Berpikr, Berbicara dan Bertindak Positif

0
1419

 

 

Oleh: P. Adriyanto

 

 

“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu”

*Mazmur 34:14*

 

 

Pikiran sangat menentukan cara berbicara dan bertindak. Bila pikiran kita dipenuhi oleh hal-hal yang negatif, maka apa yang kita ucapkan dan kita lakukan adalah juga berbau negatif. Tapi sebaliknya, bila kita selalu berpikir positif, maka ucapan dan tindakan kita juga positif.

Ada pemimpin perusahaan yang fokus pada ucapan-ucapan yang positif. Bila dalam suatu rapat, ada anak buahnya yang berbicara negatif, di samping ditegur juga didenda berupa sejumlah uang. Ucapan/ungkapan yang negatif itu contohnya berbau ragu-ragu dan pesimistik seperti: kira-kira; tidak mungkin berhasil; mungkin, dan lain-lain.

Namun, gerakan berucap kata-kata positif tersebut tidak berjalan efektif, karena di luar rapat ucapan dan tindakan-tindakan negatif sebagian para karyawan tidak berubah. Bahkan semakin banyak terjadi fraud yang menggerogoti asset perusahaan.

Kegagalan di atas disebabkan karena tidak pernah menyentuh pikiran mereka untuk diarahkan memiliki pikiran yang positif.

 

Ada konsultan-konsultan tertentu yang berspesialisasi di bidang Neuro Linguistic Program (NLP) untuk menciptakan pikiran-pikiran positif dengan berbagai metode modeling seperti, setiap  pagi hari berteriak-teriak *”saya bisa”.* Bila otak kita setiap hari diperintah bahwa saya bisa, maka akan berpengaruh positif terhadap tindakannya.

Contoh klasik adalah kisah seekor anak gajah yang dirantai pada tonggak. Dia hanya bisa berjalan berputar dalam radius 2 meter dari tonggak. Setelah anak gajah tersebut dewasa, dia tetap saja tidak mau meronta, padahal rantai tersebut sebenarnya dengan mudah dia putuskan termasuk menumbangkan tongggaknya.

[Note:

NLP adalah sebuah pendekatan komunikasi, pengembangan kepribadian dan psikoterapi yang dikembangkan oleh Richard B  dan . . .  Grider (maaf saya lupa nama lengkap mereka) di California pada tahun 1970 an]

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Sebaliknya ada bos yang seringkali mengumpat caci para karyawannya dengan kata-kata yang tidak patut (goblok, bangsat, makan gaji buta dan lain lain), diakhiri dengan kata-kata: ‘perusahaan ini bisa bangkrut’.

Caci maki tersebut secara psikologis bisa berpengaruh terhadap diri para karyawan sehingga menghambat mereka untuk meningkatkan kinerjanya. Kata-kata bahwa perusahaannya bisa bangkrut pada hakekatnya adalah mengutuk diri sendiri, sehingga cepat atau lambat akan menjadi kenyataan.

Sama halnya, banyak orang yang mengatakan ‘sudah nasib saya. . . ‘; ‘kalau saya di PHK, tidak jadi masalah; bila kapal yang saya tumpangi tenggelam, ya itu sudah suratan takdir.

 

Bagaimana sikap kita sebagai orang yang beriman ?

✓ Kita harus berdoa dan mohon kepada Tuhan agar kita selalu diberi  pikiran dan hati yang sama dengan pikiran dan hati Kristus.

 

✓ Dalam berbicara, kita harus berucap dengan penuh hikmat dan dengan lemah lembut.

*”Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.”*

*Amsal 31:26*

Ada seorang perempuan yang galaknya bukan main, kata-katanya selalu menyakiti hati orang, sehingga sampai tua tidak ada komentar laki-laki yang berminat membina hubungan intim dengannya.

Ada lagi perempuan yang temperamental dan akibatnya sering ditampar oleh suaminya.

*”Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api, ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat  di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyatakan oleh api neraka.”*

*Yakobus 3:5~6*

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Amsal  10:19 juga mengingatkan kita bahwa :

*”di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”*

Kita harus selalu memperhatikan bahasa kita.

 

Pikiran yang negatif cenderung mendorong orang untuk merasa paling benar, paling berkuasa sehingga tidak pernah sadar bahwa ucapan dan tindakan-tindakannya bisa mencelakakan orang lain dan diri sendiri.

Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here