Forum Energizing Indonesia Kembali Menggelar Seminar Nasional “Sustainable Energy for Indonesia”.

0
107
Mauren Toruan

Forum Energizing Indonesia Kembali Menggelar Seminar Nasional “Sustainable Energy for Indonesia”.

Jakarta, Suarakristen.com

Forum Energizing Indonesia Ikatan Alumni Departemen Teknik Gas Petro Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FEI ILUNI DTGPK FTUI) kembali menggelar Seminar Nasional ke-9 dengan tema yang diangkat adalah tentang ketahanan energi nasional berkelanjutan atau “Sustainable Energy for Indonesia”.

Seminar ini menghadirkani pembicara utama Menristek/Kepala BRIN Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro, Direktur utama Pertamina Nicke Widyawati,  Abdul Rochim selaku Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin RI, Ir. F.X. Sutijastoto, M.A. selaku Direktur Jenderal Energi, Jaka Purwanto selaku Head of Technical and Governmer, dan Dr. Hens Saputra selaku Direktur Pusat Teknologi Pengembangan BPPT.

Tampak hadir Paulus Tjakrawan Taningdjaja selaku Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia, Budi Mulyono selaku Vice Presiden Aneka EBT PT PLN, dan Dr. Bambang Heru Susanto selaku Sekretaris/Wakil Ketua.

Dalam kata sambutannya, Menristek/Kepala BRIN Prof. Bambang Brodjonegoro menyatakan, ‘Peran Pemerintah adalah Membangun kebijakan yang kondusif bagi pengembangan inovasi dan pemanfaatan hasil inovasi; Fasilitasi HKI, standar, sertifikasi, serta dukungan pendanaan dan insentif fiskal; Katalisator dan fasilitator dalam penguatan kerjasama Triple Helix; Memanfaatkan hasil litbang dan inovasi; Memberdayakan aset negara untuk mendukung penguatan inovasi secara berkelanjutan.

Sedangkan, Peran Industri dan Dunia Usaha adalah Pencipta pasar baru yang dapat menyerap produk dan jasa yang dihasilkan; Industry Anchor (memberikan order dan memanfaatkan hasil litbang dan inovasi); Memanfaatkan tenaga ahli dan trampil hasil pendidikan PT dan Lembaga Iptek; Memfasilitasi komunitas wirausaha sesuai dengan perkembangan dan tuntutan persaingan; dan Penyediaan sumberdaya dan SDM praktisi, untuk mendukung kegiatan akademik maupun praktek kewirausahaan.”

Tambah Bambang Brodjonegoro,”Selanjutnya, Peran Perguruan Tinggi dan Lembaga Iptek adalah Pusat unggulan dalam penguasaan lptek dan penyediaan (mobilitas) SDM ahli dan trampil; Penghasil teknologi dan inovasi; Fasilitasi teknis dan pendidikan dalam penguasaan dan pemanfaatan Iptek; Pendampingan proses perolehan HKI, standaridisasi, sertifikasi, dan pengujian produk,” ujar Menristek saat menyampaikan Keynote speech di hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. Rabu (04/03/20)

Baca juga  SELMA LUNCURKAN PROGRAM MEMBER REWARDS: HADIRKAN KEUNTUNGAN LEBIH UNTUK PELANGGAN SETIA

Menurut Menristek, Prioritas riset Nasional bidang energi meliputi Bahan Bakar Nabati dari Minyak Sawit, PLTP Skala Kecil TKDN Tinggi, Baterai Litihium untuk Penyimpanan Energi dan Charging Station dan Prototipe PLTN Skala Industri.

Selain itu, ungkapnya lagi,” Tujuan Riset adalah Mendirikan pabrik “stand alone” gasoline nabati 8 ton/jam dan diesel dan avtur nabati berkapasitas 20.000 barrel per hari berbahan baku minyak sawit dan minyak inti sawit.”

