan kebijakan itu perlu dukungan masyarakat secara total karena merekalah yang akan menjalaninya nanti.*

 

Baca juga  Pdt Ferry Rompas (Ketua MD GPdI Jabar) : Kebersamaan Jajaran Pengurus MD dan Hikmat Tuhan, Bekal dalam Memajukan GPdI Jabar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here