POLA/PRINSIP ORGANISASI BISNIS DAN KEPEMIMPINAN

0
66

Oleh: Drs. P.Adriyanto, MBA.

Ada beberapa prinsip organisasi bisnis dan kepemimpinan yang patut kita perhatikan karena mengalami perubahan yang drastis, bila kita ingin perusahaan tetap survive dan maju.

*I Transformasi bisnis pada Revolusi Industri tahap IV yang diwarnai oleh disruption.*

Berbicara tentang prinsip organisasi, kita tidak terlepas dari perubahan-perubahan yang terjadi seiring dengan perkembangan/transformasi teknologi informasi *(disruption)* yang begitu pesat.
Walaupun prinsip kepemimpinan begitu canggih, tidak akan banyak artinya bila tidak dilakukan transformasi organisasi. Ada empat kerangka dasar dari transformasi organisasi bisnis, yakni:
1 *Reframing*
*Analisis terhadap kondisi perusahaan

*Perubahan pola kerja, budaya perusahaan dan nilai-nilai sesuai tuntutan perubahan bisnis.

*Perubahan fundamental dalam hubungan antara organisasi dengan individu karyawan, para pelanggan dan para stakeholders lainnya.

*Penetapan target/sasaran yang reasonable.

*Restructuring*

* Struktur organisasi terlalu gemuk terutama dalam menghadapi era disruption. Struktur organisasi harus dirancang lebih datar, ramping, efisien sesuai dengan kebutuhan.

*Reposisi SDM dengan demikian dapat dilakukan dalam jumlah yang besar.

*Revitalizing*

*Perkuatan kembali sendi-sendi bisnis dengan berbagai peningkatan/improvement.

*Usahakan tetap ada pertumbuhan perusahaan.

*Renewing*

* Pembenahan policy, strategi, sistem, infrastruktur dan teknologi melalui program pemberdayaan SDM.

*SDM harus dituntut untuk lebih inovatif, kreatif dan produktif.

Hampir semua kegiatan bisnis mengalami pergeseran dari kegiatan konvensional ke sistem digital.
Terjadilah the great shift sebagai contoh Kodak yang merajai camera dan negatif filmnya, dipaksa minggir oleh munculnya kamera digital.

Perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam penerbitan ensiklopedia yang tercetak, telah digeser oleh Wikipedia yang gratis karena bisa disajikan secara online.
Di tanah air, industri transportasi umum yang dikuasai oleh Blue Bird, juga goyah dengan adanya perusahaan transportasi yang berbasis digital seperti Grab. Dunia retail juga mulai terusik dengan adanya retail berbasis online seperti *Buka Lapak* dan lain-lain.

Baca juga  Jayapura Berduka

Sayang banyak incumbent (perusahaan konvensional) yang masih meyakini bahwa lesunya pasar retail adalah karena daya beli masyarakat yang semakin menurun.
Disruption innovation ini diperkenalkan oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower dalam artikel *Disruption Technologies – Catching the Warning* di jurnal Harvard Business Review edisi Januari-Pebruari tahun 1995.

*Disruption innovation adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru yang sudah ada, dengan mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada tsb, dan pada akhirnya menggantikan teknologi yang sudah ada.*

Revolusi industri generasi IV ditandai dengan munculnya supercomputer, robot pintar, kendaran tanpa pengemudi yang didasarkan pada digital tachnologies. Revolusi generasi IV ini diintrodusir oleh Klaus Schwab Founder dan Executive Chairman dari World Economic Forum dalam bukunya *The Fourth Industrial Revolution*

McKensey & Co dalam laporan berjudul *An incumbent guide to digital discription* menyatakan ada 4 tahap penerapan digital technology:
1 Signal di tengah kebisingan (signals amidst the noise).
Pada tahun 1990, Polygram sebagai salah satu perusahaan recording terbesar, pada tahun 1998, perusahaan ini dijual ketika teknologi MP3 baru saja muncul. Investor surat kabar asal Norwegia Schibdted memanfaatkan internet untuk peluang bisnisnya.

2 Tahap kedua, perubahan dalam dunia bisnis tampak lebih jelas (change taken hold).
Pada tahap ini perubahan tampak lebih jelas secara teknologi, namun dampak terhadap kinerja keuangan masih kurang significant.
Pada tahun 2011, Netflix menggeser bisnisnya dari DVD menjadi streaming, sehingga terhindar dari nasib pesaing utamanya *blockbuster* yang bangkrut.

