PDT. WEINATA SAIRIN: *MATA YANG TERANG UNTUK MENJADI TERANG*

0
335

 

 

“Ilumina oculos meos, Domine: (Tuhan, terangilah mataku”.

 

Dalam menempuh perjalanan menyusuri sebuah ‘rimba raya kehidupan’ maka kita sangat memerlukan alat penerang, kita membutuhkan penerangan. Dengan alat penerangan itu maka jalan-jalan yang gelap, dan atau lembah kegelapan akan bisa dihadapi dengan lebih baik. Penerangan kita rasakan makna vitalnya mulai dari rumah tangga. Di rumah, jika listrik mati, akan banyak akibat yang mesti kita tanggung. Rumah menjadi gelap, seluruh aktivitas terhenti, pompa air tidak berfungsi demikian juga semua peralatan yang digerakkan dengan tenaga listrik. Terang, alat penerang dalam realitas konkret memang amat vital fungsinya dalam kehidupan umat manusia. ‘Terang’ dari pemaknaan kata, memang berkonotasi  positif, berbeda dari kata ‘gelap’ yang nuansanya tidak positif.

 

“Lampu P terang terus, terus terang” itu kata iklan sebuah produsen bohlam. Melalui permainan kata yang cantik, iklan itu ingin menyatakan bahwa bohlam yang ia produksi itu awet, bisa lama bertahan. Penggunaan kata “terang” dalam konteks kalimat “terang terus, terus terang” tidak saja, atraktif-puitis tetapi seakan menawarkan jaminan kenyamanan hidup bersama bohlam dengan merk dagang P.

 

Kata “terang”, yang kemudian melahirkan kata turunan : “terus-terang”, “terang-terangan” dan sebagainya memperlihatkan dimensi positif yang terkandung dalam kata “terang”. Terang selalu mengacu kepada hal-hal yang positif. Itu berbeda dengan kata “gelap” yang memang kandungan maknanya adalah sesuatu yang negatif. Hal itu makin diperjelas dengan beberapa kata turunan antara lain : pasar gelap, mata gelap, istri gelap, hubungan gelap, bank gelap.

 

Manusia bersyukur kepada Allah, Sang Maha Pencipta karena dianugahkan mata, sebagai panca indera yang amat vital bagi kehidupan umat manusia. Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya dipergunakan untuk memberikan pengertian visual.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

Menurut para ahli mata memiliki 4 fungsi utama : fungsi visual, fungsi memberi kode, fungsi keindahan, fungsi alat pembelajaran. Dengan mata, manusia bisa melihat dan secara visual menikmati benda-benda yang ada dihadapannya. Dalam interaksi antar manusia mata bisa difungsikan sebagai pemberi kode, yang mengekspresikan keinginannya kepada orang lain. Mata dapat juga dilihat dari perspektif estetis-keindahan sehingga mata juga membutuhkan sentuhan kosmetik yang memadai. Tentu fungsi mata dari segi pembelajaran amat penting oleh karena dengan bahan-bahan tertulis yang ada, penambahan ilmu pengetahuan akan selalu terbuka.

 

Hal yang sering dialami oleh kaum lanjut usia adakalah penyakit katarak. Penyakit ini di sebabkan karena lensa mata yang keruh dan cahaya tak bisa tembus. Konon per 2 juta penduduk Indonesia yang menderita katarak 1,5%  dan 50% penderita menyebabkan kebutaan. Indonesia berada pada peringkat pertama kasus kebutaan di Asia Tenggara.

 

Pepatah yang dikutip diawal tulisan ini adalah doa/permohonan: “Tuhan terangilah mataku”. Sebagai umat beragama kita memohon hal ini kepada Tuhan agar dengan mata yang terang, jelas, tidak minus, katarak atau glaucoma maka kita dapat melakukan hal-hal produktif yang tidak bertentangan dengan agama dan hukum.

 

Mata yang terang, jernih tidak buram membuat kita membaca ayat Kitab Suci dengan tepat, tidak salah, apalagi jika dilakukan di media televisi ; membuat kita tahu persis bahwa dokumen yang kita tandatangani itu tidak mengandung unsur gratifikasi; membuat kita cermat menghitung hasil pemungutan suara; membuat kita rajin melakukan ibadah dan mengambil bagian dalam aktivitas keagamaan; membuat kita jelas mana jalan lurus yang sesuai dengan perintah agama dan mana jalan berliku menuju ke timbunan sabu; membuat kita mampu membuat narasi-narasi cinta kasih dan bukan ujaran kebencian.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

Dalam doa-doa kita memang kita harus memohon agar mata kita terang, agar *mata hati* kita juga jernih dan agar kita makin memiliki wisdom/hikmat sehingga kita mampu memerankan diri sebagai imago dei dan khalifah Allah dibumi. Selain memohon doa kepada Tuhan agar mata kita dibuat menjadi terang, kita juga tidak menutup mata terhadap praktik diskriminasi dan pelanggaran HAM  yang masih terjadi, begal dan koruptor yang masih merajalela di bumi kita.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here