PDT. WEINATA SAIRIN: *TUHAN, SELAMATKANLAH BANGSA KAMI*

0
371

 

 

“Quod Deus avertat.”
Semoga Tuhan mengelakkan (kami dari malapetaka)”.

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diciptakan secara khusus dan istimewa, maka manusia mengembangkan dan membina relasi dengan Allah secara kontinyu. Bentuk, wujud, durasi relasi itu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan ajaran agama masing-masing. Relasi manusia dengan Sang Khalik itu harus dilakukan agar manusia tetap hidup dalam koridor jalanNya dan bahkan mampu untuk mempraktikkan serta mengartikulasikan ajaran agama yang di anut dalam praksis kehidupan. Realitas empirik yang selalu dihadapi adalah bahwa manusia tidak mengartikulasikan ajaran agamanya dalam kehidupan praktis; sikap dan perbuatan manusia acapkali menampilkan hal yang paradoks dengan ajaran agama.

Salah satu bentuk relasi manusia dengan Allah adalah Doa. Agama-agama dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa telah memiliki aturan dan ketentuan masing masing tentang doa : caranya, kontennya, durasinya, waktu pelaksanaannya, dan sebagainya. Doa dilakukan oleh siapa pun, tanpa mempertimbangkan kesiapaan seseorang, apakah ia politisi, ilmuwan, birokrat, sopir, pilot, pegawai honorer, karyawan kontrak, penjaga toko, dan sebagainya.

Pierre Curie suami Marie Curie membungkukkan badannya diatas mikroskop di laboratorium. Tiba-tiba ada seorang siswa masuk. Oleh karena ia tidak melihat mikroskop itu ia menyangka ilmuwan itu sedang berdoa sehingga ia berjingkat-jingkat keluar ruangan. Curie kemudian membalikkan badan dan memanggilnya kembali. “Kukira anda sedang berdoa, Pak!” kata anak itu. Curie menjawab : “Memang nak!” Curie lalu kembali berbalik kearah mikroskopnya. Lalu ia menyatakan : “Semua ilmu pengetahuan, penelitian dan pelajaran adalah suatu _doa_ agar Tuhan mengungkapkan rahasia abadiNya kepada kita. Tuhan hanya akan mengungkapkannya bila manusia mencarinya dengan _hormat_. Tuhan tidak mengungkapkan semuanya dimasa lampau. Ia akan terus menerus mrngungkapkan diriNya, tanaman-tanamannya dan kebenaran-kebenaranNya bagi orang-orang yang mencarinya”.

Baca juga  PERTANDINGAN IMAN

Secara filosofis cukup dalam pemahaman dan pemaknaan Curie tentang doa; kita secara pribadi dalam perspektif agama dan pengalaman religius kita tentu saja memiliki pemahaman sendiri tentang doa.

Sebagai orang yang beragama, yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita selalu memohon segala sesuatu kepada Tuhan. Kita memohon untuk kehidupan pribadi, keluarga, bangsa dan negara termasuk didalamnya doa bagi para pemimpin bangsa kita. Doa itu kita panjatkan dalam doa-doa pribadi dan doa-doa bersama umat di rumah ibadah secara rutin.

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini menyatakan “semoga Tuhan mengelakkan kami dari malapetaka”. Permohonan ini tentu dilakukan dalam kondisi khusus tatkala sebuah komunitas berada dalam kondisi kritis, kondisi yang cenderung bisa menimbulkan malapetaka.

Komunitas keluarga, mayarakat, bangsa dan negara dalam sebuah dunia yang sedang berubah, bisa saja berhadapan dengan sebuah turbulensi : akibat perang, bencana alam, konflik, terorisme, dan sebagainya. Kondisi kritis seperti itu bisa saja pada titik tertentu berujung pada malapetaka, pada _chaos_ yang mengguncang kehidupan. Dalam konteks itulah doa/permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah, Khalik Semesta Alam menjadi sesuatu yang urgen dan bermakna. Permohonan seperti itu pada satu sisi merupakan sikap yang mengakui kekuatan, keberadaan Allah, pada sisi lain menujukkan hakikat manusia yang fana, yang hidup dalam ketaatan dan ketundukan kepada Allah (surrender to God ).

Kita hidup dalam era yang disebut “tahun politik” tatkala sebagai warga bangsa kita menggunakan hak pilih kita dibidang politik secara demokratis tanggal 27 Juni 2018 yang lalu dan yang kemudian akan dilanjutkan dengan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden pada tahun depan. Kita sebagai bangsa bukan hanya akan menghadapi turbulensi hebat dalam melaksanakan kegiatan itu, bahkan kita sebagai bangsa akan mengahadapi malapetaka, *kiamat kecil*, jika libido kekuasaan tidak bisa lagi terkontrol, ketika politik identitas, politik fulus, politik sara kita jadikan instrumen untuk memenangkan pertandingan, untuk memuaskan hasrat dan libido kekuasaan.

Baca juga  SUKACITA KARENA DIANGGAP LAYAK MENDERITA BAGI YESUS

Sebagai umat beragama yang taat kepada ajaran agama kita semuanya terpanggil untuk menjalankan aktivitas politik kita dengan tetap berpegang pada nilai-nilai agama, moral, etik dan mewujudkan cita-cita politik kita secara santun berkeadaban sesuai dengan ketentuan perundangan, Pancasila dan UUD NRI 1945. Serentak dengan itu kita memohon kiranya Tuhan memapah langkah kita untuk tetap berjalan pada koridor yang Ia ridhoi bahkan Ia bertindak proaktif mengelakkan kita dari malapetaka.

Selamat berjuang. God bless.

*Weinata Sairin*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here