Jangan Selalu Menoleh Ke Belakang

0
349

Oleh: P. Adriyanto

*_”Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”_*

*_Filipi 3: 13~14_*

Tiga puluh satu tahun yang lalu sampai 1992, saya mengajar para mahasiswa S2 dalam mata kuliah *Strategic Management*  yang menyangkut disiplin manajemen bisnis.

Salah satu aspek dari manajemen bisnis adalah perilaku (behavior) yang di sebut *inertia.*

*”Inertia adalah  ketidakmauan untuk melakukan suatu tindakan yang diperlukan untuk berubah.”*

Definisi lain adalah perasaan tidak mempunyai kekuatan atau keinginan yang diperlukan untuk bergerak dan berubah.

Sebagai akibat dari inertia ini, penderita *cenderung lebih suka melihat ke belakang,* mengenang kesuksesan yang pernah dicapainya, padahal kesuksesan kemarin tidak menjamin kesuksesan hari ini, kesuksesan di depan karena lingkungan selalu berubah semakin dinamis.

Dengan demikian, orang yang sering/suka menoleh ke belakang hanya lari di tempat alias tidak bisa maju. Pandangannya tidak pernah di arahkan ke depan untuk meraih tujuan yang lebih tinggi.

Contoh klasik dari inertia adalah kisah seorang perwira Spanyol – Hernando Cortez – yang pada tahun 1519 telah memimpin 100 pelaut dan 500 pasukan bersenjata untuk merebut Yukata peninsula (Mexico) yang merupakan sumber cadangan emas yang sangat besar dari suku Aztec. Setelah mendarat, Hernando memerintahkan untuk membakar habis semua kapal, sehingga mereka tidak bisa pulang dan berangan-angan/dihinggapi inertia untuk kembali ke Spanyol. Para pasukan dipaksa menghadapi situasi ke depan yakni mati atau memenangkan peperangan.

Betapapun besarnya dosa kita, jangan pernah ragu untuk bertobat yang berarti berubah 180 derajat dan tidak mengingat lagi dosa-dosa kita karena Tuhan dengan kasih karunia-Nya telah mengampuni kita.

Baca juga  FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

*”Marilah, baiklah kita berperkara:*

*-firman Tuhan-*

*Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”*

*Yesaya 1:18*

Tuhan menginginkan kita meninggalkan cara hidup kita yang lama yang terikat pada kedagingan dan tawaran duniawi, dan segera bertobat karena manusia lama kita telah mati disalibkan.

*”Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”*

*Roma 6:6*

Sebagai pengikut Kristus, kita tidak boleh pesimis, kita tidak boleh selalu menengok ke belakang. Mari kita berlomba untuk memenuhi panggilan surgawi dari Bapa.

Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here