3 Tahap III yang merupakan transformasi yang tak terelakkan (The inevitable transformstion).
Pada tahap ini, model bisnis sudah tersusun dan terbukti lebih baik dari yang lama. Perusahaan-perusahaan imcumbent berusaha mengejar, tapi.kalah gesit dengan perusahaan start up.

Baca juga  Peduli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Tokuyo Tawarkan Treadmill Terintegrasi IoT

4 Tahap IV (Adaptasi pada keseimbangan baru (Adaptation to the new normal). Pada tahap ini perusahaan tidak dapat memilih-milih lagi kecuali mengikuti keseimbangan baru yakni disruption. Perusahaan-perusahaan incumbent hanya bisa bertahan untuk tetap hidup dalam tekanan kompetisi.

Disruption akan melanda semua sektor industri/bisnis baik perbankan, lawyer offices, pelabuhan laut, bandara, hospital, perusahaan retail berbasis kredit, financing company (perusahaan pembiayaan), sekolah/perguruan tinggi dan lain-lainmya.
Akankah perusahaan-perusahaan incumbent menunggu nasib tanpa harus mengikuti trend bisnis dengan basis digital technology ini??

II *Seorang pemimpin harus mampu menggerakkan perusahaan untuk menerapkan “operation excelence”* untuk memaksimalkan pelayanan bagi para pelanggan dengan baik. Perusahaan harus selalu berusaha untuk meminimalisasi
complaint dari para pelanggan terkait dengan delivery barang untuk lebih menjamin pencapaian target penjualan. Para pelanggan pasti mengharapkan tidak ada kerusakan dari produk yang dibelinya (zero defect).

Pengurangan tingkat kerusakan produk dalan proses produksi atau meniadakan kesalahan dalam pelayanan harus ditekan.
Berikut adalah *pengantar/pengenalan operational excellence*

*Value leadership (kepemimpinan yang berorientasi pada nilai)* adalah merupakan *mantra* bagi perusahaan yang menerapkan operational excelence. Perusahaan harus mengembangkan *winning formula* untuk mencapai pertumbuhan yang diharapkan.

Apakah operation excellence itu?
Banyak perusahaan yang menerapkan OPEX (Operational Excellence) tapi ditanya apa OPEX itu mereka jadi bingung.
Definisi OPEX yang paling sederhana adalah:

Setiap karyawan dapat melihat arus nilai (the flow of value) yang diarahkan kepada konsumen (lean flow) dan membetulkannya bila flow tersebut ada masalah, tanpa harus berkonsultasi dengan atasannya.

Lean adalah komponen yang besar dari OPEX dan merupakan cara yang terbaik untuk menghilangkan pemborosan. Oleh sebab itu, lean adalah merupakan salah satu cara untuk menciptakan flow dengan cara menghubungkan FIFO dan Kanban.
*Note:*
* Lean adalah praktek produksi yang mempertimbangkan segala pengeluaran untuk mendapatkan nilai ekonomis kepada pelanggan tanpa ada pemborosan.

Baca juga  PANGLIMA TNI MENERIMA AUDIENSI MPH PGI

*Lean manufacturing diadaptasi dari Toyota Product System, tujuannya adalah untuk memuaskan pelanggan dan meningkatkan profitabilitas perusahaan dengan menghilangkan aktivitas yang tidak perlu.

2 Suatu falsafah dari tempat kerja di mana pemecahan masalah,teamwork
dan leadership diarahkan untuk melaksanakan peningkatan (improvement) dalam suatu organisasi. .

Ada beberapa sistem yang lazim dipergunakan dalam OPEX yakni:
1.Shingo Prize yang.mempergunakan sepuluh prinsip.

2 Metode OKAPI.
Metode ini menggunakan KPI yang tergabung dalam
SMART.
Saya tidak mendalami sistem/ metode OPEX
terkecuali untuk maksud-maksud penerapan.

Perusahaan yang menerapkan OPEX di China antar lain adalah Alibaba dengan anak-anak perusahaannya. Ada beberapa perusahaan di Indonesia yang sedang dibimbing oleh Alibaba dalam penerapan OPEX.

Ada 9 perusahaan nasional yang dinilai paling efisien menjadiy perusahaa operation excellence yang dinilai oleh SSCX international, antara lain:

1 PT. Astra Daihatsu Motor
2 PT. Center Batteries Indonesia.
3 PT. Bukit Asam
4 Kalla Group
5 PT. Freeport Indonesia.

*Bersambung*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here