PEMELIHARAAN ALLAH YANG BERKELANJUTAN. 

0
553

 

 

Oleh: Pdt Martunas P. Manullang.

 

 

Selamat pagi dan salam damai sejahtera bagi kita semua.

 

PEMELIHARAAN ALLAH YANG BERKELANJUTAN.

 

Kejadian 9: 22: “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam”. Inilah ayat renungan hari ini.

 

Peristiwa air bah pada zaman Nuh menandakan penghukuman Allah bagi manusia. Melalui Nuh dan keturunannya, Allah melanjutkan anugerah-Nya bagi manusia, seluruh makhluk hidup dan alam semesta.

 

Setelah keluar dari bahtera, Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN dan nempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. TUHAN berkenan atas korban persembahan Nuh.

 

Menurut Kejadian 9:21, TUHAN, tidak lagi Ia mengutuk bumi karena dosa dan kejahatan manusia, dan tidak lagi membinasakan bumi seperti yang baru saja terjadi, mendatangkan air bah (bnd. Kej. 9:9-11). Dan sebagai gantinya, akan ada pengaturan musim sehingga manusia dapat menabur dan menuai untuk kebutuhan hidup yang menjadi jaminan akan kehidupannya di masa depan.

 

Dengan kata lain, TUHAN sendirilah yang akan menyelenggarakan pemeliharaan-Nya atas seluruh makhluk ciptaan-Nya di bumi ini.

 

Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa keberlangsungan hidup manusia dijamin oleh Allah, terpelihara, melalui persediaan hidup yang ada di bumi ini, termasuk melalui pengaturan iklimnya.

 

Apa artinya ini bagi kita sekarang ini?

 

Setidaknya kita catat di sini beberapa hal:

Pertama: Kita harus bersyukur dan berterimakasih kepada TUHAN yang menciptakan kita (membuat kita ada dan hidup) dan menyediakan apa yang perlu bagi kebutuhan hidup kita sehari-hari.

 

Kedua: Kita ditempatkan di dunia ini, agar kita pun mengikuti rencana TUHAN untuk memelihara dan mengusahakan apa yang ada di dunia ini demi kebaikan hidup atau kesejahteraan hidup kita.

Baca juga  TIADA KESIA-SIAAN DI DALAM KRISTUS

 

Ketiga:  Adalah tanggungjawab kita sebagai manusia untuk “mengelola” isi dunia ini, agar semuanya membawa tujuan dan kemuliaan bagi nama TUHAN, Pencipta kita.

 

Dalam hal ini, seperti pada ayat renungan sebelumnya, hubungan manusia (kita) dengan seluruh ciptaan lainnya mendapat penekanan penting. Ini sangat perlu, supaya kita sebagai manusia, jangan sampai kehilangan hikmat dalam “mengusahakan dan memelihara” alam ciptaan TUHAN ini, sehingga membawa ketidakbaikan atau bahkan kehancuran bagi manusia. Sebaliknya, kalau kita bersungguh-sungguh merawat bumi dan segala isinya, maka hal itu akan membawa berkat bagi kita semua.

 

Keempat: Dalam rasa syukur yang mendalam dan penuh sukacita, setiap hari, kita sebagai orang percaya patut menyampaikan pujian, misalnya, NKB 34: 1-3. SETIAMU, TUHANKU, TIADA BERTARA.

1. SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara, dikala suka di saat gelap. KasihMu, Allahku, tidak berubah, Kaulah Pelindung abadi tetap. SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku, setiap pagi bertambah jelas. Yang kuperlukan tetap Kauberikan, sehingga aku pun puas lelas.

2. Musim yang panas, penghujan, tuaian, surya rembulan di langit cerah. Bersama alam, memuji, bersaksi, akan setiaMu yang tak bersela. SetiaMu Tuhanku, mengharu hatiku, setiap pagi bertambah jelas. Yang kuperlukan tetap Kauberikan, sehingga aku pun puas lelas.

3. DamaiMu Kauberi, dan pengampunan, dan rasa kuatir pun hilang lenyap. Kar’na ‘ku tahu pada masa mendatang: Tuhan temanku di t’rang dan gelap. SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku, setiap pagi bertambah jelas. Yang kuperlukan tetap Kauberikan, sehingga aku pun puas lelas.

 

Marilah kita, setiap hari, memuji TUHAN atas pemeliharaan-Nya yang berkelanjutan.

 

Selamat beraktivitas di hari ini. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt Martunas P. Manullang.

Baca juga  Dimanakah Kepercayaanmu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here