MENGHADAPI ERA PROTEKSIONISME AS, INDONESIA PERLU PEMIMPIN YANG PUNYA JURUS UPPERCUT

0
268

 

 

Khalayak dunia terus melihat bahwa Presiden Donald Trump tampak memilih China sebagai penjahat dalam tragedi besar ‘Trade Wars’ Amerika ini. Sedangkan Indonesia sebagai ‘pelanduk di tengah-tengah’ mesti menebalkan bulu kulit.

 

Pemerintah sekarang sepertinya mengantisipasi AS dengan strategi counter-blocking. Apabila Trump menghalangi minyak sawit RI masuk ke Amerika, maka hal ini akan diiringi dengan langkah pengurangan impor kedelai dan impor terigu dari Amerika Serikat. Secara de facto, Indonesia mengimpor kedelai, jagung, Boeing juga  gandum dari Amerika.

 

Amerika saat ini adalah negara tujuan ekspor terbesar untuk produk industri nasional dengan nilai sebesar 15 milyar Dollar AS per tahun. Akhir tahun lalu pemerintah AS menetapkan pajak impor anti dumping sebesar 50,71% terhadap produk biodiesel dari Indonesia lantaran subsidi pemerintah terhadap industri sawit.

 

Sikap stubborn Trump membawa dampak buruk yang tidak sedikit. Setidaknya bagi AS sendiri. Pertama-tama, ia terus bersikeras bahwa defisit perdagangan AS-China adalah $500 miliar—sepenuhnya sepertiga lebih besar dari angka sebenarnya, $375 miliar, yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan.

 

Kedua, data dari Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menunjukkan bahwa setidaknya 40 persen dari perang dagang Trump menyebabkan ketidakseimbangan bilateral yang mencerminkan efek rantai pasokan komponen dan bagian yang diproduksi di luar China, tetapi dirakit di China. Itu berarti, berdasarkan nilai tambah dari apa yang sebenarnya diproduksi di China—inti dari ancaman China yang dituduhkan—bahwa 47 persen bagian dari defisit AS yang dianggap akibat China, akan berkurang menjadi sekitar 28 persen.

 

Ya, ini tetap angka yang besar. Tetapi jauh di bawah klaim Presiden Trump dan angka resmi Departemen Perdagangan. Walau spesialisasi internasional tentang keunggulan komparatif menjelaskan hal ini, namun argumen itu tidak membawa banyak bobot di arena politik perang dagang Trump.

Baca juga  KPNEJ Hari Ini Resmi Mengirim Surat Pengusulan Nama Ir. H. Joko Widodo Ke Komite Nobel

 

Ketiga, defisit anggaran Trump akan membuat masalah perdagangan Amerika memburuk. Cadangan ekonomi AS yang rendah semakin buruk dengan adanya defisit perdagangan.

 

Dengan pemotongan pajak sebesar $1,5 triliun selama 10 tahun ke depan dan tambahan $300 miliar dalam peningkatan belanja yang ditambahkan oleh Kongres. Kecerobohan kongres ini tadinya ditujukan untuk mencegah penutupan pemerintahan Trump pada akhir tahun lalu. Kenyataannya, tingkat simpanan domestik bersih AS justru meluncur menuju nol—atau bahkan lebih rendah. Dampak buruk ini juga diwarnai oleh defisit perdagangan cenderung melebar tajam sebagai akibat dari perang dagang Trump.

 

Ke semua faktor di atas, mengarah pada efek domino yang tidak menyenangkan dari serangan China yakni  melebarnya defisit perdagangan. Atas dasar tarif Trump, defisit China sekarang akan didistribusikan ke 101 negara lain yang membentuk defisit perdagangan barang multilateral Amerika.

 

*Perlunya Pemimpin Berjurus Uppercut*

 

Menghadapi situasi global ini, tentu pemimpin baru Indonesia ke depan, mesti memiliki strategi ‘uppercut’. Mau tidak mau, pemimpin baru Indonesia di 2019 haruslah tipe pemimpin yang mendorong kalangan dunia saha guna melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor.

 

Di samping itu, di 2019 Indonesia memerlukan tipe  pemimpin yang sanggup menciptakan iklim investasi yang lebih baik. Targetnya, diharapkan lebih banyak  negara-negara lain yang menanamkan modal ke tanah air. *(IndoChanges)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here