Sementara itu, Budi Mulyono selaku Vice Presiden Aneka EBT PT PLN menegaskan,” Konsep keberlanjutan energi (sustainable energy) berlaku untuk aspek jenis sumber
energi, diversifikasi rute pembangkitan energi, dan aspek keekonomian. Dalam hal ini Energi baru terbarukan berbasis minyak sawit sangat bergantung dari aspek keekonomian, sehingga pengurangan biaya dari bahan baku yang digunakan menjadi faktor penentu keberhasilan.

Penggunaan minyak sawit sebagai sumber pangan, bahan kimia, dan energi
terbarukan perlu disegregasi, dengan pertimbangan keamanan pangan/proses dan keekonomian. Minyak sawit untuk pangan harusnya menggunakan safety factor tertinggi, dan harusnya dipisahkan dengan minyak sawit untuk kebutuhan non pangan dan energi terbarukan.

Penggunaan Minyak nabati industri (MNI) menjadi salah satu alternatif untuk
menekan biaya produksi bahan bakar nabati, meningkatkan aspek keekonomian, dan menjalankan prinsip keberlanjutan, dengan tetap mengacu pada standar nasional yang berlaku.

Kepada awak media, Mauren Toruan, Ketua Panitia FEI ILUNI DTGPK FTUI mengatakan, Seminar Nasional ini digelar untuk yang ke-9 kalinya di tahun 2020, intinya seminar ini hanya sebuah kegiatan atau langkah kecil dari kami untuk berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara kita yang tercinta.

“Selanjutnya, kami akan buat rekomendasi dari poin-poin dari para pembicara tadi dan kemudian kami tambah analisa kami, lalu kami kirim ke pemerintah, masalahnya apakah dilaksanakan oleh pemerintah atau tidak, terserah mereka, yang penting ada masukkan dari kami, sebab Indonesia butuh energi yang sustainable,”Ungkap Mauren .

Baca juga  DPD RI Apresiasi Upaya Kemen PPPA Lindungi Anak di Tengah Pandemi

Sementara itu, Abdul Rochim, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin RI mengatakan, Konsep keberlanjutan energi (sustainable energy) berlaku untuk aspek jenis sumber energi, diversifikasi rute pembangkitan energi, dan aspek keekonomian. Dalam hal ini, Energi baru terbarukan berbasis minyak sawit sangat bergantung dari aspek keekonomian, sehingga pengurangan biaya dari bahan baku yang digunakan menjadi faktor penentu keberhasilan.

“Terkait hal diatas, Penggunaan minyak sawit sebagai sumber pangan, bahan kimia, dan energi terbarukan perlu disegregasi, dengan pertimbangan keamanan pangan/proses dan keekonomian. Minyak sawit untuk pangan harusnya menggunakan safety factor tertinggi, dan harusnya dipisahkan dengan minyak sawit untuk kebutuhan non pangan dan energi terbarukan,” ujarnya saat memaparkan makalahnya dengan tajuk “Fakta, Peluang dan Tantangan penyediaan dan pemanfaatan Biodiesel di Indonesia”.

Selain itu, ungkapnya, Penggunaan Minyak nabati industri (MNI) menjadi salah satu alternatif untuk menekan biaya produksi bahan bakar nabati, meningkatkan aspek keekonomian, dan menjalankan prinsip keberlanjutan, dengan tetap mengacu pada standar nasional yang berlaku.

Sesi berikutnya, Paulus Tjakrawan Taningdjaja, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia dalam paparannya menjelaskan, Ketahanan Energi dan terjangkau berkontribusi pada SDG’s dan dapat meningkatkan jumlah tenaga kerja serta dapat meningkatkan pendapatan petani.

“Disisi lain, dapat memenuhi NDC, terjadi perubahan Iklim serta kita akan menuju ke B40 dan seterusnya, dipastikan dapat mengurangi Defisit Perdagangan,” imbuhnya.

(Hotben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here